Menuju KTT G20, Bali Menggeliat Lagi
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Menuju KTT G20, Bali Menggeliat Lagi

Bagi Presiden Jokowi, penunjukan Bali sebagai tuan rumah KTT G20 adalah tepat. Nusa Dua yang direncanakan menjadi tempat pelaksanaan KTT G20 memiliki reputasi dan pengalaman dalam penyelenggaraan gelaran bertaraf internasional.

Indonesia akan memimpin Presidensi G20 pada 2022. Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menekankan bahwa momentum ini harus dimanfaatkan untuk memberikan pelayanan dan menampilkan yang terbaik dari Indonesia selaku tuan rumah ajang internasional tersebut.

Hal ini disampaikan Presiden Jokowi usai meninjau sejumlah lokasi yang akan digunakan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada 2022, di Nusa Dua, Bali, beberapa waktu lalu.

“Kita juga harus dapat memanfaatkan pelaksanaan KTT G20 ini sebagai showcase mengenai kemampuan negara kita, Indonesia, dalam mengendalikan pandemi Covid-19, baik dari sisi kesehatan maupun dari sisi ekonomi,” ujarnya.

Kepala Negara menambahkan, dalam Presidensi G20 untuk pertama kalinya ini Indonesia juga akan menampilkan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai. Tak hanya itu, Indonesia juga akan menampilkan kekayaan budaya bangsa.
“Kita juga ingin menampilkan kemajuan-kemajuan Indonesia yang telah kita capai dan juga showcase untuk kekayaan budaya bangsa yang majemuk, yang sangat beragam, dan sekaligus kita juga ingin menunjukkan leadership Indonesia dalam Presidensi G20 nantinya,” tukas Jokowi.

Bagi Presiden, penunjukan Bali sebagai tuan rumah KTT G20 ini tepat. Nusa Dua yang direncanakan menjadi tempat pelaksanaan KTT G20 memiliki reputasi dan pengalaman dalam penyelenggaraan gelaran bertaraf internasional.

Oleh karena itu, Kepala Negara saat kunjungan kerja ke Bali, sekaligus meninjau kawasan The Nusa Dua yang memiliki Bali International Convention Center (BICC) serta sejumlah hotel kelas bintang lima.

Kawasan ini kerap dijadikan tuan rumah konferensi internasional. Perhelatan akbar dunia yang pernah dihelat di Nusa Dua adalah Annual Meeting IMF-World Bank Group pada 2018.

Meski agenda besar tersebut baru akan digelar pada November 2022, Kepala Negara juga meminta agar semua pihak mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga masyarakat Bali dapat terus bekerja sama dalam mengendalikan Covid-19 menjelang gelaran pertemuan G20 tersebut. Apalagi seluruh kepala negara dan pemerintah dari negara-negara G20 bakal hadir di Bali.

Sejauh ini, Bali mengalami penurunan kasus SARS COV2 yang signifikan. Hampir 95 persen menurun dari jumlah kasus pada Agustus 2021. Sedangkan, jumlah masyarakat Bali yang merima vaksinasi dosis pertama sudah mencapai 98 persen, dosis kedua sebanyak 80 persen.

Kondisi demikian membuat pemerintah setahap demi setahap melonggarkan pembatasan kegiatan di Pulau Dewata ini. Seperti keputusan membuka kembali penerbangan internasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, pada 14 Oktober 2021.

Pembukaan penerbangan internasional ini merupakan bagian dari upaya membuka kembali aktivitas ekonomi Bali. Pembukaan aktivitas ekonomi Bali ini sangatlah penting mengingat sumber utama penghasilan masyarakat berasal dari sektor pariwisata.

Pada masa pandemi ini, wisatawan yang datang ke Bali sangat menurun jumlahnya. Tercatat, jumlah wisatawan asing menurun hingga 97 persen, jumlah wisatawan nusantara menurun 27 persen, dan tingkat hunian kamar hotel di bawah 20 persen.

Selain itu, Presiden Jokowi meminta agar pengalaman-pengalaman negara lain dalam menghadapi Covid-19 turut dipelajari oleh pemerintah Bali dan para pelaku pariwisata setempat, termasuk pentingnya disiplin menjalankan protokol kesehatan.

Dalam kesempatan sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menambahkan, posisi Indonesia selaku Presidensi G20 diperkirakan dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar dibandingkan saat Indonesia menjadi tuan rumah International Monetary Fund (IMF)-World Bank Annual Meeting di Nusa Dua, Bali, tahun 2018 lalu.

Presidensi G20 Indonesia akan dimulai 1 Desember 2021 hingga 30 November 2022. Sejak forum ini dibentuk pada 1999, tongkat estafet presidensi ini merupakan kali pertama akan diterima oleh Indonesia. Dalam presidensi ini, Indonesia akan mengusung tema “Recover Together, Recover Stronger” atau “Pulih Bersama, Bangkit Bersama”.

“Diharapkan, secara agregat ini akan beberapa kali, sekitar 1,5–2 kali, daripada efek yang dicapai dalam pertemuan IMF-World Bank di 2018 yang lalu. Sebab pertemuan ini berjalan sekitar 150 pertemuan selama satu tahun atau selama 12 bulan,” ungkap Menko Airlangga.

Selain itu, tambah Airlangga, pertemuan ini juga dapat dijadikan momentum bagi Indonesia untuk menampilkan keberhasilan reformasi struktural berupa dikeluarkannya Undang-Undang Cipta Kerja dan Lembaga Pengelola Investasi (Sovereign Wealth Fund/SWF).

Sementara itu, dari aspek pembangunan sosial, Indonesia berpeluang untuk mendorong topik terkait dengan produksi dan distribusi vaksin.

Bali sudah berpengalaman memegang event-event kelas dunia. Mereka memiliki fasilitas, infrastruktur yang amat memadai. Kawasan The Nusa Dua memiliki kelengkapan akomodasi lebih dari 5.000 kamar hotel dan fasilitas meeting, incentive, convention, exhibition (MICE) yang dapat menampung lebih dari 20.000 delegasi.

BICC merupakan salah satu venue MICE terbesar dan terlengkap di Bali, yang menyediakan antara lain dua hall utama dengan kapasitas masing-masing 2.500 dan 1.500 peserta, area pameran seluas 2.700m2, auditorium dengan kapasitas 500 kursi dan built-in stage, serta hampir 26 ruang rapat. BICC juga terkoneksi dengan The Westin Resort Nusa Dua Bali yang menyediakan 433 kamar.

Gedung BICC memiliki lokasi yang strategis dengan jarak sekitar 30 kilometer dari Kota Denpasar dan 10 kilometer dari Bandara Internasional Ngurah Rai.

Saat ini, BICC tengah mempersiapkan tiga turnamen bulutangkis internasional. Adapun masing-masing jadwal pelaksanaaan dari ketiga turnamen tersebut dimulai dari Indonesia Masters yang berlangsung pada tanggal 16-21 November, dilanjut Indonesia Open pada 23–28 November, dan terakhir ditutup dengan BWF World Tour Finals 2021 pada tanggal 1–5 Desember.

Meski begitu, tiga turnamen badminton tersebut dilakukan dengan standar protokol kesehatan ketat. Pertama, pertandingan dilaksanakan tanpa penonton. Kedua, panitia turnamen menerapkan bubble system bagi seluruh atlet, ofisial, wasit, dan perangkat pertandingan dalam satu kawasan Nusa Dua.

Setidaknya event-event internasional yang digelar di Bali pada penghujung 2021 dapat menjadi pembuktian bagi dunia, wilayah ini sudah aman untuk dikunjungi. Sekaligus sebagai pemanasan menuju gelaran KTT G20. (indonesia.go.id)