Meramu Kurikulum: Kolaborasi Koki, Pembeli dan Manajer
KOMUNITAS PERISTIWA

Meramu Kurikulum: Kolaborasi Koki, Pembeli dan Manajer

*Oleh: Ahmad Hatip

Berbicara kurikulum di Indonesia seakan tidak ada habisnya. Kurikulum selalu diidentikkan dengan “ganti menteri ganti kurikulum”. Hal ini wajar, karena yang nampak dipermukaan adalah begitu adanya. Suksesi pergantian menteri pendidikan selalu diwarna dengan perubahan kurikulum.

Namun sejatinya, jika dikaji secara mendalam, pergantian kurikulum tidak semata karena pergantian menteri, tapi lebih kepada tuntutan dan perubahan jaman yang mengharuskan pemerintah untuk segera beradaptasi dengan keadaan. Contoh mutakhir adalah munculnya kurikulum merdeka belajar yang digaungkan oleh Mendikbud-Ristek terbaru Nadiem Makarim.

Sebelum muncul kurikulum merdeka belajar di Perguruan Tinggi, kurikulum masih begitu kaku dan terkungkung. Tuntutan pekerjaan yang membutuhkan akomodasi dari beberapa kompetensi mengharuskan keterpaduan integritas luaran yang dibutuhkan oleh dunia kerja.

Kurikulum merdeka belajar menjawab itu semua dengan memberi kebebasan yang tetap terkontrol untuk mengeksplor seluruh kompetensi mahasiswa. Pertanyaan besar berikutnya: Setelah kurikulum merdeka belajar, kurikulum apa yang akan muncul? Apakah ia akan berganti ketika menteri berikutnya juga berganti?

Pertanyaan-pertanyaan ini mucul di banyak kalangan sebagai bentuk kegelisahan masyarakat dalam perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia.

Melihat bagaimana kurikulum di Finlandia dikembangkan sehingga mampu membawa negara tersebut menjadi negara dengan pendidikan terbaik di dunia, maka proses perkembangan kurikulum di Indonesia memang benar-benar perlu di kaji dengan baik.

Banyak kalangan berpendapat bahwa mengapa pendidikan di Finlandia bisa unggul? Hal itu disebabkan karena wilayah Finlandia yang kecil, berpenduduk sekitar 5 juta jiwa saja serta negaranya sudah eksis ratusan tahun.

Sebaliknya, Negara Indonesia baru merdeka 76 tahun dan penduduknya lebih dari 270 juta jiwa. Negara Indonesia juga memiliki beragam suku, budaya, adat istiadat.

Perbedaan sejarah, ideologi, sosial, politik, budaya, agama serta kondisi geografis antara Finlandia dan Indonesia juga mempengaruhi sistem pendidikan di dua negara tersebut. Lantas bagaimana solusinya?

Belajar dari Koki
Keberhasilan sebuah restoran paling utama terletak pada koki yang handal. Bagaimana tidak, seorang koki harus mampu meramu masakan dengan baik sehingga “laris” di pasaran pembeli. Kurikulum juga harus belajar dari situ. Jika koki bisa diibaratkan dengan pendidik, maka dalam setiap pengembangan kurikulum, harus melibatkan pendidik.

Keterlibatan pendidik sangatlah penting. Pendidik adalah orang yang paling tahu dengan kondisi real di lapangan. Dalam sebuah restoran, koki (baca: pendidik) telah mampu membaca situasi yang dibutuhkan oleh pembeli. Koki yang setiap hari meramu, “menggodok” masakan menjadi makanan siap saji untuk di “beli” oleh dunia kerja.

Mengembangkan kurikulum tanpa melibatkan “koki” adalah sebuah kemustahilan. Dari seorang koki kita akan tahu masalah-masalah yang muncul dalam membuat makanan yang laris, tahan lama, dan berharga mahal.

Dari mereka beragam informasi dari berbagai daerah digodok untuk dijadikan pijakan dalam mengambil keputusan. Perbedaan suku, ras, budaya tentunya membawa masalah masing-masing dalam implementasi pendidikan selama ini.

Pentingnya adalah bagaimana semua itu bisa terakomodasi dalam wadah yang sama dan berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Salah satu solusi alternatif pengembangan kurikulum di Indonesia adalah memberikan kebebasan tapi tetap terkontrol kepada daerah untuk mengembangkan kurikulumnya sendiri.

Kebijakan pemerintah pusat cukup mengatur kebijakan umum yang wajib minimal ada dalam landasam kurikulum kita. Selebihnya adalah memberikan kesempatan seluas luasnya kepada daerah untuk mengembangkan kurikulum mereka sendiri dengan berlandaskan budaya dan kebutuhan wilayah setempat. Kebutuhan wilayah daerah Papua tentunya berbeda dengan wilayah Aceh.

Karena dari segi adat, budaya, agama dan potensi daerah kedua wilayah tersebut berbeda. Maka pengembangan kurikulum selayaknya menyesuaikan dengan potensi wilayah masing-masing. Sama seperti koki di atas.

Koki di wilayah A yang memiliki wilayah tandus, gersang dan panas tentunya produk makanan yang dihasilkan berbeda dengan produk makanan dari koki di wilayah sejuk atau dingin.

Dengan begitu setiap restoran akan tumbuh berkembang sesuai dengan jiwanya sendiri. Mereka akan selalu beradaptasi dengan keadaan sesuai dengan kebutuhan lingkungan sekitar.

Kebutuhan Pembeli
Kurikulum yang dibuat hasil akhirnya adalah untuk kebutuhkan dunia kerja. Dari dulu sejatinya hal ini telah menjadi pijakan sampai dengan munculnya tagline “link and match”. Namun, realita yang terjadi di lapangan masih sangat berbeda. Apa yang di racik di dalam masih belum cocok untuk kebutuhan di luar.

Kurikulum yang dijalankan di lembaga pendidikan belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Tuntutan sebuah lembaga pendidikan khususnya Perguruan Tinggi saat ini tidak lagi berupa output tapi berupa outcome. Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab Perguruan Tinggi dalam menciptakan calon tenaga kerja yang siap dibeli.

Untuk mengatasi masalah “missing” ini adalah keterlibatan calon pembeli untuk mendapatkan barang yang tepat sangatlah dibutuhkan. Hal yang perlu dilakukan adalah keterlibatan pembeli dalam hal pembuatan kurikulum, praktek lapangan, kerjasama, dan evaluasi.

Selain itu perlunya tracer studi yang rutin dari Perguruan Tinggi untuk melacak keberadaan lulusannya untuk mengetahui sejauh mana lulusannya telah mampu memenuhi kebutuhan pembeli yang dalam hal ini adalah perusahaan atau lembaga pendidikan.

Menjadi Manajer Handal
Setelah sang Koki mampu bekerja dengan baik dalam mengolah bahan walaupun seadanya dan sebagai input penting sebagai penyedia kebutuhan data dalam pengembangan kurikulum, maka keputusan akhir ada di tangan seorang manajer.

Seorang manajer (baca: Mendikbud-Ristek) harus peka terhadap berbagai perubahan jaman. Serta mampu membuat rencana strategi (renstra) kebutuhan pendidikan tahun-tahun mendatang agar makanan yang diproduksi tetap stabil dan “laris” oleh pembeli.

Ini tentunya tidak mudah karena para pesaing juga terus berlomba mengupgrade “jualannya” masing-masing untuk berdaptasi dengan kebutuhan masa depan. Renstra yang harus segera dibuat adalah renstra jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Renstra jangka pendek adalah kebutuhan mendesak yang harus segera terealisasi dalam pengembangan kurikulum sekarang.

Seorang manajer harus paham tuntutan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja dalam waktu dekat. Renstra jangka menengah adalah kebutuhan untuk 6-10 tahun. Pada tahapan ini harus dipikirkan pemantapan dari berbagai kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik dalam mengarungi dunia kerja.

Selain itu, pada tahapan ini juga sudah terplanningkan kebutuhan yang harus diakomodasi untuk renstra jangka panjang (11-15 tahun). Anak yang sekarang belajar di kelas 1 Sekolah Dasar butuh waktu sekitar 16 tahun lagi setelah mereka lulus Perguruan Tinggi untuk menyongsong dunia kerja.

Maka renstra pemetaan kompetensi yang dibutuhkan oleh mereka juga sudah harus dipikirkan mulai sekarang. Karena apa yang didapat sekarang belum tentu dibutuhkan lagi setelah 16 tahun mendatang.

Belajar dari hal ini sebenarnya Mendikbud_Ristekdikti beserta lembaganya tidak hanya sekedar bertanggung jawab pada masa periode jabatan tetapi juga memikirkan kebutuhan kurikulum masa depan yang harus disiapkan mulai sekarang.

Disinilah seorang manajer handal benar-benar dibutuhkan untuk bisa melihat masa depan dan menyiapkan kebutuhannya mulai sekarang. Kolaborasi antara koki yang cekatan, kebutuhan pembeli, dan kemampuan manajer yang handal dalam melihat masa depan menjadi harapan baru dalam pengembangan kurikulum pendidikan di Indonesia. Kurikulum akan selalu upgrade mengakomodasi ilmu dan pengetahuan yang selalu berkembang. (*)

*Penulis adalah mahasiswa Program Studi Doktor Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya dan menjabat sebagai Wakil Dekan 2 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dr. Soetomo Surabaya.