Dalam rangka memperingati 75th Proklamasi Kemerdekaan RI, pada akhir pekan lalu Institut Sarinah menyelenggarakan bedah buku “Ibu Bumi Dilarani” karya Dia Puspita berdasar riset tentang Gerakan Perempuan Kendeng di Rembang.
Webinar menghadirkan pembahas Ketua Departemen Ilmu Ekonomi FEB Unair Dr Muryani MSi MED, dosen FISIP UI Dr Nu Iman Subono MHum dan Ketua Institut Sarinah Eva K Sundari MA MDE.
Bedah buku yang dimoderatori Sovya Mardaningrum TA di DPR tersebut dibuka oleh tuan rumah Agnes Purbasari MA dosen UI yang juga memperkenalkan Institut Sarinah dalam sambutannya.
“Institut Sarinah adalah lembaga think tank mengembangkan pemikiran-pemikiran feminisme nasionalis Pancasila sekaligus melakukan pengorganisasian masyarakat untuk mendukung program-program Nation and Character Building,” jelas Agnes Purbasari.
Dia Puspita yang menggunakan teori gerakan sosial dan ekofeminisme dalam risetnya menyesalkan fakta hilangnya 143 sumber air akibat pembangunan pabrik semen di Rembang tersebut.
“Bukan saja tubuh para ibu yang terdampak oleh kerusakan alam tetapi rahim bumi juga terkoyak dan terhenti fungsinya memberi sumber kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup, yaitu air,” keluhnya prihatin.
Ketua Departemen Ilmu Ekonomi FEB Unair yang menjadi pembahas mengingatkan perlunya menggunakan pendekatan valuasi sumberdaya alam dalam pembangunan. “Moralitas baru Pembangunan harus bisa menyeimbangkan antara demi melayani kepentingan manusia dan kepentingan pelestarian alam,” saran Dr Muryani MSi MED.
Menguatkan saran tersebut, Ketua Institut Sarinah Eva Sundari mengingatkan prinsip jalan tengah dari Pancasila. Penghormatan pada keberagaman, memajukan musyawarah untuk mufakat, dan menempatkan keadilan sosial untuk semua, harus menjadi prinsip-prinsip dalam perencanaan pembangunan.
“Perwujudan Cinta Tanah Air itu pro pada lingkungan dan daya dukung bumi bukan terhenti pada egoisme manusia untuk mengeksploitasi alam demi akumulasi kapital,” tegas Eva Sundari yang juga anggota DPR 2014-2019 dari FPDIP tersebut.
Dr Nur Imam Subono MH, pengajar FISIP UI menyarankan penelitian gerakan sosial lebih lanjut yaitu dinamika para aktor pengambil kebijakan terkait kasus Kendeng.
“Transisi dari Orba ke Orde Reformasi bisa merupakan peluang bagi perubahan termasuk untuk koreksi perencanaan pembangunan yang tidak pro lingkungan dan mengorbankan rakyat miskin,” saran Bonny, panggilan akrabnya.
Menutup acara webinar, Agnes Purbasari menginformasikan serangkaian rencana kegiatan Institut Sarinah terkait webinar yaitu bedah buku, kursus Pancasila dan Feminisme, pelatihan analisa sosial dan fgd tematik terkait pemikiran ideologi feminis nasionalis. Kegiatan terbuka untuk umum termasuk untuk para pelajar SMA. (sak)

