Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal
  • Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan
  • Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»KOMUNITAS»Pancasila Dasar Moral Kemanusiaan yang Sempurna

Pancasila Dasar Moral Kemanusiaan yang Sempurna

KOMUNITAS redaksi25/11/2019 - 14:00 WIB

Yudi Latif PhD menyebutada PR besar bagi bangsa Indonesia dalam mengukuhkan dan menyuburkan ideologi Pancasila. Paparan itu ia sampaikan dalam diskusi bertema Membangun Manusia Indonesia dalam Perspektif Pancasila di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen Kampus C UNAIR pada Rabu (20/11).

Yudi menyebutkan ada banyak aspek yang perlu dipersiapkan. Membangun manusia layaknya menanam sebuah pohon dengan akar yang dalam dan kokoh, batang menjulang tinggi, serta buah yang ranum. Akar yang kokoh ibarat karakter kuat. Karakter, kata dia, adalah nilai yang tercetak di dalam diri manusia.

Penting untuk memiliki karakter Pancasila dalam diri setiap individu, namun nilai-nilai Pancasila yang ada saat ini masih gagal menjadi karakter karena belum tercetak dalam diri manusia.

“Jadi, ada masalah dalam cara kita mencetak Pancasila itu sendiri. Di Indonesia, korupsi disebut budaya, maka koruptor apakah disebut budayawan,” tandasnya.

Dia juga memaparkan bahwa manusia yang berkarakter adalah manusia yang memiliki ketangguhan dan ketangkasan. Karakter adalah suatu ciri khas dan tentunya berbeda.

“Indonesia sebuah negara kepulauan tentu berbeda dengan negara Arab yang dominan padang pasir. Sehingga elemen-elemen khas yang menghasilkan keislaman pun berbeda,” jelasnya.

Sedangkan batang pohon yang menjulang tinggi ibarat manusia sebagai long life learner. Mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu menyinggung bahwa seluruh agama sejatinya menekankan pentingnya belajar.

Namun, dia menyayangkan, banyak orang yang mempelajari kitab agama tidak dibarengi dengan minat baca yang tinggi. “Mestinya orang yang pintar membaca Al-Quran juga rajin membaca,” katanya.

Selain itu, lanjut Yudi, ranting yang tumbuh menjuntai ibarat tata kelola yang tersebar rata dan beraneka ragam. Yudi menjelaskan bahwa sangat diperlukan ruang-ruang perjumpaan terbuka agar saling mengenal dan bertukar pikiran.

Nyatanya Indonesia masih memiliki tata kelola yang lemah. “Contohnya saja orang Papua yang bertahun-tahun hidup di Papua, begitu kuliah di Surabaya, hidupnya juga di asrama Papua. Bagaimana mau membaur?” katanya.

Sedangkan, buah yang ranum pada pohon tadi mendefinisikan manusia sebagai individu yang kreatif. “Setiap orang sejatinya merupakan individu yang kreatif dengan keragaman dan potensi budaya masing-masing,” ujarnya.

Sebenarnya, imbuh Yudi, Pancasila merupakan dasar moral kemanusiaan yang sempurna. Dia menuturkan bahwa Pancasila berisi dasar kehidupan yang damai. “Lima sila Pancasila adalah dasar moral kemanusiaan. Jika salah satu hilang, maka hilang juga moral kemanusiaan kita,” pungkasnya. (ita)

Pancasila Yudi Latif
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

Comments are closed.

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove

21/07/2026 - 18:34 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.