Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kembali menggelar Pasar Murah Ramadhan di Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, Sabtu (28/2). Program ini menjadi bagian dari strategi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menjaga stabilitas harga bahan pokok sekaligus mengendalikan inflasi menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Dalam kegiatan tersebut, berbagai komoditas strategis dijual dengan harga lebih rendah dibandingkan harga pasar. Beras premium dipasarkan Rp14.000 per kilogram, beras medium Rp11.000 per kilogram, serta beras SPHP Rp11.000 per kilogram atau Rp55.000 per kemasan 5 kilogram. Daging ayam ras dijual Rp30.000 per ekor, sementara telur ayam ras Rp22.000 per kemasan.
Khofifah menyebut, intervensi harga ini dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat yang cenderung tertekan saat kebutuhan rumah tangga meningkat selama Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri. “Harapan kita bisa melakukan stabilisasi harga dan mendekatkan penjangkauan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa lokasi pasar murah dipilih di kawasan permukiman warga dan tidak berdekatan dengan pasar tradisional. Kebijakan tersebut bertujuan agar program ini tidak menjadi kompetitor pedagang pasar rakyat. “Pasar murah ini bukan pesaing pasar tradisional. Kita pastikan lebih dekat ke komunitas permukiman supaya keterjangkauannya maksimal,” tegasnya.
Selain beras dan protein hewani, sejumlah kebutuhan pokok lain juga dijual dengan harga terjangkau. Gula pasir dijual Rp14.000 per kilogram, Minyakita Rp13.000 per liter, tepung terigu Rp10.000 per kilogram, bawang putih Rp6.000 per 250 gram, bawang merah Rp7.000 per 250 gram, cabai rawit merah Rp4.000 per 100 gram, serta cabai merah besar Rp2.000 per 100 gram.
Tak hanya fokus pada stabilisasi harga, Pemprov Jatim juga memberikan bantuan sosial bagi kelompok rentan. Secara simbolis, Khofifah menyerahkan beras SPHP kemasan 5 kilogram secara gratis kepada warga lanjut usia di atas 60 tahun. Paket telur gratis juga diberikan kepada anak-anak dan ibu hamil guna mendukung pemenuhan gizi selama bulan puasa.
Menurut Khofifah, pasar murah tidak sekadar instrumen pengendalian harga, tetapi juga sarana pemberdayaan ekonomi lokal. Setiap kegiatan pasar murah selalu melibatkan produk UMKM setempat agar mendapat akses pasar yang lebih luas.
“Ini bagian dari konvergensi antara stabilisasi harga, pengendalian inflasi, dan penguatan UMKM lokal. Kita ingin masyarakat terbantu, sekaligus pelaku usaha kecil juga tumbuh,” pungkasnya. (tas)

