Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat sistem pengelolaan sampah dengan pendekatan yang lebih terukur dan berbasis data. Langkah ini dilakukan untuk memastikan efektivitas penanganan sampah, mulai dari tingkat Tempat Penampungan Sementara (TPS) hingga ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya soal pengangkutan, tetapi juga mencakup perencanaan kebutuhan fasilitas, termasuk jumlah tongbin di setiap TPS. Hal tersebut disampaikan saat melakukan inspeksi di TPS Prapen DKK.
Fokus pada Kebersihan dan Standar TPS
Dalam peninjauannya, Eri menekankan bahwa kondisi TPS harus tetap bersih, bahkan setelah sampah diangkut ke TPA. Ia memastikan bahwa proses pembersihan, seperti penyiraman area dan penggunaan eco enzyme untuk mengurangi bau, telah berjalan di lapangan.
Menurutnya, kebersihan TPS merupakan indikator penting dalam keberhasilan sistem pengelolaan sampah kota. Oleh karena itu, standar operasional harus dijalankan secara konsisten di seluruh wilayah.
Perhitungan Tongbin Harus Presisi
Selain aspek kebersihan, perhatian utama Pemkot kini tertuju pada kecukupan kapasitas tongbin di TPS. Eri meminta aparatur wilayah, khususnya camat dan lurah, untuk melakukan perhitungan kebutuhan secara detail berdasarkan jumlah timbulan sampah.
TPS Prapen DKK sendiri menampung sampah dari beberapa wilayah, seperti Kelurahan Margorejo dan Sidosermo. Kondisi tersebut menuntut adanya perhitungan yang akurat agar kapasitas yang tersedia mampu menampung volume sampah harian.
Pendekatan ini dilakukan dengan mengacu pada regulasi nasional yang menetapkan rata-rata timbulan sampah sebesar 0,6 kilogram per orang per hari. Data tersebut menjadi dasar untuk menghitung total produksi sampah di setiap wilayah, khususnya di tingkat Rukun Warga (RW).
Perencanaan Berbasis Data dan Koefisien Cadangan
Setelah jumlah timbulan sampah diketahui, kebutuhan tongbin dihitung dengan mempertimbangkan kapasitas masing-masing unit. Satu tongbin umumnya memiliki volume sekitar 250 liter, sehingga jumlah kebutuhan dapat dihitung secara matematis.
Namun, Eri menekankan pentingnya penambahan koefisien cadangan untuk mengantisipasi fluktuasi volume sampah di lapangan. Dengan demikian, tidak terjadi kelebihan muatan maupun kondisi tongbin yang terbuka akibat kapasitas yang kurang.
Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efisien dan terencana, sekaligus mendukung kinerja aparatur wilayah dalam menjaga kebersihan lingkungan.
DLH Diminta Lakukan Perhitungan Lebih Detail
Di tingkat teknis, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya diminta melakukan perhitungan yang lebih komprehensif, termasuk pada operasional armada pengangkut sampah.
Eri menekankan bahwa DLH harus memiliki data rinci terkait distribusi armada, jadwal operasional, hingga rute pengangkutan dari TPS ke TPA. Bahkan, identifikasi kendaraan hingga nomor pelat juga menjadi bagian dari sistem monitoring.
Pemanfaatan Teknologi GPS untuk Monitoring
Sebagai bagian dari modernisasi sistem, Pemkot Surabaya telah memanfaatkan teknologi Global Positioning System (GPS) untuk memantau pergerakan armada truk sampah secara real time.
Dengan sistem ini, pemerintah dapat mengetahui waktu tempuh, efisiensi rute, serta produktivitas armada dalam mengangkut sampah. Data tersebut menjadi dasar evaluasi untuk meningkatkan kinerja operasional di lapangan.
Dorong Sistem Terintegrasi dan Berkelanjutan
Upaya penataan ini menunjukkan komitmen Pemkot Surabaya dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dan berkelanjutan. Tidak hanya mengandalkan kerja lapangan, tetapi juga memperkuat aspek perencanaan dan pemanfaatan teknologi.
Peran camat dan lurah sebagai pengampu wilayah dinilai strategis dalam memastikan implementasi kebijakan berjalan efektif. Sementara itu, DLH menjadi ujung tombak dalam mengelola operasional secara teknis dan terukur.
Dengan langkah ini, Pemkot Surabaya berharap dapat menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih rapi, efisien, dan mampu menjawab tantangan perkotaan yang semakin kompleks. (tas)

