Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mengintensifkan upaya pengendalian banjir melalui penguatan sistem drainase yang terintegrasi. Pendekatan ini menitikberatkan pada konektivitas antar saluran air hingga ke rumah pompa sebagai jalur utama pembuangan air menuju laut.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menjelaskan bahwa strategi pengendalian banjir yang diterapkan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik seperti rumah pompa atau saluran baru. Lebih dari itu, efektivitas penanganan sangat bergantung pada bagaimana seluruh jaringan saluran air dapat terhubung secara menyeluruh, mulai dari tingkat permukiman hingga saluran utama.
Melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), Pemkot Surabaya melakukan penyambungan saluran-saluran kecil di kawasan perkampungan ke jaringan drainase yang lebih besar. Air yang terkumpul kemudian diarahkan ke rumah pompa untuk selanjutnya dibuang ke laut, sehingga genangan dapat diminimalisir dalam waktu lebih cepat.
Meski demikian, pelaksanaan di lapangan menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya adalah tingginya biaya operasional rumah pompa. Kebutuhan daya listrik yang besar menjadi faktor utama yang memengaruhi efisiensi operasional. Untuk itu, Pemkot Surabaya tengah menjalin koordinasi dengan PLN serta pemerintah pusat guna mencari solusi terkait kemungkinan keringanan tarif listrik bagi fasilitas publik tersebut.
Di sisi pengembangan infrastruktur, Pemkot juga merencanakan pembangunan rumah pompa baru di kawasan Simo Kalangan dan Tanjungsari. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas pengendalian air di titik-titik rawan genangan.
Selain itu, perhatian khusus juga diberikan pada kondisi saluran air di kawasan Kalianak. Eri Cahyadi mengungkapkan bahwa sungai di wilayah tersebut mengalami penyempitan signifikan. Dari lebar awal sekitar 30 meter, kini menyusut drastis menjadi sekitar 50 sentimeter akibat tekanan permukiman padat.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemkot Surabaya berupaya mengembalikan fungsi saluran melalui penertiban kawasan yang menghambat aliran air. Proses ini dilakukan dengan pendekatan dialogis kepada masyarakat, guna membangun pemahaman bersama terkait pentingnya menjaga fungsi infrastruktur drainase.
Eri menegaskan bahwa keberhasilan penanganan banjir tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat. Sinergi antara pemerintah dan warga dinilai menjadi faktor penting dalam menciptakan sistem pengelolaan air yang efektif dan berkelanjutan.
Dengan strategi yang terus diperkuat, Pemkot Surabaya berharap dapat menekan potensi banjir secara signifikan sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan bagi warganya. (tas)

