Penjaga Kecepatan dan Kegesitan Mandalika
PERISTIWA SENI BUDAYA

Penjaga Kecepatan dan Kegesitan Mandalika

Kesibukan sudah tampak sejak Minggu (13/03) dini hari sekitar pukul 04.45 Wita di sekitar pintu masuk utama menuju Sirkuit Internasional Jalan Raya Pertamina Mandalika di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Sebuah kendaraan berat jenis crane mulai menurunkan sabuk pengikat dan pengait. Tak jauh dari crane, ada sebuah truk trailer 18 roda terparkir.

Truk ini berjenis dolly dan biasa dipakai mengangkut alat-alat berat seperti crane, excavator, bulldozer, dan lainnya serta memiliki dek rendah, hanya setinggi 70 sentimeter dari permukaan tanah. Kali ini muatannya adalah sebuah kotak berbahan tripleks raksasa warna cokelat muda setinggi lima meter, panjang tujuh meter, dan lebar dua meter yang diselubungi terpal plastik biru.

Tak berapa lama, sekitar lima orang mulai naik ke dek truk. Mereka mulai membuka selubung terpal dan kotak tripleks tadi seiring mulai munculnya semburat oranye di langit pertanda sang mentari sebentar lagi akan terbit. Perlahan mulai tampak isi dari kotak tripleks tadi yaitu sebuah patung warna hijau berbentuk orang sedang naik motor lengkap dengan helmnya.

Kemudian, crane yang sudah bersiaga mulai menggerakkan “lengan bajanya” ke arah patung sambil menurunkan pengait dan sabuk pengikat. Beberapa orang memakai rompi kuning muda dan memakai helm turut memberi aba-aba agar pengait dan sabuk dari crane dapat semakin mendekat ke patung tadi.

Kelima orang yang tadi membuka selubung kembali sibuk. Kali ini mereka mengikatkan sabuk dan pengait ke sudut-sudut tertentu. Sepertinya mereka sudah paham dengan apa yang akan dikerjakan. Puluhan orang tanpa dikomando mulai mendekat, sebagian masih memakai pakaian olahraga.

Beberapa dari mereka mulai mengeluarkan telepon pintar dan memotret aktivitas menjelang pagi tersebut. Perlahan, patung berdimensi tinggi empat meter, lebar dua meter, dan panjang hampir tujuh meter mulai terangkat ke udara selama beberapa saat. Tepat pukul 07.00 Wita patung telah “mendarat” di ujung sebuah penopang atau platform berbahan baja sepanjang 20 meter dengan tinggi tiga meter dari permukaan tanah.

Platform berkelir abu-abu ini mampu menahan beban hingga delapan ton. Platform ini dibangun dengan model seperti terputus, seolah-olah dibelah oleh pintu masuk utama. Ujung platform satunya lagi berada di seberang dari patung ini “mendarat”. Sepintas, patung orang naik motor itu seperti ingin terbang.

Orang-orang pun langsung bertepuk tangan usai crane menuntaskan tugasnya mendaratkan si patung di tempatnya. Sepanjang hari, patung menjadi objek foto warga yang melintas. Menjelang sore, patung ini kembali diselubungi, kali ini menggunakan kain hitam oleh tiga orang.

Itulah Speed, patung logam yang dibuat oleh I Nyoman Nuarta. Ia adalah maestro patung kelas dunia asal Indonesia kelahiran Tabanan, 14 November 1951. Patung Speed ini dibuat Nuarta di studionya, NuArt Sculpture Park, kawasan Setraduta, Bandung, Jawa Barat.

Patung seberat hampir empat ton itu terinspirasi sosok Presiden Joko Widodo ketika naik motor mencoba lintasan Sirkuit Internasional Jalan Raya Pertamina Mandalika, 12 November 2021, berbarengan dengan peresmiannya.

Motor yang ditunggangi Presiden saat itu dibuat khusus (custom) oleh bengkel Katros Garage berjenis neo cafe racer yang bergaya klasik berbasis motor Kawasaki W175. Bagian lampu depannya diberi tudung membulat seperti helm, mengadopsi model serupa dari tunggangan para pebalap MotoGP era 1960-an. Nama Speed dipilih Nyoman Nuarta, arsitek Ibu Kota Negara Nusantara, karena sifat serba cepat dan gesit dari Presiden Jokowi.

Nyoman memimpin sendiri proses pemindahan Speed dari truk dolly hingga menempati posisi barunya di platform sepanjang 20 meter. Prosesi itu juga disaksikan oleh Gubernur NTB Zulkieflimansyah.

Patung tersebut dibuat oleh 10 pematung logam binaan Nuarta selama tiga minggu atau seminggu lebih cepat dari yang ditargetkan. Bahan dasar patung disesuaikan dengan kondisi tempat yang dekat dengan laut. Karena itu bahannya pun harus antikarat. Rangkanya terbuat dari stainless steel yang dibungkus tembaga, lalu dilapisi kuningan.

Tujuannya, agar sewaktu proses patina atau oksidasi oleh alam, maka patungnya akan mengeluarkan warna kehijauan sekaligus melindungi logamnya. “Melihat sejarah, bahan-bahan itu kecuali dirusak manusia, umurnya bisa mencapai ratusan tahun dan tidak perlu dirawat,” kata si pemahat seperti dikutip dari akun media sosialnya di Instagram.

Sebelum dikirim, dilakukan proses pengepakan pada 18 Februari 2022. Sehari kemudian, Speed dipindahkan ke truk dolly menggunakan crane. Proses pengiriman Speed dari Bandung menuju Mandalika melalui jalur darat, melintasi tol Trans Jawa hingga ke Banyuwangi, Jawa Timur. Dilanjutkan ke Pelabuhan Ketapang menggunakan Kapal Motor Jambo 10 menuju Pelabuhan Lembar, Lombok.

Proses menyeberang menuju Lombok pada 21 Februari 2022 sempat terkendala cuaca hujan. Butuh dua hari untuk mengarungi Selat Bali dan memasuki Selat Lombok sebelum akhirnya merapat di Lembar. Sehari kemudian, Speed sudah sampai di area parkir Sirkuit Mandalika.

Menurut juru bicara PT Siluet Nyoman Nuarta, Djuki Ridwan, pihaknya memikirkan benar aspek pemindahan patung dari tempat pembuatannya hingga menuju singgasana akhir di Mandalika. Patung sengaja didesain agar mudah untuk dibongkar pasang. Saat proses pengepakannya di Bandung disesuaikan dengan ketentuan tinggi maksimal armada yang dipakai untuk membawa patung.

Patung ini juga harus mampu dimuat ke dalam kapal feri yang memiliki batas ketinggian tertentu. Hal sama juga terjadi pada batas tinggi kendaraan dan barang yang diangkut dengan pintu tol. Karena itu, saat proses pengirimannya, Nyoman Nuarta membagi patung menjadi dua bagian sebelum disatukan di lokasi akhir, Mandalika.

Sebagai penciptanya, Nyoman berharap kehadiran Speed adalah hadiah bagi pariwisata di Mandalika serta bisa menjadi ikon baru sekitar kawasan selain sirkuitnya yang dinilai Dorna Sports sebagai yang paling indah di dunia. Ia ingin agar setiap turis yang berkunjung ke kawasan ekonomi khusus itu dapat berhenti sejenak di lokasi patung dan berfoto dengan latar Speed.

Semoga Speed juga dapat menjadi saksi bagi percepatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di sekitar Mandalika. Selain itu, juga dapat menjadi pemacu kegesitan warga sekitar dalam menangkap setiap peluang setelah kehadiran balap MotoGP di sirkuit yang memiliki panjang lintasan 4,31 kilometer tersebut. (indonesia.go.id)