Perluas Pengetahuan Seni Tari dan Karawitan
SENI BUDAYA

Perluas Pengetahuan Seni Tari dan Karawitan

Kesenian nusantara wajib hukumnya dilestarikan oleh penerus bangsa. Sejalan dengan hal itu, Unit Kegiatan Tari Karawitan (UKTK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengadakan kegiatan studi banding dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Vergilia Agam Saputri menjelaskan, kegiatan bernama UKTK Sinau ini didorong oleh keinginan untuk mengetahui kesenian di luar daerah Jawa Timur. Pasalnya, sejak awal berdiri hingga sekarang, UKTK ITS masih berkiblat pada kesenian Jawa Timur. “ISI Surakarta mengiblat pada Keraton Jawa Tengah, dari sinilah kita ingin belajar, berdiskusi dan berbagi” tutur ketua pelaksana ini.

Pada kesempatan ini, ISI Surakarta memberikan pelatihan kepada UKTK ITS berupa tari dan karawitan yang lebih mengarah pada kebudayaan Jawa Tengah. Tak lupa, perwakilan dari Himpunan Mahasiswa Tari ISI Surakarta menjelaskan bahwa Surakarta memiliki perbedaan gerakan dalam seni tari jika dibandingkan dengan daerah Jawa lainnya.

Seperti Tari Gambyong contohnya, tari yang dulunya digunakan untuk upacara ritual pertanian ini memiliki versi yang berbeda antar daerah. Untuk daerah Surakarta sendiri, salah satu gerakannya berupa memutar kepala sedangkan di daerah lainnya berupa memiringkan kepalanya. “Jadi, untuk di Surakarta sendiri, punya ciri khas nya sendiri,” terang Vergi.

Di sisi lain, Ketua HIMA Karawitan ISI Surakarta, Jayananta Eka Aditya menjelaskan pasal karawitan. Meski memiliki jenis musik yang sama, setiap daerah tetap memiliki ciri khasnya masing-masing. Bahkan, untuk Surakarta dan Yogyakarta yang lokasinya cukup dekat juga memiliki perbedaan. “Di Yogyakarta itu dulu pengrawitnya dari kalangan prajurit jadi suaranya lebih tegas,” jelas pria yang sering disapa Jaya ini.

Jaya juga memaparkan bahwa dalam karawitan sendiri terdapat etika-etika yang harus diperhatikan, seperti saat memainkan alat musik posisi duduk pengrawit haruslah dalam keadaan bersila. Juga pengrawit dilarang dengan keras untuk melangkahi alat-alat musik. “Kita belajar menghargai karya, alat-alat musik itu sendiri tidak dibuat dengan mudah,” tegasnya.

Di akhir, Vergi menghimbau bahwa kegiatan UKTK Sinau tidak dilaksanakan semata-mata untuk keperluan program kerja. Melainkan agar ISI Surakarta maupun UKTK ITS dapat saling belajar dan mengambil manfaatnya. “Semoga ilmu yang didapat dari ISI Surakarta bisa diterapkan teman-teman ke setiap divisi, jadi ditunggu implementasinya,” pungkasnya. (ita)