Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
  • Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia
  • DJP Jatim I Gandeng GP Ansor Perluas Edukasi Perpajakan dan Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak
  • Sinergi UNAIR dan ILO Siapkan Generasi Muda Hadapi Transisi Energi Berkeadilan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»TEKNOLOGI»Permainan Mitigasi Bencana ala Mahasiswa

Permainan Mitigasi Bencana ala Mahasiswa

TEKNOLOGI redaksi09/10/2017 - 16:00 WIB

Indonesia adalah negara yang rentan terhadap perubahan iklim. Dampak perubahan iklim biasanya berimplikasi langsung terhadap gangguan di sektor pertanian, kebakaran hutan dan sebagainya. Bahkan menimbulkan bencana alam.

Meski demikian, banyak dari masyarakat Indonesia, belum tanggap terhada situasi tersebut. Sehingga diperlukan strategi edukasi upaya adaptasi mitigasi bencana.

Hal ini mendorong mahasiswa Insititut Pertanian Bogor (IPB) untuk mengebangkan sebuah media edukasi terhadap bencana. Media ini dinamakan dengan COMET alias Eco Meteorology.

Mahasiswa IPB tersebut adalah Ilham Maulidin. Permainan COMET yang ia rancang dikhususkan bagi anak-anak usia dini yang bertempat di wilayah-wilayah rawan bencana.

Ide ini, ia tuangkan dalam bentuk esai dan diikutsertakan dalam ajang bergengsi Pekan Nasional Perubahan Iklim (PNPI) 2017 yang diadakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Dalam ajang tersebut, Ilham pun berhasil meraih juara pertama dalam lomba kategori esai PNPI 2017 beberapa waktu lalu.

“Strategi edukasi upaya adaptasi mitigasi bencana sangat diperlukan saat ini. Mengingat masih banyak masyarakat yang belum tanggap terhadap bencana. Media permainan ini dapat menjadi solusi dengan adanya edukasi terhadap lingkungan atmosfir dan bumi,” ujar Ilham.

Ilham mengurai pentingnya pengenalan mengenai perubahan iklim dan adanya pengetahuan tentang mitigasi dan adaptasi terhadap bencana. Selain itu, ia menjadikan pengetahuan tentang bencana tersebut menjadi sikap, perilaku dan budaya yang mengkaitkan kehidupannya dengan bencana. Langkah ini penting agar kapasitas masyarakat menghadapi bencana dapat meningkat.

Oleh karena itu, menurutnya, edukasi bencana menjadi penting, terutama di kawasan yang rentan terhadap bencana alam. Banyak aspek yang penting seputar kebencanaan.

Misalnya pengenalan tentang potensi bencana yang ada di sekitar, histori bencana yang pernah terjadi, bentuk antisipasi, meningkatkan kesadaran tanda-tanda bencana, dampak bencana bagi individu, keluarga, dan komunitas, cara penanganan dalam kondisi bencana, serta bagaimana cara menyelamatkan diri dari bencana.

COMET (Eco-Meteorology) dirancang dengan menarik dan edukatif. Sehingga hasil dari media permainan ini dapat menjadi edukasi dini tanggap bencana.

Permainan ini seperti permainan ular tangga, dengan tambahan inovasi dan edukasi di dalamnya. Dengan demikian diharapkan anak-anak di daerah rawan bencana dapat beradaptasi dan tanggap terhadap bencana yang disebabkan oleh lingkungan dan iklim.

Menurut Ilham, melalui pendidikan bencana, tidak berarti risiko dampak bencana dapat ditekan sehingga sama sekali tidak menimbulkan dampak. Namun ia berharap melalui pendidikan bencana, dapat mengurangi risiko bencana. (ist)

Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

ITS Kembangkan Bensin Sawit Ramah Lingkungan, Efisien dan Berpotensi Kurangi Ketergantungan BBM Impor

07/04/2026 - 21:11 WIB

Mahasiswa ITS Ciptakan Rompi Pintar SAFE, Tingkatkan Keselamatan Lansia Berbasis IoT dan Deep Learning

13/12/2025 - 00:24 WIB

Balapan Gokart Listrik di Sirkuit ITS

25/11/2025 - 13:00 WIB

ITS Sukses Mendominasi Gemastik 2025

05/11/2025 - 15:00 WIB

ITS Kembangkan Paving Anti-banjir

04/11/2025 - 12:00 WIB

Jam Tangan Daur Ulang Mahasiswa ITS

18/10/2025 - 13:00 WIB

Comments are closed.

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.