Resto Hasil Ganti Rugi Wadas
KOMUNITAS PERISTIWA

Resto Hasil Ganti Rugi Wadas

Proses pencairan uang ganti rugi bagi warga Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo terus berjalan. Saat ini tersisa 8 bidang dari total 617 bidang yang sudah diukur. Sebagian besar di antaranya, telah menerima uang ganti rugi dengan nominal fantastis.

Ada cerita menarik dari warga yang menerima uang ganti rugi tersebut. Ada yang kebingungan, ada yang dibelikan aset, hingga berinvestasi. Satu di antaranya adalah Fahrurozi Asabi.

Ia tidak menyebut detail berapa uang ganti rugi yang diterimanya. Fahrur hanya mengatakan, ia menerima uang di kisaran Rp1 miliar hingga Rp2 miliar. Mengetahui tanah miliknya terdampak proyek Bendungan Bener dan bakal mendapat ganti rugi, ia pun membuka restoran yang dinamainya Tandem Resto.

Restoran itu tepat berada di bawah Jembatan Sungai Kodil. Fahrurozi mengatakan, restoran dengan nuansa alam itu dibangunnya sekitar delapan bulan lalu.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menyempatkan diri berkunjung ke Tandem Resto milik Fahrur, Kamis (29/12) malam. Ganjar bertandang ke restoran itu didampingi Kepala BBWS Serayu Opak, Dwi Purwantoro.

“Ya ini dibangun delapan bulan lalu, waktu tahu kalau tanahnya mau dapat ganti rugi,” kata Fahrur.

Sedangkan Gubenur Ganjar mengaku senang dengan suasana kondusif di Desa Wadas. Ia mengungkapkan, kebanyakan warga yang awalnya menolak keras proyek tersebut, kini mulai melunak. Menurutnya, beberapa warga Wadas mengajak berdialog, dan sebagian lainnya bahkan sudah menyerahkan sertifikat lantaran komunikasi yang terjalin baik.

“Di antara beberapa kawan-kawan kemarin yang hadir dulu pernah bersitegang dengan siapapun ya. Tetapi hari ini dengan tenang, dengan halus, menyampaikan apa yang perlu diperhatikan, termasuk mitigasi dampak dari yang ada,” ujarnya.

Ganjar mengungkapkan, beberapa warga Wadas mengajukan syarat. Hal itu pun langsung disanggupinya. Kesanggupan serupa juga ditegaskan Kepala BBWS Serayu Opak, Dwi Purwantoro. Termasuk, menindaklanjuti permintaan kelompok tani yang merasa dirugikan, karena irigasinya tertutup dari jalan untuk lalu lintas kendaraan proyek. Ganjar mengapresiasi pihak BBWS-SO yang sigap meng-handle.

Di sisi lain, Gubernur Jateng dua periode itu menambahkan, sosialisasi kepada warga terkait penambangan, terus dilakukan. Dia tidak ingin ada pemahaman keliru yang membuat warga ketakutan.

“Warga bisa mengawasi. Saya juga menyampaikan sebelum penambangan dilakukan, terhadap warga pun sudah dilakukan pelatihan, sudah ada bantuan-bantuan, baik itu sifatnya fisik, pelatihan, maupun peralatan. Itu sudah dilakukan,” tuturnya.

Hal yang sama juga berlaku terkait proses uang ganti rugi. Ganjar memastikan prosesnya akan berjalan baik dan sesuai dengan kesepakatan. Cerita panjang persoalan Wadas, kata Ganjar, menemui babak baru di mana sejak awal diinginkannya berjalan seperti sekarang ini.

“Alhamdulillah. Saya menyampaikan terima kasih kepada warga yang sudah berkenan komunikasi terbuka, terharu juga saya. Yang dulu berbeda dan agak kenceng, Pak Ganjar mbok mampir ke rumah saya, Insyaallah saya ke sana,” tandasnya.

Di pertemuan itu, hadir pula di antaranya Ketua Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (Gempadewa), Insin Sutrisno. Ia menyerahkan berkas dari 34 bidang untuk diukur.

Kepala BPN Purworejo Andri Kristanto mengapresiasi kerelaan warga yang menyerahkan 34 bidangnya untuk diukur. Sebelumnya, tersisa 42 bidang yang belum setuju diukur. Namun dengan diserahkannya berkas 34 bidang untuk diukur, saat ini hanya tinggal delapan bidang tersisa. “Pengukuran 34 bidang itu akan kami lakukan pada 10-11 Januari (2023),” ucapnya. (hms)