Sertifikasi Halal Sulitkan Namira Ekspor
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Sertifikasi Halal Sulitkan Namira Ekspor

Obsesi CEO Namira Ecoprint Yayuk Eko Agustine ekspor produk UMKMnya ke luar negeri terkendala. Pasalnya, penerapan UU Nomor 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal yang diberlakukan mulai 2019 lalu dinilai memberatkan.

“Sebagai pelaku UMKM kami minta difasilitasi pemerintah, dalam hal ini Disperindag Kota. Kami mohon bantuannya,” kata Yayuk Eko Agustin usai menggelar Namira fashion on Tunjungan street di car free day jl Tunjungan Surabaya, Minggu (24/07).

Dijelaskan, pihaknya baru saja bertemu dengan pejabat Kemenetrian Luar Negeri dalam hal ini Direktorat Jenderal Amerika 2 yang membawahi Amerika Latin dan Karibia.

Dalam pertemuan itu disebutkan, jika ekspor produk batik dari Indonesia harus memiliki sertifikasi halal, seperti diamanatkan UU No 33 Tahun 2014 tersebut. Sebagai pelaku UMKM, Yayuk mengaku kesulitan dengan persyaratan tersebut.

Padahal, pihaknya juga sudah mengantongi sejumlah sertifikasi dari berbagai dinas. “Apa produk dari luar negeri yang masuk ke negara kita itu juga sudah dijamin halal? Lha kita ini kan tidak makan kain,” paparnya seraya tertawa.

Diakui atau tidak, produk UMKMya tidak kalah dengan produk luar negeri yang membanjiri Tanah Air. Terlebih dengan batik ecoprint yang diproduksinya.

Selain semua bahannya bersumber pada alam. Mulai dari motif batiknya, bahan yang dipakai adalah dedaunan dari berbagai jenis pohon. Tidak hanya itu. Tehnik pewarnaannyapun mengambil dari aneka tumbuhan yang ada di Indonesia. Mulai pohon pisang atau gedebok, buah pinang, secang, pohon jati dan sebagainya.

Sehingga, usai dipakai mewarnai, bahan baku itu bisa dipakai pupuk tanaman alias kompos. “Semua produk kita ramah lingkungan. Tidak ada yang bisa mencemari lingkungan. Jadi aman,” terangnya bersemangat.

Untuk itulah, mantan Asisten I Pemkot Surabaya itu meminta bantuan Disperindag maupun Pemerintah Kota menjembatani produk UMKM hingga bisa leluasa ekspor. Tanpa ada kendala yang apapun.

Namira Ecoprint sendiri sudah memproduksi ribuan jenis fashion. Mulai dari kain, busana jadi, tas, sepatu, sandal, dompet hingga aksesoris. Produk handmade itu juga sudah merambah kota-kota besar di Indonesia, meski Namira sendiri baru diproduksi pertama tahun 2019.

UMKM yang bermarkas di Wisma Kedungasem Indah, Rungkut Surabaya itu juga menjalin kerja-sama dengan PKK dan Karangtaruna dari berbagai kota, khususnya di Jawa Timur. (ita)