Seruan Jaga Persatuan Intelektual Jogja
KOMUNITAS PERISTIWA

Seruan Jaga Persatuan Intelektual Jogja

Berangkat dari keprihatinan akan kondisi pro dan kontra di tengah masyarakat di tanah air pasca pemilu, seratusan intelektual Jogjakarta menyerukan agar seluruh komponen bangsa tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Sementara kepada pihak yang berkontestasi dalam pemilu diharapkan mengedepankan sikap kenegarawanan dalam menerima hasil pemilu sebagai mekanisme tertinggi kedaulatan rakyat.

“Kita harapkan bisa menggunakan cara-cara damai dan prosedural sebagaimana diatur dalam udang-undang dalam merespons ketidakpuasan atas hasil pemilu,” kata Rektor UGM, Prof Ir Panut Mulyono MEng DEng saat menyampaikan deklarasi di Halaman Balairung Gedung Pusat UGM.

Para kontestan juga diharapkan mengawal pelaksanaan pemilu dan hasilnya dengan mematuhi konstitusi serta mampu menahan diri dari mengeluarkan penyataan-pernyataan yang bisa menimbulkan kontroversi di masyarakat.

“Bisa menahan diri dari mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang bisa memperkeruh suasana dan melahirkan kontroversi di masyarakat,” ujarnya.

Dikatakan Rektor UGM, bangsa Indonesia patut bersyukur karena pelaksanaan pemilu serentak telah berjalan aman, tertib, dan damai serta sesuai dengan prinsip pemilu yang demokratis, yakni jujur dan adil.

Namun demikian, dalam perkembangannya, hasil pemilu yang prosesnya berlangsung baik tersebut menimbulkan suasana pro dan kontra di tengah masyarakat akibat masing-masing pihak yang terlibat dalam konstestasi pemilu telah mengklaim kemenangan secara sepihak, lalu menuduh pihak lain berbuat curang.

“Ada upaya mendelegitimasi hasil pemilu dengan mempersoalkan kredibilitas penyelenggara pemilu,” katanya.

Seruan moral yang disampaikan oleh para intelektual ini dihadiri oleh akademisi dan pimpinan perguruan tinggi di DIY, salah satunya Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Prof Dr Edy Suandi Hamid.

Ia berharap seruan ini bisa menenangkan kondisi masyarakat atas pro dan kontra yang banyak bertebaran di media sosial.

“Seruan ini lebih bermakna untuk menenangkan masyarakat agar tetap beraktifitas seperti biasa, memang ada elit yang seolah menyerukan gerakan yang dikhawatirkan menimbulkan keresahan, permusuhan di masyarakat sehingga seruan ini bisa mengingatkan agar yang tidak puas harus menempuh jalur konstitusional,” katanya.

Sementara Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) DIY, Prof Dr Purwo Santoso, mengatakan pelaksanaan proses teknis pemilu sudah berlangsung dan masyarakat telah menggunakan hak pilihnya dengan baik, “Kepercayaan yang sudah diberikan kepada rakyat atas pilihannya patut dihormati,” katanya. (ist)