Tradisi “Megengan” Daring di Tulungagung
PERISTIWA SENI BUDAYA

Tradisi “Megengan” Daring di Tulungagung

Sekelompok warga perumahan di Kabupaten Tulungagung menggelar tradisi “megengan” secara daring menggunakan aplikasi zoom demi mematuhi aturan jarak sosial dan fisik selama masa pandemi COVID-19.

Pantauan ANTARA menyebutkan, meski dilaksanakan dengan bantuan teknologi virtual bertempat di sebuah bangunan mushala, rangkaian kegiatan budaya yang diambil dari nilai kearifan lokal Jawa itu terpantau berlangsung lancar dengan puluhan keluarga mengikuti dari rumah masing-masing.

Megengan daring itu diikuti lebih dari 30-an warga dari total 48 KK di lingkungan Perum Puri Jepun Permai II, Kelurahan Jepun, Kecamatan Tulungagung.

Tampak seorang ustadz, perangkat RT dengan latar belakang tumpeng di atas tumpukan sekitar 100-an kardus atau nasi kotak, beberapa aktivis mushala tampak sibuk melakukan pengambilan gambar dan mengatur jalannya ritual megengan secara daring itu.

“Dengan adanya pandemi COVID-19 ini ya kami harus jaga jarak sosial dan fisik maka semua kegiatan, terutama kegiatan keagamaan yang mengumpulkan banyak orang harus dihindari,” kata ustadz Ahmad Syauqi usai memimpin ritual megengan secara daring tersebut.

Menurut dia, terobosan acara keagamaan dengan metode daring ini baik agar tradisi keagamaan, jalinan ukhuwah dan syiar keagamaan dari pemuka agama kepada umat, serta nilai-nilai kearifan lokal sebagaimana terkandung dalam tradisi megengan, bisa tetap teraktualisasi baik.

Tradisinya terjaga lestari, ibadah dan doa bersama dengan kelompok jamaah maupun lingkungan tetap terlaksana, namun anjuran pemerintah untuk melakukan jaga jarak sosial dan fisik bisa tetap dipatuhi.

Ritual megengan sendiri dimaknai sebagai nilai kearifan lokal masyarakat Jawa yang menganut Islam. Penjelasan Ustadz Syauqi, megengan diambil dari bahasa Jawa “megeng” yang artinya menahan.

Ini merupakan suatu peringatan bahwa sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadan, bulan bagi umat Islam diwajibkan berpuasa, yaitu menahan untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan ibadah puasa tersebut.

“(Megengan) ini merupakan ciptaan para ulama dulu Jawa dulu, sebagai bentuk akulturasi dan asimilasi budaya Jawa dengan nilai-nilai dalam ajaran Islam. Budaya Jawa merupakan nilai-nilai yang diserap sisi positifnya, yaitu dalam bentuk kegiatan berkumpul bersama dalam menjaga kerukunan, kerja sama, komunikasi terjalin baik. Itu yang sekarang terus kita lestarikan,” kata ustadz Syauqi.

Megengan secara daring itu diikuti puluhan keluarga yang sudah terkonfirmasi bergabung dalam aplikasi zoom.

Mereka mengikuti rangkaian acara dan doa melalui perangkat android ataupun perangkat laptop yang sudah terpasang di rumah.

Usai doa, acara dilanjutkan dengan seremoni potong tumpeng dan pembagian seratusan nasi kotak kepada warga perumahan maupun warga kampung di sekitarnya.

Suwarno Harso Diyoso, tokoh RT 05/RW 05 Perum Puri Jepun Permai II mengatakan, megengan daring dilaksanakan sesuai kesepakatan warga untuk menjalankan tradisi menjelang Ramadan dengan tetap menjaga kebersihan dan mencegah risiko penularan wabah corona di lingkungan mereka.

Apalagi semangat jaga jarak sosial dan berbagai upaya pencegahan dini wabah COVID-19 telah mereka galakkan sejak awal pandemi. Mulai dengan mendirikan gerbang disinfektan/disinfeksi di pintu masuk perumahan pada awal-awal merebaknya kasus corona di Indonesia. Hingga penunjukan lingkungan perumahan itu sebagai percontohan bagi pelaksanaan program jaga ja rak sosial yang digalakkan pemerintah.

“Intinya kami tetap ingin menyalurkan sedekah makanan antarwarga maupun kepada warga sekitar perumahan sebagai bentuk penghormatan kita sebagai umat Islam dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan,” paparnya. (ant)