Kememhut bersama Institu Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan Teknologi Reproduksi Berbantu (Assisted Reproductive Technology) satwa liar. Kerja sama ini, diinisiasi melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) untuk Biobank satwa liat terancam punah.
Menhut Raja Juli Antoni menegaskan, pentingnya penguasaan teknologi modern untuk menyelamatkan satwa liar. Semua itu, demi memperkuat konservasi keanekaragaman hayati nasional.
“Karena sebelumnya sudah banyak kerja sama, memastikan bahwa satwa-satwa liar kita tidak akan punah dari negeri Indonesia. Sehingga nanti anak cucu kita masih tahu, masih bisa melihat secara langsung keanekaragaman hayati yang kita miliki,” ujar Menhut dalam keterangannya, Rabu (03/09).
Menhut mengharapkan, Biobank Center dapat menjadi pusat penelitian. Terutama, ketika adanya peneliti asing yang ingin meneliti kenanekarahaman hayati Indonesia.
“Sehingga, para peneliti asing yang datang ke Indonesia, bukan keanekaragaman hayati kita yang dibawa keluar untuk dipelajari. Kerja sama Kemenhut dan IPB ini menjadi langkah awal terbangunnya pusat riset dan inovasi terbesar di Indonesia dan di Asia Tenggara,” ucapnya.
Yang nantinya, kata Menhut, Biobank ini akan berstandar internasional dalam bidang konservasi satwa liar. “Menjadi pusat penelitian, nantinya betul-betul menjadi bahan bagi para peneliti dunia,” ucapnya.
Sementara, Rektor IPB Arif Satrya menjelaskan, pihaknya sudah banyak berkecimpung dengan satwa liar. Khususnya Badak Jawa dan Badak Sumatera, yaitu mencoba mengembangkan teknologi untuk konservasinya.
Teknologi konservasi ini berupa teknologi yang disebut dengan ART (Assisted Reproductive Technology). Atau teknologi reproduksi berbantu, dan Biobank untuk pengambilan dan penyimpanan materi genetik dari satwa liar.
“Biobank ini belum banyak di Indonesia. Jadi kita akan menjadi pusat untuk penyimpanan sumber daya genetik untuk satwa liar,” ujar Arif.
ART ini meliputi serangkaian teknologi reproduksi seperti inseminasi buatan, fertilisasi in vitro (IVF), transfer embrio, hingga kriopreservasi gamet dan embrio. Sementara itu, biobanking berfungsi sebagai penyimpanan material genetik.
Seperti salah satunya sperma, sel telur, embrio, bahkan jaringan. Yang dapat digunakan untuk mendukung keberlanjutan program konservasi di masa depan. (rri)

