Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Prof Dr Fauzan MPd menyoroti masih besarnya tantangan pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya pada aspek mutu, relevansi, dan akses. Ia menilai revitalisasi pendidikan tinggi menjadi langkah krusial agar perguruan tinggi mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan generasi muda.
Hal tersebut disampaikan Prof Fauzan di Surabaya, Jumat (6/2/2026). Ia menyebutkan bahwa hingga kini Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi secara nasional masih berada di kisaran 32 persen. Sementara di Jawa Timur, APK tercatat 31,8 persen, sedikit di bawah rata-rata nasional.
“Ini menunjukkan bahwa akses pendidikan tinggi masih menjadi pekerjaan besar yang harus kita selesaikan bersama,” katanya.
Menurut Prof Fauzan, upaya peningkatan APK selama ini banyak bertumpu pada berbagai skema beasiswa, seperti KIP Kuliah, beasiswa pemerintah pusat dan daerah, hingga dukungan filantropi. Namun, ia menilai pendekatan tersebut perlu lebih diarahkan untuk mendorong kelompok masyarakat yang belum memiliki akses maupun minat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Selain persoalan akses, perguruan tinggi juga dituntut lebih adaptif terhadap karakter dan kebutuhan Generasi Z. Generasi ini, menurutnya, mengharapkan pendidikan yang aplikatif, memiliki keterhubungan dengan dunia industri, memberikan kepastian kerja, serta fleksibel dan berkelanjutan.
“Perguruan tinggi harus mampu menawarkan keahlian spesifik dan relevan dengan kebutuhan zaman,” ujarnya.
Ia menambahkan, revitalisasi pendidikan tinggi harus diarahkan pada penguatan pengelolaan tridarma perguruan tinggi agar menghasilkan keunggulan dan kebaruan. Dengan demikian, perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat akademik, tetapi juga penggerak kesejahteraan masyarakat.
“Keunggulan, nilai manfaat, dan budaya kerja yang sehat menjadi kunci agar pendidikan tinggi Indonesia tetap relevan dan berdaya saing di masa depan,” pungkas Prof Fauzan. (tas)
