Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah
  • Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Living Lab Energi Terbarukan untuk Edukasi Green Energy
  • Pakar UNAIR: Pola Asuh Generasi Alpha Tak Cukup Hanya Membatasi Gawai
  • Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen
  • Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal
  • Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan
  • Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»KESEHATAN»Imunisasi Anak Indonesia Masih Diperlukan

Imunisasi Anak Indonesia Masih Diperlukan

KESEHATAN redaksi08/10/2022 - 14:00 WIB

Di akhir kampanye imunisasi nasional Indonesia minggu lalu, UNICEF dan WHO menyerukan urgensi lanjutan untuk mengatasi kemunduran dalam vaksinasi anak.

Kampanye imunisasi kejar nasional (atau biasa disebut dengan BIAN) bertujuan memvaksinasi sekitar 36,5 juta anak melalui satu dosis imunisasi campak-rubela untuk anak di bawah usia 15 tahun.

Target meliputi semua provinsi kecuali Bali dan Yogyakarta, di mana tingkat imunisasi telah memenuhi target nasional. Selain itu juga bertujuan memberikan imunisasi rutin pada balita di 34 provinsi.

Kampanye ditutup dengan hasil yang beragam minggu lalu, setelah mencapai hampir 70 persen dari target untuk imunisasi campak dan rubella, 54 persen untuk DPT-HB-Hib dan kurang dari 50 persen untuk polio. “Hasil dari upaya besar untuk mengejar ketertinggalan imunisasi anak ini sangat menggembirakan,” kata Perwakilan UNICEF Maniza Zaman, melalui rilis kepada media.

“Namun, kesenjangan dalam cakupan berarti jutaan anak masih kehilangan perlindungan yang menyelamatkan jiwa. Membalikkan penurunan yang disebabkan oleh pandemi akan membutuhkan lebih banyak upaya dan investasi berkelanjutan untuk mencegah skenario terburuk bagi kesehatan anak-anak,” imbuhnya.

Pandemi COVID-19 menjadi penyebab utama penurunan imunisasi anak di Indonesia sehingga menyebabkan terganggunya rantai pasok dan berkurangnya ketersediaan tenaga kesehatan. Keragu-raguan vaksin di antara orang tua dan pengasuh – terutama dengan beberapa suntikan yang diperlukan untuk vaksin rutin – juga mempengaruhi penerimaan vaksin, bersama dengan informasi yang salah dan hoak mengenai vaksin.

Anak-anak yang telah menerima vaksinasi campak dan rubella pertama turun dari 95 persen pada 2019 menjadi 87 persen pada 2021. Jumlah anak-anak ‘dosis nol’ – atau yang tidak menerima satu dosis vaksin pun terhadap difteri pertusis dan tetanus ( DPT) – naik signifikan dari 10 persen pada 2019 menjadi 26 persen selama periode yang sama. Hal ini menempatkan anak-anak pada risiko tertular berbagai penyakit yang dapat dicegah.

“Di wilayah WHO Asia Tenggara, Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang menunjukkan peningkatan besar dalam jumlah anak tanpa dosis vaksinasi selama beberapa tahun terakhir,” kata Perwakilan WHO untuk Indonesia, Dr N. Paranietharan.
“Kegiatan BIAN yang sedang berlangsung di Indonesia sangat terpuji, namun upaya tambahan yang signifikan diperlukan untuk mempercepat dan mengejar ketinggalan anak, dan mempertahankan cakupan imunisasi tingkat tinggi.”

Setelah COVID-19, dunia mengalami penurunan berkelanjutan terbesar dalam vaksinasi anak-anak dalam waktu sekitar 30 tahun. Secara global, pada tahun 2021 saja, 25 juta anak melewatkan satu atau lebih dosis vaksin DPT melalui imunisasi rutin. Sebagian besar anak-anak ini tinggal di India, Nigeria, Indonesia, Ethiopia, dan Filipina. (ita)

Imunisasi Anak Indonesia Masih Diperlukan
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah

22/07/2026 - 19:17 WIB

Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen

22/07/2026 - 18:48 WIB

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Comments are closed.

Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah

22/07/2026 - 19:17 WIB

Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Living Lab Energi Terbarukan untuk Edukasi Green Energy

22/07/2026 - 19:07 WIB

Pakar UNAIR: Pola Asuh Generasi Alpha Tak Cukup Hanya Membatasi Gawai

22/07/2026 - 18:57 WIB

Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen

22/07/2026 - 18:48 WIB

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.