Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah
  • Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Living Lab Energi Terbarukan untuk Edukasi Green Energy
  • Pakar UNAIR: Pola Asuh Generasi Alpha Tak Cukup Hanya Membatasi Gawai
  • Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen
  • Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal
  • Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan
  • Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»KESEHATAN»Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah

Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah

KESEHATAN Ita Nasyi’ah22/07/2026 - 19:17 WIB
Petugas kesehatan mengikuti lokakarya pencegahan Penyakit Zoonosis yang digelar Dinkes Surabaya bersama Kemenkes RI dan mitra lintas sektor.

Penyakit Zoonosis menjadi fokus Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Upaya pencegahan dilakukan melalui penguatan sistem surveilans, komunikasi risiko, edukasi masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor guna mencegah potensi wabah sejak dini.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Lokakarya Edukasi Pencegahan Penyakit Zoonosis yang diselenggarakan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya bersama Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas), serta Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (Pokja RCCE) pada 21–22 Juli 2026 di Puskesmas Medokan Ayu.

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai organisasi perangkat daerah (OPD), instansi kesehatan, organisasi kemasyarakatan, Tim Penggerak PKK, Palang Merah Indonesia (PMI), PD Pasar Surya, puskesmas, puskeswan, hingga insan media. Kolaborasi ini menjadi bagian dari strategi memperkuat komunikasi risiko, meningkatkan partisipasi masyarakat, serta membangun koordinasi lintas sektor dalam menghadapi ancaman Penyakit Zoonosis.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Surabaya, dr. Atiek Tri Arini, mengatakan bahwa kesiapsiagaan merupakan kunci utama agar Penyakit Zoonosis tidak berkembang menjadi wabah.

“Karena itu, Dinkes Surabaya terus memperkuat sistem surveilans, meningkatkan koordinasi dengan sektor kesehatan hewan dan lingkungan, serta mengintensifkan edukasi kepada masyarakat agar memahami risiko dan langkah pencegahan sejak dini,” kata dr. Atiek, Rabu (22/7/2026).

Salah satu fokus pengawasan Dinkes Surabaya adalah mengantisipasi peningkatan kasus leptospirosis pada musim hujan. Untuk itu, Dinkes secara rutin menerbitkan surat edaran kepada seluruh UPT, kecamatan, dan kelurahan mengenai kewaspadaan terhadap banjir beserta potensi penyakit yang dapat menyertainya.

Menurut dr. Atiek, langkah tersebut dibarengi dengan edukasi kepada masyarakat agar membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat. Warga diimbau menggunakan alas kaki saat beraktivitas di area tergenang banjir serta segera membersihkan diri setelah terpapar air hujan maupun genangan.

“Kebiasaan sederhana tetapi berdampak besar adalah mencuci tangan. Sosialisasi ini terus kami lakukan mulai dari anak usia PAUD, pelajar, hingga akademisi. Dari satu perilaku kecil yang dilakukan secara konsisten, dampaknya sangat besar untuk mencegah penularan penyakit,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa menjaga kebersihan lingkungan sama pentingnya dengan menjaga kebersihan diri. Sebab, tikus sebagai pembawa bakteri penyebab leptospirosis dapat berkembang biak di lingkungan yang kotor dan lembap.

“Tikus menyukai tempat yang kotor dan lembap. Jika urine tikus mengenai kulit yang terluka atau kondisi kulit tidak utuh, bakteri leptospirosis dapat masuk ke dalam tubuh,” jelasnya.

Karena itu, masyarakat diminta mengenali gejala awal leptospirosis, seperti demam tinggi dan nyeri di seluruh tubuh tanpa disertai batuk maupun pilek. Apabila kondisi berkembang hingga mengalami gangguan buang air kecil, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Selain leptospirosis, Dinkes Surabaya juga meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR). Meski Surabaya bukan merupakan wilayah endemis rabies, masyarakat tetap diminta tidak mengabaikan gigitan hewan penular dan segera mencari pertolongan medis.

“Edukasi yang berkelanjutan, deteksi dini, dan respons cepat menjadi kunci untuk mencegah potensi terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB),” tegasnya.

Upaya tersebut sejalan dengan data Kementerian Kesehatan yang menyebutkan sekitar 70 persen penyakit menular baru yang berpotensi menjadi wabah berasal dari hewan. Oleh karena itu, edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat terus diperkuat, mulai dari kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun, memakai alas kaki saat berada di area banjir, menghindari kontak dengan hewan sakit atau mati mendadak, hingga segera memeriksakan diri apabila mengalami gigitan hewan atau muncul gejala setelah terpapar faktor risiko.

Berdasarkan Data Surveilans Kesehatan Daerah (SKDR), Kota Surabaya tidak mencatat adanya suspek flu burung pada manusia maupun kasus antraks selama lima tahun terakhir, yakni sejak 2021 hingga Minggu ke-27 Tahun 2026. Meski demikian, tren suspek leptospirosis dan kasus GHPR masih berfluktuasi sehingga kewaspadaan terhadap Penyakit Zoonosis tetap diperkuat.

Pada 2025 tercatat sebanyak 25 suspek leptospirosis dan 40 kasus GHPR. Sementara hingga Minggu ke-27 Tahun 2026 telah dilaporkan 14 suspek leptospirosis dan 33 kasus GHPR.

“Meski demikian, masyarakat tidak perlu panik karena Surabaya bukan merupakan wilayah endemis rabies,” ungkap dr. Atiek.

Sementara itu, perwakilan Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya, drh. Wafiroh, menjelaskan bahwa sebagian besar Penyakit Zoonosis dapat dicegah apabila masyarakat memahami cara penularannya.

Menurutnya, rabies dapat menular melalui gigitan atau cakaran hewan seperti anjing, kucing, monyet, maupun kelelawar. Risiko penularannya dapat ditekan melalui vaksinasi hewan peliharaan secara rutin setiap tahun.

“Pada musim hujan, masyarakat juga diminta mewaspadai leptospirosis yang dapat menyebar melalui air yang terkontaminasi urine tikus. Penggunaan alas kaki tertutup saat beraktivitas di daerah tergenang menjadi salah satu langkah sederhana namun efektif untuk mencegah infeksi,” kata drh. Wafiroh.

Selain itu, masyarakat diimbau menghindari kontak dengan unggas yang sakit atau mati mendadak karena berpotensi menularkan flu burung. Daging dan telur unggas juga harus dipastikan dimasak hingga matang sebelum dikonsumsi.

“Untuk mencegah penularan antraks, warga diimbau tidak menyembelih maupun mengonsumsi ternak yang sakit atau mati mendadak, serta segera melaporkan temuan tersebut kepada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian agar dapat ditangani sesuai prosedur,” terangnya.

Program Manager Portkesmas, dr. Basra Ahmad Amru, mengatakan bahwa penguatan koordinasi lintas sektor di tingkat daerah merupakan bagian penting dalam strategi nasional menghadapi ancaman Penyakit Zoonosis. Selain Surabaya, kegiatan serupa juga dilaksanakan di Kabupaten Bandung Barat, Kota Bogor, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Malang.

“Jangan sampai ketika wabah penyakit muncul, kita tidak siap. Koordinasi lintas sektor di tingkat daerah menjadi fondasi agar upaya pencegahan dan penanganan wabah dapat berjalan lebih cepat, terintegrasi, dan efektif,” kata dr. Basra.

Ketua Pokja Risk Communication and Community Engagement (RCCE), Rizky Ika Syafitri, menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian Penyakit Zoonosis tidak hanya ditentukan oleh layanan kesehatan, tetapi juga kualitas informasi yang diterima masyarakat.

“Masyarakat berhak mendapatkan informasi yang benar dan dapat menyelamatkan jiwa. Informasi yang akurat, menarik, dan mudah dipahami akan mendorong masyarakat menerapkan perilaku pencegahan. Karena itu, selain tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan media memiliki peran penting memastikan pesan kesehatan menjangkau seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya. (ita)

Dinkes Surabaya Flu Burung GHPR Kemenkes RI Leptospirosis Pemkot Surabaya penyakit zoonosis Portkesmas Rabies RCCE
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Living Lab Energi Terbarukan untuk Edukasi Green Energy

22/07/2026 - 19:07 WIB

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Wali Kota Eri Cahyadi Minta Camat dan Lurah Bikin Hotline untuk Atasi Masalah Warga

16/07/2026 - 20:57 WIB

Comments are closed.

Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah

22/07/2026 - 19:17 WIB

Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Living Lab Energi Terbarukan untuk Edukasi Green Energy

22/07/2026 - 19:07 WIB

Pakar UNAIR: Pola Asuh Generasi Alpha Tak Cukup Hanya Membatasi Gawai

22/07/2026 - 18:57 WIB

Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen

22/07/2026 - 18:48 WIB

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.