Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Perlindungan Anak Jadi Prioritas, Surabaya Perkuat Kolaborasi dari Tingkat Keluarga hingga Lingkungan RT
  • Kalahkan Ratusan Startup Dunia, SPYRAGO UNAIR Bawa Pulang Penghargaan Sustainability dan Pendanaan Internasional
  • Jawa Timur Raih Penghargaan Kemendagri atas Penurunan Pengangguran, Bukti Efektivitas Link and Match Pendidikan dan Industri
  • Khofifah Paparkan Kekuatan Ekosistem Halal Jawa Timur, Siap Perluas Daya Saing ke Pasar Global
  • BEI Gandeng Maskapai Nasional, Dorong Awak Penerbangan Melek Investasi dan Pasar Modal
  • Dishub Evaluasi Sopir Suroboyo Bus dan Wira-Wiri, Siapkan Sistem Penilaian Penumpang
  • Cegah Manipulasi Domisili Saat SPMB 2026/2027, Pemkot Surabaya Optimalkan Verifikasi melalui Cek In Warga
  • Pemkot Surabaya dan Komdigi Uji Coba Perlinsos Digital, Dorong Penyaluran Bansos Lebih Tepat Sasaran
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»KOMUNITAS»Kebiasaan Remeh Hasilkan Karya

Kebiasaan Remeh Hasilkan Karya

KOMUNITAS redaksi26/03/2024 - 15:00 WIB

Di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan, kampung kota menjadi tempat yang layak untuk mencari modernitas baru yang berbeda dengan budaya mainstream/pop.

Lokakarya “Ritus Liyan” berusaha menyampaikan hal itu. Selama empat hari, terhitung mulai Selasa hingga Jumat (19-22/03) di Kampung Plampitan, Kelurahan Peneleh, Kota Surabaya.

Airlangga Institute for Indian Ocean Crossroad (AIIOC) menyelenggarakan lokakarya itu untuk menemukan kreativitas, mendekolonisasi budaya, dan menghasilkan karya. Hasil karya akan dipamerkan pada Mei mendatang di Kampung Plampitan.

Aarti Kawlra selaku direktur Akademis Humanities Across Borders; Bintang C Putra selaku direktur Operation for Habitat Studies; serta Program Manager Anitha Silvia turut memandu jalannya acara.

“Ritus sering diartikan sebagai perayaan hal besar yang terjadi dalam hidup kita. Namun, kebiasaan-kebiasaan kita sehari-hari dianggap sebagai hal yang remeh. Sehingga menjauhkan kita dari makna mendalam dalam tindakan kita,” jelas Bintang.

Di Kampung Plampitan, terdapat satu produk unggulan, yakni Batik Peneleh. Nama Peneleh bukan hanya diambil dari nama perkampungan, namun juga berasal dari kata penilih yang memiliki arti yang terpilih atau unggul. Motif batik Peneleh bervariasi dari logo khas Peneleh hingga motif sungai.

Motif sungai, alih-alih berwarna biru, Batik Peneleh berwarna hijau. Suminah, mantan ketua RW II Plampitan serta penggerak Batik Peneleh, menyampaikan bahwa warna hijau dipilih karena menyesuaikan dengan realita saat ini. Di mana air sungai berwarna hijau.

“Kok warnanya hijau? Ya realistis dan kontemporer aja. Kan memang faktanya begitu,” ungkapnya.

Realistis dan kontemporer sering dilupakan saat membuat suatu karya seni. Dari kasus di atas, membuktikan bahwa hal yang remeh seperti sungai yang sering kita lihat apa adanya masih bisa menjadi sebuah karya seni tanpa perlu melebih-lebihkan.

Di sisi lain, Aarti mengatakan bahwa banyak penelitian-penelitian budaya yang dilakukan antropolog itu tidak melihat hal yang remeh. Padahal, hal yang remeh itu dapat menjadi sebuah karya yang unik.

“Contohnya ketika mereka (antropolog, Red) meneliti tentang petani. Yang mereka pilih adalah petani beras, petani gandum, dan sejenisnya. Ada petani indigo yang bisa diteliti, namun mereka tidak memilihnya karena mereka luput dari fokus pandangan akademisi-akademisi itu,” ujarnya.

Aarti berharap lokakarya tersebut dapat menghasilkan karya yang tidak mainstream, karya yang unik, yang merepresentasikan kearifan lokal Kampung Plampitan ke dalam karya seni para peserta.

Lokakarya empat hari itu merupakan awal untuk pembuatan proyek para peserta. Proyek dapat berupa foto, video, gambar, suara, puisi, mural, seni pertunjukan, dan lainnya. Peserta dapat mengerjakan proyek mereka selama 6 minggu, disertai diskusi bersama sekali setiap minggunya dan dipamerkan pada eksibisi (24-31/05) di Kampung Plampitan. (ita)

Airlangga Institute for Indian Ocean Crossroad
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Perlindungan Anak Jadi Prioritas, Surabaya Perkuat Kolaborasi dari Tingkat Keluarga hingga Lingkungan RT

05/06/2026 - 14:29 WIB

Kalahkan Ratusan Startup Dunia, SPYRAGO UNAIR Bawa Pulang Penghargaan Sustainability dan Pendanaan Internasional

05/06/2026 - 14:20 WIB

Jawa Timur Raih Penghargaan Kemendagri atas Penurunan Pengangguran, Bukti Efektivitas Link and Match Pendidikan dan Industri

05/06/2026 - 14:02 WIB

Khofifah Paparkan Kekuatan Ekosistem Halal Jawa Timur, Siap Perluas Daya Saing ke Pasar Global

05/06/2026 - 13:53 WIB

BEI Gandeng Maskapai Nasional, Dorong Awak Penerbangan Melek Investasi dan Pasar Modal

05/06/2026 - 13:39 WIB

Dishub Evaluasi Sopir Suroboyo Bus dan Wira-Wiri, Siapkan Sistem Penilaian Penumpang

04/06/2026 - 19:07 WIB

Comments are closed.

Perlindungan Anak Jadi Prioritas, Surabaya Perkuat Kolaborasi dari Tingkat Keluarga hingga Lingkungan RT

05/06/2026 - 14:29 WIB

Kalahkan Ratusan Startup Dunia, SPYRAGO UNAIR Bawa Pulang Penghargaan Sustainability dan Pendanaan Internasional

05/06/2026 - 14:20 WIB

Jawa Timur Raih Penghargaan Kemendagri atas Penurunan Pengangguran, Bukti Efektivitas Link and Match Pendidikan dan Industri

05/06/2026 - 14:02 WIB

Khofifah Paparkan Kekuatan Ekosistem Halal Jawa Timur, Siap Perluas Daya Saing ke Pasar Global

05/06/2026 - 13:53 WIB

BEI Gandeng Maskapai Nasional, Dorong Awak Penerbangan Melek Investasi dan Pasar Modal

05/06/2026 - 13:39 WIB

Dishub Evaluasi Sopir Suroboyo Bus dan Wira-Wiri, Siapkan Sistem Penilaian Penumpang

04/06/2026 - 19:07 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.