Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah
  • Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Living Lab Energi Terbarukan untuk Edukasi Green Energy
  • Pakar UNAIR: Pola Asuh Generasi Alpha Tak Cukup Hanya Membatasi Gawai
  • Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen
  • Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal
  • Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan
  • Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»KOMUNITAS»Kebiasaan Remeh Hasilkan Karya

Kebiasaan Remeh Hasilkan Karya

KOMUNITAS redaksi26/03/2024 - 15:00 WIB

Di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan, kampung kota menjadi tempat yang layak untuk mencari modernitas baru yang berbeda dengan budaya mainstream/pop.

Lokakarya “Ritus Liyan” berusaha menyampaikan hal itu. Selama empat hari, terhitung mulai Selasa hingga Jumat (19-22/03) di Kampung Plampitan, Kelurahan Peneleh, Kota Surabaya.

Airlangga Institute for Indian Ocean Crossroad (AIIOC) menyelenggarakan lokakarya itu untuk menemukan kreativitas, mendekolonisasi budaya, dan menghasilkan karya. Hasil karya akan dipamerkan pada Mei mendatang di Kampung Plampitan.

Aarti Kawlra selaku direktur Akademis Humanities Across Borders; Bintang C Putra selaku direktur Operation for Habitat Studies; serta Program Manager Anitha Silvia turut memandu jalannya acara.

“Ritus sering diartikan sebagai perayaan hal besar yang terjadi dalam hidup kita. Namun, kebiasaan-kebiasaan kita sehari-hari dianggap sebagai hal yang remeh. Sehingga menjauhkan kita dari makna mendalam dalam tindakan kita,” jelas Bintang.

Di Kampung Plampitan, terdapat satu produk unggulan, yakni Batik Peneleh. Nama Peneleh bukan hanya diambil dari nama perkampungan, namun juga berasal dari kata penilih yang memiliki arti yang terpilih atau unggul. Motif batik Peneleh bervariasi dari logo khas Peneleh hingga motif sungai.

Motif sungai, alih-alih berwarna biru, Batik Peneleh berwarna hijau. Suminah, mantan ketua RW II Plampitan serta penggerak Batik Peneleh, menyampaikan bahwa warna hijau dipilih karena menyesuaikan dengan realita saat ini. Di mana air sungai berwarna hijau.

“Kok warnanya hijau? Ya realistis dan kontemporer aja. Kan memang faktanya begitu,” ungkapnya.

Realistis dan kontemporer sering dilupakan saat membuat suatu karya seni. Dari kasus di atas, membuktikan bahwa hal yang remeh seperti sungai yang sering kita lihat apa adanya masih bisa menjadi sebuah karya seni tanpa perlu melebih-lebihkan.

Di sisi lain, Aarti mengatakan bahwa banyak penelitian-penelitian budaya yang dilakukan antropolog itu tidak melihat hal yang remeh. Padahal, hal yang remeh itu dapat menjadi sebuah karya yang unik.

“Contohnya ketika mereka (antropolog, Red) meneliti tentang petani. Yang mereka pilih adalah petani beras, petani gandum, dan sejenisnya. Ada petani indigo yang bisa diteliti, namun mereka tidak memilihnya karena mereka luput dari fokus pandangan akademisi-akademisi itu,” ujarnya.

Aarti berharap lokakarya tersebut dapat menghasilkan karya yang tidak mainstream, karya yang unik, yang merepresentasikan kearifan lokal Kampung Plampitan ke dalam karya seni para peserta.

Lokakarya empat hari itu merupakan awal untuk pembuatan proyek para peserta. Proyek dapat berupa foto, video, gambar, suara, puisi, mural, seni pertunjukan, dan lainnya. Peserta dapat mengerjakan proyek mereka selama 6 minggu, disertai diskusi bersama sekali setiap minggunya dan dipamerkan pada eksibisi (24-31/05) di Kampung Plampitan. (ita)

Airlangga Institute for Indian Ocean Crossroad
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen

22/07/2026 - 18:48 WIB

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Comments are closed.

Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah

22/07/2026 - 19:17 WIB

Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Living Lab Energi Terbarukan untuk Edukasi Green Energy

22/07/2026 - 19:07 WIB

Pakar UNAIR: Pola Asuh Generasi Alpha Tak Cukup Hanya Membatasi Gawai

22/07/2026 - 18:57 WIB

Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen

22/07/2026 - 18:48 WIB

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.