Sekelompok mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) menghadirkan inovasi deodoran berbahan dasar tawas lokal yang ditujukan bagi pengguna dengan kulit sensitif. Produk bernama Deorans tersebut mengombinasikan bahan alami dengan pilihan aroma modern sebagai upaya meningkatkan daya saing produk lokal sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat akan deodoran yang aman dan nyaman digunakan.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Raihan Syah Rafi’, Muhammad Fayyadh, Revanza Gammastyan, dan Daphni Najwa Halafendi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), bersama Salwa Dwi Putri Arditiya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Berkat gagasan tersebut, tim berhasil memperoleh pendanaan dalam Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026 pada kategori Manufaktur dan Teknologi Terapan.
Ketua tim, Raihan Syah Rafi’, menjelaskan bahwa pengembangan Deorans berangkat dari banyaknya pengguna deodoran yang mengalami iritasi akibat kandungan tertentu, termasuk alkohol yang terdapat pada sejumlah produk di pasaran. Kondisi tersebut mendorong tim untuk merancang alternatif deodoran yang lebih ramah bagi kulit tanpa mengurangi efektivitasnya dalam mengatasi bau badan.
Sebagai bahan utama, tim memilih tawas lokal karena memiliki sifat antimikroba yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau badan, termasuk kelompok Staphylococcus sp. Selain itu, tawas juga dikenal memiliki sifat astringen yang membantu mengurangi produksi keringat berlebih tanpa menghambat fungsi alami kelenjar keringat.
Tidak hanya mengedepankan aspek kesehatan kulit, Deorans juga dirancang agar mampu bersaing di pasar deodoran modern. Untuk itu, tim menghadirkan berbagai pilihan aroma, seperti kopi, stroberi, dan bubblegum. Salwa Dwi Putri Arditiya menjelaskan bahwa pendekatan tersebut dilakukan agar produk berbahan alami tidak lagi dipandang sebagai produk konvensional, melainkan mampu mengikuti selera dan tren konsumen saat ini.
Menurut tim pengembang, inovasi ini menyasar kelompok usia produktif yang memiliki mobilitas tinggi, mulai dari mahasiswa, pekerja kantoran, hingga masyarakat yang rutin berolahraga. Selain menawarkan fungsi sebagai penghilang bau badan, Deorans diharapkan menjadi pilihan bagi konsumen yang semakin peduli terhadap kesehatan kulit dan penggunaan produk berbahan alami.
Daphni Najwa Halafendi menjelaskan bahwa strategi pemasaran Deorans tidak hanya berfokus pada penjualan produk, tetapi juga mengedepankan edukasi mengenai manfaat tawas sebagai bahan alami yang aman digunakan. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan semakin mengenal potensi sumber daya lokal sebagai solusi inovatif untuk kebutuhan sehari-hari.
Raihan menambahkan bahwa penggunaan tawas lokal juga memiliki nilai tambah dari sisi keberlanjutan lingkungan. Pemanfaatan bahan alami dinilai dapat menjadi alternatif terhadap penggunaan sejumlah bahan kimia sintetis yang selama ini banyak digunakan dalam formulasi produk deodoran.
Melalui Deorans, tim mahasiswa UNAIR ingin membuktikan bahwa bahan baku lokal mampu diolah menjadi produk bernilai tambah yang kompetitif di pasar. Inovasi ini sekaligus menunjukkan potensi kolaborasi antara kreativitas mahasiswa, pengembangan teknologi terapan, dan semangat kewirausahaan dalam menghadirkan solusi yang mendukung gaya hidup sehat serta lebih ramah lingkungan.
Keberhasilan lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) menjadi langkah awal bagi tim untuk mengembangkan Deorans agar dapat diproduksi dan dipasarkan secara lebih luas. Mereka berharap inovasi tersebut tidak hanya memberikan pilihan baru bagi konsumen, tetapi juga mendorong pemanfaatan bahan alam Indonesia sebagai produk yang memiliki daya saing di industri perawatan tubuh. (ita)

