Berbicara Lintas Benua Melalui Film
HIBURAN

Berbicara Lintas Benua Melalui Film

Enam puluh sembilan tahun yang lalu, tepatnya tanggal 30 Maret 1950, menjadi penanda kebangkitan kreatifitas dan profesionalisme film Indonesia. Pada hari itu Usmar Ismail memulai syuting perdana film Darah dan Doa, film Indonesia pertama yang disutradarai dan diproduseri oleh pribumi. Kini setiap tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional.

Semenjak kelahirannya, dunia perfilman Indonesia telah mengalami banyak perkembangan. Artis senior Rima Melati menjelaskan bahwa pefilman Indonesia meningkat secara kualitas khususnya karena faktor teknologi. Produksi film yang dahulu dikerjakan dalam waktu lama kini bisa dengan cepat.

Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kala pada acara puncak peringatan Hari Film Nasional (HFN) di kantor Kemendikbud (28/3) pun menegaskan hal tersebut. “Perfilman kita meningkat, kita belum setara dengan Holywood atau Bollywood tapi kita mengarah kesana”.

Pria asal Makassar tersebut juga menjelaskan bahwa tumbuhnya industri film akan menumbuhkan industri lain misalnya industri makanan, industri bioskop dan membantu perekonomian bangsa.

Senada dengan hal itu, dalam kesempatan lain Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan bahwa apresiasi masyarakat terhadap film Indonesia meningkat dari tahun ke tahun.

Sebaliknya, film import mengalami penurunan. “Sekarang bagaimana caranya agar film dari segi kualitas dan juga penonton terus meningkat,” terangnya.

Sementara itu artis wanita Marcella Zalianti memiliki pandangannya sendiri. Pemeran dalam film horror Tusuk Jaelangkung tersebut mengatakan bahwa film juga mempunyai kekuatan diplomasi. “Yang bisa dibanggakan untuk kita bisa berbicara di lintas benua itu hanya lewat film”.

Marcella Zalianty tidak mengada-ngada, banyak film Indonesia yang mendapat penghargaan internasional.

Meski demikian, perfilman Indonesia tidaklah tanpa kritik. Menurut seniman asal Aceh, Agus M Toh, perfilman Indonesia belum mengeksplor tema bahari. Padahal, Indonesia adalah negara maritim. Sejauh ini umumya film lebih cenderung banyak mengangkat tema Jakarta dan daratan. (sak)