Suasana duka menyelimuti prosesi pemakaman Nurwiyatno di kompleks Makam Tembok, Kota Surabaya, Jumat (17/4/2026). Sejumlah tokoh penting Jawa Timur turut hadir, termasuk dua mantan gubernur, Imam Utomo dan Soekarwo, yang secara langsung mengantar almarhum ke peristirahatan terakhirnya.
Kehadiran keduanya menjadi simbol penghormatan atas dedikasi panjang Nurwiyatno selama mengabdi sebagai aparatur sipil negara di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Semasa aktif bertugas, almarhum dikenal sebagai sosok yang dekat dengan pimpinan maupun rekan kerja lintas instansi.
Nurwiyatno, yang akrab disapa “Cak Nono”, merupakan putra asli Tembok Dukuh, Surabaya. Ia dikenal luas sebagai pribadi yang supel, ramah, dan selalu menghadirkan suasana hangat dalam setiap interaksi. Sikap terbuka dan kebiasaannya melayani tamu dengan senyuman membuatnya memiliki tempat tersendiri di hati banyak orang.
Prosesi pemakaman juga dihadiri oleh mantan Kapolda Jawa Timur, Anton Setiadji, serta sejumlah mantan pejabat dari berbagai dinas di lingkungan Pemprov Jatim. Kehadiran mereka menunjukkan eratnya hubungan personal dan profesional yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
Dalam kesempatan tersebut, Imam Utomo mengenang almarhum sebagai pribadi yang baik dan penuh dedikasi. Ia menyampaikan keyakinannya bahwa kepergian Nurwiyatno di hari Jumat menjadi pertanda kebaikan yang menyertainya.
Selepas pensiun, Nurwiyatno tetap aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan. Salah satu peran terakhirnya adalah sebagai sekretaris di Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Jawa Timur, mendampingi Imam Utomo yang menjabat sebagai ketua. Keterlibatannya menunjukkan komitmen berkelanjutan dalam pelayanan sosial kepada masyarakat.
Karier birokrasi Nurwiyatno juga mencatat sejumlah posisi strategis, termasuk sebagai Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Pemprov Jatim. Puncak kariernya di jabatan publik tercapai saat ia dipercaya menjadi Penjabat Wali Kota Surabaya periode 2015–2016.
Tak hanya dikenal di kalangan birokrasi, sosok Cak Nono juga meninggalkan kesan mendalam di kalangan jurnalis. Menurut Darmantoko, almarhum memiliki pemahaman yang baik terhadap kerja jurnalistik dan selalu terbuka dalam memberikan informasi.
Secara personal, Nurwiyatno juga dikenal sebagai sosok yang peduli terhadap teman-teman lamanya. Ia kerap menjaga komunikasi dan bahkan membantu secara finansial tanpa pamrih. Sikap tersebut memperkuat citranya sebagai pribadi yang tulus dan rendah hati.
Kepergian Nurwiyatno meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi masyarakat dan lingkungan pemerintahan Jawa Timur. Sosoknya dikenang sebagai figur yang bersih, berdedikasi, dan penuh empati—sebuah teladan dalam pelayanan publik.
Selamat jalan, Cak Nono. Dedikasi dan kebaikanmu akan terus hidup dalam ingatan banyak orang. (tas)

