Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal
  • Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan
  • Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»HIBURAN»Film Dokumenter Kisah Musisi Soetedja

Film Dokumenter Kisah Musisi Soetedja

HIBURAN redaksi22/11/2018 - 16:00 WIB

Pemutaran perdana film dokumenter “Mencari Soetedja” di Bioskop Rajawali Purwokerto menyisakan sejumlah cerita miris. Film besutan sutradara Bowo Leksono itu justru mengungkap muramnya wajah dunia musik Indonesia.

Pemutaran film berdurasi 24 menit Kamis (15/11) lalu itu dilengkapi pemutaran video di belakang layar atau proses produksi film tersebut yang berdurasi 5 menit.

Selain, dibuka dengan tampilan gesekan biola dan cello oleh seniman Banyumas yang memainkan beberapa lagu-lagu karya Raden Soetedja.

Eksistensi R Soetedja sejatinya masih terasa di Stasiun Purwokerto ketika lagu ciptaannya seusai lulus Algemeene Middelbare School (AMS) Bandung, bertajuk “Ditepinya Sungai Serayu” diputar menyambut kedatangan kereta api. Namanya juga diabadikan menjadi Taman Budaya di Kabupaten Banyumas.

Raden Soetedja Poerwadibrata adalah seorang komponis yang mendedikasikan hidupnya untuk bermusik. Ia sempat mengenyam pendidikan musik di konservatori musik Roma, Italia.

Buah kreatifitasnya ia mencipta ratusan lagu diantaranya “Tidurlah Intan”, “Selamat Berjuang”, “Keroncong Senja”, dan terakhir “Melati Pesanku”.

“Jejak langkahnya di seni musik tercatat bersama Orkes Melati yang kerap tampil di RRI Jakarta,” urai Bowo, pada sesi diskusi usai pemutaran film, seperti dikutip situs rri.co.id.

Film ini diproduksi Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga dan Jaringan Kerja Film Banyumas serta disokong Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Bowo menilai Soetedja merupakan tokoh pembaharu musik kontemporer Indonesia yang tak banyak tercatat. Bowo lantas mengunjungi berbagai tempat mulai dari bekas kediaman Soetedja di Purwokerto dan Banjarnegara.

Dia mengatakan, film “Mencari Soetedja” ini, masih terbentur minimnya literatur. Pencarian jejak dan karya Soetedja belum bisa dikatakan selesai. Ia berharap dari film dokumenter berdurasi 24 menit dapat memantik penelitian untuk memperoleh gambaran lebih detail tentang bagaimana jejak langkah Soetedja dalam kancah seni musik di Indonesia.

“Meninggal di usia relatif muda dan lemahnya dokumentasi karya di Indonesia, membuat lagu-lagu Soetedja kurang dikenal pada masa sekarang,” tambah Bowo.

Keterangan-keterangan yang bisa digapai oleh Bowo dianyam menjadi cerita tentang Soetedja dengan mengabadikan kenangan putra-putri Soetedja, salah satunya Budhy Rahardjo dan Lily Soemandari.

Bowo dan rekan-rekannya juga menyusuri masa kanak Soetedja yang bermimpi menjadi musisi dengan menggali keterangan dari Sugeng Wijono, keponakan Soetedja. Sedang penelusuran dokumentasi karya kerap mengalami jalan buntu.

“Data-data piringan hitam dan partitur-partitur yang tersimpan di RRI Jakarta dikabarkan terbakar. Kami juga mengunjungi Irama Nusantara di Jakarta yang kerap melakukan pengarsipan piringan hitam ke digital,” kata Bowo.

Tapi hanya beberapa yang didapat, salah satunya album “Mengenangkan Soetedja”, kompilasi lagu yang diciptakan Soetedja dan dihimpun kembali oleh Jack Lesmana.

Putri ke-4 Soetedja, Lily Soemandari menuturkan, ayahnya telah menciptakan lebih dari 180 lagu. Di akhir hidupnya, ayahnya berniat mengumpulkan karya-karya lagu yang pernah ia ciptakan untuk ditandai namanya. Sayang, niat tersebut tak sempat tergapai sebab Soetedja keburu meninggal di usia 51 tahun.

“Saya menangis sebelum menonton film tentang ayah saya ini. Saya sendiri masih usia 12 tahun saat ayah meninggal. Tidak banyak kenangan, hanya yang saya ingat, ayah punya hubungan dekat dengan sejumlah musisi saat itu seperti Bing Slamet,” katanya.

“Bapak juga meminta anak-anaknya tidak menjadi seperti itu (musisi) di Indonesia, profesi ini kurang dihargai dibanding di luar (negeri) sana,” imbuhnya.

Kenang-kenangan Soetedja yang masih tersimpan oleh keluarga yakni sejumlah partitur lagu dan biola hadiah saat ia berusia 10 tahun. Biola tersebut yakni Stradivarius Paganini buatan tahun 1834. Dawai biola tersebut sudah tak lagi lengkap.

“Biola itu saksi terciptanya lagu Ditepinya Sungai Serayu yang legendaris. Lagu itu lahir ketika Soetedja diajak oleh ayah angkatnya mengunjungi tanah keluarga di wilayah Serayu,” kata Sugeng Wijono, keponakan Soetedja.

Karier Soetedja mulai menanjak kala dia memimpin grup musik Orkes Melati RRI Jakarta yang kala itu bernama Radio Hosokyoku tahun 1942. Ia juga sering bermain bersama musikus Jack Lesmana, Bing Slamet dan John de Fretes di Wisma Nusantara maupun Istana Negara pada era Presiden Soekarno.

Sedang di Banyumas, Soetedja pernah menjabat sebagai Direktur Musik RRI Purwokerto pada tahun 1946 tatkala Indonesia digempur Agresi Militer Belanda. (rri)

Film Dokumenter Musisi Banyumas Soetedja
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Film Biopik Michael Jackson Bakal Punya Sekuel, Lionsgate Siapkan Kelanjutan ‘Michael’

25/05/2026 - 14:46 WIB

Formula 1 Resmi Kembali ke Istanbul Park Mulai 2027, Kontrak Lima Tahun Perkuat Ekspansi Global

24/04/2026 - 20:23 WIB

Cha Eun Woo Minta Maaf atas Kontroversi Pajak, Tegaskan Telah Lunasi Kewajiban Lebih dari Rp200 Miliar

08/04/2026 - 21:35 WIB

PLEDIS Ambil Langkah Hukum Tegas Lindungi SEVENTEEN dari Fitnah dan Akun Jahat Global

30/03/2026 - 16:52 WIB

Aktor Lee Sang Bo Meninggal Dunia, Industri Hiburan Korea Berduka

29/03/2026 - 07:12 WIB

Cinta Segitiga Memanas di Drama The Practical Guide to Love, Park Sung Hoon dan Lee Ki Taek Berebut Hati Han Ji Min

07/03/2026 - 03:54 WIB

Comments are closed.

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove

21/07/2026 - 18:34 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.