Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menegaskan tidak terlibat dalam publikasi ilmiah yang tengah menjadi sorotan publik terkait dugaan manipulasi riset dan pelanggaran etika akademik. Penegasan tersebut disampaikan setelah muncul pencatutan nama Departemen Teknik Biomedik ITS serta seorang alumni kampus tersebut sebagai kontributor dalam publikasi ilmiah yang dipersoalkan.
Rektor ITS, Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MSc Eng PhD, menyatakan bahwa ITS tetap berpegang teguh pada prinsip integritas akademik, etika penelitian, serta kejujuran ilmiah dalam seluruh aktivitas pendidikan dan riset di lingkungan kampus.
Menurut Bambang, ITS juga menghormati seluruh proses klarifikasi, verifikasi, dan investigasi yang sedang dilakukan pihak terkait terhadap kasus tersebut. Namun demikian, pihak kampus meminta semua pihak berhati-hati dalam menerima maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi secara utuh.
Dari hasil penelusuran internal, ITS menemukan adanya informasi yang tidak sesuai dengan fakta. Salah satunya terkait pencantuman nama “School of Biomedical Engineering” yang disebut dalam publikasi tersebut. ITS menegaskan bahwa institusi tersebut tidak pernah ada dalam struktur resmi kampus.
Bambang menjelaskan, unit akademik yang benar di ITS adalah Departemen Teknik Biomedik atau Biomedical Engineering Department. Karena itu, pencantuman nama institusi yang tidak sesuai dinilai sebagai informasi keliru yang dapat menyesatkan publik.
Selain itu, ITS juga melakukan klarifikasi terhadap Dimas Fajar Prasetyo yang namanya tercantum sebagai salah satu kontributor penelitian. Hasil penelusuran memastikan bahwa Dimas memang merupakan alumnus Departemen Teknik Sistem Perkapalan ITS.
Namun, Dimas membantah keterlibatan dirinya dalam penelitian tersebut. Ia menegaskan namanya dicatut tanpa izin dan dirinya sama sekali tidak mengetahui adanya publikasi tersebut.
Dalam keterangannya kepada tim Unit Komunikasi Publik (UKP) ITS, Dimas menyebut tidak pernah terlibat dalam proses penelitian maupun mengenal pihak-pihak yang mencantumkan namanya sebagai kontributor.
ITS menegaskan sikap tegas terhadap segala bentuk pelanggaran etika penelitian, termasuk manipulasi data, fabrikasi hasil riset, hingga penyalahgunaan nama institusi untuk kepentingan tertentu.
Kampus teknologi yang berbasis di Surabaya itu juga memastikan akan mengambil langkah sesuai ketentuan akademik maupun hukum apabila ditemukan pelanggaran etik atau penyalahgunaan identitas institusi dalam kasus tersebut.
Sebagai salah satu perguruan tinggi teknologi terbesar di Indonesia, ITS menilai kredibilitas riset dan integritas akademik merupakan fondasi utama yang harus dijaga. Karena itu, penguatan standar penelitian dan tata kelola akademik akan terus menjadi prioritas institusi.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya verifikasi identitas penulis dan afiliasi akademik dalam publikasi ilmiah, terutama di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap kualitas dan integritas riset global. (tas)

