Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah
  • Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Living Lab Energi Terbarukan untuk Edukasi Green Energy
  • Pakar UNAIR: Pola Asuh Generasi Alpha Tak Cukup Hanya Membatasi Gawai
  • Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen
  • Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal
  • Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan
  • Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»KOMUNITAS»Lima Owa Jawa Dilepas di Gunung Puntang

Lima Owa Jawa Dilepas di Gunung Puntang

KOMUNITAS redaksi08/11/2017 - 09:00 WIB

Sebanyak lima ekor Owa Jawa (hylobates moloch) yang didapat dari masyarakat, dilepasliarkan di alam bebas Hutan Lindung Gunung Puntang Kecamatan Cimaung Kabupaten Bandung.

Pelepasliaran Owa Jawa ini dilakukan di gunung tersebut karena memang hutan tersebut adalah habibat yang cocok dengan kondisi alam relatif masih baik.

“Pemilihan Gunung Puntang sebagai tempat pelepasliaran Owa Jawa karena memang habitatnya cocok. Kondisi alamnya juga masih bagus dengan makanan yang banyak,” kata salah seorang pendiri Yayasan Owa Jawa, Sunaryo di lokasi pelepas liaran di blok 31 Gunung Puntang, beberapa waktu lalu.

Dikatakan Sunaryo, keanekaragaman hayati di hutan lindung ini sangat menunjang untuk keberlangsungan hidup satwa tersebut. Di hutan ini banyak terdapat pohon rasamala yang biasa dikonsumsi pucuknya oleh Owa Jawa, begitu juga dengan buah buahan di hutan ini sangat cocok menjadi makanannya.

Keanekaragaman hayati di Gunung Puntang ini sangat cocok untuk hidup dan berkembang biak Owa Jawa. Pepohonan seperti rasamala ini sangat disukai oleh Owa Jawa untuk dimakan pucuknya.

“Sehingga Gunung Puntang dipilih untuk dijadikan sebagai habitat Owa Jawa. Jika dilepasliarkan di hutan yang habitat Owa Jawanya banyak ditakutkan mereka tertular penyakit oleh Owa Jawa hasil rehabilitasi dan memang di hutan ini jumlahnya belum banyak,” ujarnya.

Sunaryo melanjutkan, sejak 2013 lalu, sedikitnya 40 ekor Owa Jawa hasil rehabilitasi kembali dilepasliarkan di Hutan Lindung Gunung Puntang ini. Hewan primata monogami yang dilindungi ini hasil penyerahan dari masyarakat. Berdasarkan pengamatannya, sampai saat ini masih ada, bahkan sesekali terlihat anak dari Owa Jawa yang di lepas liarkan.

Kata dia, dari hasil survei yang pernah dilakukannya keberadaan Owa Jawa yang tersebar dari Ujung Kulon sampai Purwokerto jumlahnya tinggal sekitar 2.000-3.000, statusnya sekarang sudah warna merah atau mendekati kepunahan.

Sehingga, ia mengajak masyarakat untuk turut serta mengkonservasi, jika masyatakat mengetahui ada warga yang memelihara Owa Jawa untuk melaporkannya kepada petugas. “Kami harap 10 tahun ke depan jumlahnya semakin banyak. Gunung Puntang cocok sekali, terbukti ada Owa Jawa yang beranak disini,” katanya.

Direktur Utama Perum Perhutani Denaldy menambahkan, kawasan hutan lindung Perhutani merupakan habitat Owa Jawa. Pihaknya berkomitmen turut melestarikan Owa Jawa dan mempertahankan habitatnya.

Perhutani telah membuktikan kepada masyarakat nasional maupun internasional bahwa kepedulian kepada satwa-satwa yang dilindungi dan terancam punah dilakukan secara nyata. “Keberhasilan konservasi Owa Jawa maupun satwa lainnya, ini juga sangat berkaitan dengan dukungan dan peran serta masyarakat sekitarnya,” ujarnya. (sak)

Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen

22/07/2026 - 18:48 WIB

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Comments are closed.

Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah

22/07/2026 - 19:17 WIB

Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Living Lab Energi Terbarukan untuk Edukasi Green Energy

22/07/2026 - 19:07 WIB

Pakar UNAIR: Pola Asuh Generasi Alpha Tak Cukup Hanya Membatasi Gawai

22/07/2026 - 18:57 WIB

Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen

22/07/2026 - 18:48 WIB

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.