Mengenali Bahaya Rotavirus pada Anak
KESEHATAN PERISTIWA

Mengenali Bahaya Rotavirus pada Anak

Sebagian besar orang tua mengenal dan tahu tentang diare. Tapi pernahkah mendengar tentang Rotavirus? Ya Rotavirus adalah virus yang sangat menular yang menyebabkan diare.

Namun implikasi dari infeksi Rotavirus tidak hanya sekadar diare. Karenanya kita perlu memahami lebih jauh mengenai Rotavirus yang dapat membahayakan Si Kecil.

Dokter Deliana Permatasari, Vaccine Medical Director pada GlaxoSmithKline Indonesia menyatakan Rotavirus adalah virus yang sangat menular. Ini adalah penyebab paling umum diare pada bayi dan anak-anak di seluruh dunia, yang mengakibatkan lebih dari 215.000 kematian setiap tahunnya.

“Penjelasan sederhananya, Rotavirus adalah virusnya, sedangkan diare adalah gejala yang disebabkan oleh virus ini,” papar dr Deliana Permatasari melalui rilisnya kepada media.

Dijelaskan, penularan Rotavirus melalui jalur fecal-oral, atau dari feses penderita yang tidak sengaja masuk ke mulut orang yang sehat.

Penularan Rotavirus sangat mudah dan seringnya terjadi tanpa orang tua sadari, misalnya melalui kontaminasi air, makanan, minuman, dan benda-benda yang terkontaminasi di sekitar orang tua dan anak.

“95% anak di seluruh dunia biasanya telah terinfeksi Rotavirus ketika mereka mencapai usia 5 tahun, dan sebagian besar infeksi pertama terjadi sebelum si kecil berusia 1 tahun,” jelasnya.

Infeksi Rotavirus biasanya dimulai dalam dua hari setelah terpapar virus. Gejala awal dari infeksi Rotavirus adalah demam (40⁰C atau lebih tinggi) dan muntah. Diikuti diare cair selama tiga hingga delapan hari.

Selain demam, diare cair dan muntah, gejala-gejala infeksi Rotavirus lainnya dapat berupa lesu, rewel, badannya terasa nyeri serta tanda-tanda dehidrasi (mulut kering, frekuensi buang air kecilnya sedikit atau tidak ada sama sekali, menangis tanpa air mata).

“Si kecil yang terinfeksi Rotavirus berat dapat mengalami muntah dan mengalami diare hingga 20 kali sehari, sehingga berpotensi menyebabkan dehidrasi berat. Untuk beberapa bayi, gejalanya sangat berat sehingga mereka harus dirawat di rumah sakit,” kata dr Deliana.

Dehidrasi menyebabkan lebih dari 90% kematian akibat diare yang infeksius. Dengan kondisi ini, jelas infeksi Rotavirus bukan sekadar diare biasa, sehingga lebih baik bersiaga dan melakukan tindakan pencegahan.

Tak Sekedar Jaga Kebersihan
Lebih lanjut dijelaskan bahwa pemberian ASI eksklusif, mencuci tangan, akses air bersih, sanitasi, dan kebersihan dapat membantu mencegah penyakit rotavirus. Tetapi mungkin tidak cukup.

Virus ini dapat bertahan hingga 2 bulan di luar tubuh manusia dan menyebar dari orang ke orang atau melalui permukaan yang terkontaminasi, termasuk mainan.

Disinfeksi kimia mungkin bisa menghambat penyebaran Rotavirus. Namun, orang tua harus memperhatikan jenis atau kandungan disinfektan yang digunakan, dan permukaan apa saja yang bisa diberi disinfektan.

Penggunaan disinfektan juga harus mempertimbangkan keamanannya bagi kesehatan manusia dan lingkungan, kompatibilitas dengan permukaan yang akan didisinfeksi, kemudahan penyimpanan dan aplikasi, serta rentang kemampuannya membunuh kuman atau virus.

“Kesimpulannya, meskipun menjaga kebersihan itu penting, menjaga sanitasi lingkungan Parents saja mungkin tidak cukup untuk mencegah penyebaran dan penularan Rotavirus.”

Rotavirus Bisa Dicegah
Sebagian besar kasus infeksi Rotavirus terjadi sebelum usia 1 tahun. Si kecil dilahirkan dengan sistem kekebalan yang dapat melawan sebagian besar kuman, tetapi ada beberapa penyakit mematikan yang tidak bisa mereka tangani. “Itu sebabnya mereka membutuhkan vaksin untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh mereka,” katanya.

Sebuah survei menunjukkan bahwa 92% bayi yang dirawat di rumah sakit karena infeksi Rotavirus belum pernah divaksinasi dan kebanyakan orang tua tidak mengetahui tentang vaksinasi Rotavirus.

Padahal, diare Rotavirus adalah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Dan perlu diketahui juga, ada batas usia untuk pemberian vaksin Rotavirus. “Setelah melewati usia tersebut, Si Kecil mungkin tidak lagi memenuhi syarat untuk vaksinasi Rotavirus,” tandas dr Deliana.

Vaksin Rotavirus diberikan secara oral, tidak disuntikkan, sehingga anak-anak tidak perlu takut menghadapi jarum suntik. Seperti pemberian vaksin lain, orang tua disarankan untuk berkonsultasi langsung dengan tenaga kesehatan profesional.

Tujuannya untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kapan waktu yang tepat untuk memberikan vaksin Rotavirus, jenis vaksin, dosis, dan tata cara pemberian vaksin, serta informasi lainnya mengenai vaksin Rotavirus. (ita)