Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah
  • Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Living Lab Energi Terbarukan untuk Edukasi Green Energy
  • Pakar UNAIR: Pola Asuh Generasi Alpha Tak Cukup Hanya Membatasi Gawai
  • Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen
  • Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal
  • Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan
  • Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»PERISTIWA»EKONOMI BISNIS»Mitos Jawa Kuno Hingga ke Mancanegara

Mitos Jawa Kuno Hingga ke Mancanegara

EKONOMI BISNIS redaksi27/06/2024 - 14:00 WIB

Masyarakat di antero Nusantara pasti sudah mengenal akrab panganan yang disebut sebagai tempe. Berbahan baku kacang kedelai, tempe konon sudah ada di wilayah kepulauan ini sejak zaman era Jawa Kuno.

Di banyak suku di tanah air, kudapan kerap dianggap kurang lengkap jika tidak menyertakan tempe di dalamnya. Seiring dengan semakin banyaknya diaspora Indonesia, di berbagai belahan dunia, tempe pun menjadi semakin mengglobal.

Bila Anda pergi ke Eropa, kita tidak akan kesulitan untuk mendapatkan tempe. Anda cukup datang toko Asia, tempe pasti akan ditemukan di sana. Demikian pula di Asia Timur. Di Jepang, misalnya, tempe juga mudah ditemukan. Di negara itu bahkan kita dengan mudah menemukan produk tempe buatan Ristono.

Tentu pembaca ada yang pernah mendengar kisah sukses pengusaha tempe, Ristono, asal Grobogan, Jawa Tengah. Bisnis produksi tempe dengan merk dagang Rusto’s Tempeh itu bahkan kini sudah mendunia.

Dari Kyoto, Ristono kemudian berupaya bisa memenuhi kebutuhan pasar Jepang. Dan setelah sukses di kawasan tersebut, Ristono pun merambah pasar Korea Selatan. Kini, Rusto’s Tempeh sudah menembus pasar Meksiko, Brasil, dan Hungaria.

Keberadaan komoditas tempe yang kini sudah mendunia–tak hanya dikonsumsi masyarakat Indonesia–terkonfirmasi dari pernyataan Pembina Forum Tempe Indonesia Made Astawan. “Tempe saat ini sudah bisa ditemukan dan dikonsumsi di 27 negara,” ujarnya, seperti dikutip dari Antara, pada Sabtu (1/6/2024).

Seperti dikatakan di awal, panganan tempe telah menjadi panganan asli Indonesia, bahkan ada yang menyebutkan sejak zaman Jawa kuno, seperti disebutkan di Serat Centhini, buku kesusastraan Jawa di lima jilid pertama.

Dahulu, bagi orang asing, panganan tempe sebagai panganan yang menjijikkan. Mengapa begitu? Sebab dalam proses produksi tempe ada fase di mana kedelai harus dipisahkan antara kulit dan bijinya. Dalam tahapan itu, kedelai harus direndam, sebelum kemudian perajinnya akan menginjak-injak bahan panganan itu dengan kedua kaki agar kulit dan biji terpisah.

Namun kini, proses serupa itu sudah ditinggalkan. Kini, proses tersebut sudah dilakukan secara mekanis dan lebih higenis. Panjangnya sejarah tempe di tanah air itulah yang kemudian membuat Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengajukannya sebagai warisan budaya tak benda untuk kemanusiaan ke UNESCO.

Dikatakan Direktur Pelindungan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikburistek Judi Wajudin, pihaknya optimistis budaya tempe ini akan menambah daftar warisan budaya tak benda dari Indonesia yang ada di UNESCO. “Kita berdoa semoga dengan masuknya budaya tempe dalam daftar UNESCO itu dapat terus memberikan manfaat bukan hanya bagi masyarakat Indonesia tapi dunia,” ujarnya, Sabtu (1/6/2024).

Terkait upaya untuk membuat tempe kian terkenal di dunia, baik lewat pengajuan ke UNESCO maupun promosi tempe sebagai makanan asli Indonesia dan makanan sehat, perlu didukung oleh semua pemangku kepentingan. Dalam rangka itulah, Forum Tempe Indonesia sebagai salah satu tim inisiator, berharap adanya seluruh dukungan masyarakat.

“Terlebih, tren vegetarian atau vegan juga semakin populer bersamaan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dunia terhadap pangan yang sehat,” kata Astawan.

Berkaitan proses pengajuan ke UNESCO, komunitas tempe Indonesia telah resmi mengajukan permohonan itu melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) ke Sekretariat UNESCO untuk masuk dalam kategori Daftar Representatif Warisan Budaya tak Benda untuk Kemanusiaan.

Pengajuan komoditas tempe sebagai Warisan Budaya tak Benda bagi Kemanusiaan telah dilakukan pada akhir Maret 2024. Pengajuan yang dilakukan Indonesia itu juga berpatokan dengan bunyi Konvensi UNESCO 2003.

Harapannya, pengajuan tempe sebagai Warisan Budaya tak Benda dunia itu disetujui. Sehingga, dapat menambah daftar Warisan Budaya tak Benda dari Indonesia yang ada di UNESCO. (indonesia.go.id)

tempe
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen

22/07/2026 - 18:48 WIB

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Comments are closed.

Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah

22/07/2026 - 19:17 WIB

Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Living Lab Energi Terbarukan untuk Edukasi Green Energy

22/07/2026 - 19:07 WIB

Pakar UNAIR: Pola Asuh Generasi Alpha Tak Cukup Hanya Membatasi Gawai

22/07/2026 - 18:57 WIB

Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen

22/07/2026 - 18:48 WIB

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.