Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia
  • DJP Jatim I Gandeng GP Ansor Perluas Edukasi Perpajakan dan Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak
  • Sinergi UNAIR dan ILO Siapkan Generasi Muda Hadapi Transisi Energi Berkeadilan
  • Wali Kota Eri Cahyadi Minta Camat dan Lurah Bikin Hotline untuk Atasi Masalah Warga
  • Wali Kota Eri Instruksikan Dishub Petakan Titik Rawan Macet dan Lakukan Rekayasa Lalu Lintas
  • Manufacturing Surabaya 2026 Dibuka, Wagub Emil Perkuat Posisi Jatim sebagai Basis Manufaktur Asia Tenggara
  • Pemkot Surabaya Dukung Program Perwalian Anak Massal, 75 Anak Resmi Dapatkan Legalitas Hukum
  • Sidak RSUD Soewandhie, Wali Kota Eri Evaluasi Layanan Farmasi, IGD, dan Sistem Antrean Pasien
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»PERISTIWA»Pro Kontra Karya AI Bergaya Ghibli

Pro Kontra Karya AI Bergaya Ghibli

PERISTIWA redaksi24/04/2025 - 12:00 WIB

Seiring pesatnya perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI), dunia seni kini memasuki babak baru yang menimbulkan berbagai pro dan kontra. Salah satunya adalah kemunculan karya-karya visual yang dibuat oleh AI dengan meniru gaya khas studio animasi ternama, seperti Studio Ghibli.

Dosen bidang robotika dan kecerdasan buatan Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Univesitas Airlangga (UNAIR) Yutika Amelia Effendi SKom MKom PhD, mengatakan bahwa AI generatif bekerja dengan mempelajari pola dan struktur dari dataset, seperti karya seni yang sudah ada. Setelah proses pelatihan, AI dapat menghasilkan karya yang mirip dengan karya yang telah dipelajari sebelumnya.

“AI tidak benar-benar berkreasi seperti manusia atau ilustrator. Sebaliknya, AI hanya mereplikasi karya-karya yang telah ada dengan cara yang kreatif namun tidak orisinal,” jelasnya

Fenomena AI yang meniru gaya visual studio animasi ternama seperti Studio Ghibli juga menjadi bahan perbincangan. Yutika menjelaskan bahwa AI, menggunakan metode seperti generative adversarial networks (GAN) dan diffusion models, dapat dengan mudah mereplikasi gaya visual tertentu, termasuk gaya Studio Ghibli, dengan tingkat akurasi yang tinggi.

“Meskipun AI dapat mereplikasi gaya desain Ghibli dengan tepat, AI tidak memiliki pemahaman tentang makna filosofis atau emosional dari karya tersebut. AI hanya mengolah pola dan struktur dari data yang ada,” tambah Yutika.

Namun, tantangan utama dalam penggunaan AI generatif adalah aspek etikanya, terutama dalam hal kepemilikan intelektual dan transparansi penggunaan data. Menurut Yutika, terdapat sejumlah prinsip etika yang harus menjadi acuan ketika melibatkan AI dalam proses kreatif, khususnya ketika AI dilatih menggunakan data-data yang berasal dari karya seni yang memiliki hak cipta.

“Etika dalam AI tidak hanya soal bagaimana teknologinya bekerja, tetapi juga menyangkut bagaimana manusia menggunakannya, apakah melibatkan persetujuan pencipta asli, apakah ada penghargaan terhadap orisinalitas, dan apakah hasil akhirnya bisa menyesatkan publik,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa pelatihan AI menggunakan karya visual Studio Ghibli tanpa izin dari studio tersebut merupakan tindakan yang rentan melanggar etika profesional dan hukum hak cipta. Terlebih lagi, jika karya yang dihasilkan kemudian dipublikasikan tanpa atribusi yang jelas atau bahkan digunakan untuk kepentingan komersial, hal ini bisa dianggap sebagai bentuk eksploitasi intelektual. (ita)

teknologi ai
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB

DJP Jatim I Gandeng GP Ansor Perluas Edukasi Perpajakan dan Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak

17/07/2026 - 17:25 WIB

Wali Kota Eri Cahyadi Minta Camat dan Lurah Bikin Hotline untuk Atasi Masalah Warga

16/07/2026 - 20:57 WIB

Wali Kota Eri Instruksikan Dishub Petakan Titik Rawan Macet dan Lakukan Rekayasa Lalu Lintas

16/07/2026 - 20:45 WIB

Manufacturing Surabaya 2026 Dibuka, Wagub Emil Perkuat Posisi Jatim sebagai Basis Manufaktur Asia Tenggara

16/07/2026 - 20:34 WIB

Pemkot Surabaya Dukung Program Perwalian Anak Massal, 75 Anak Resmi Dapatkan Legalitas Hukum

16/07/2026 - 20:23 WIB

Comments are closed.

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB

DJP Jatim I Gandeng GP Ansor Perluas Edukasi Perpajakan dan Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak

17/07/2026 - 17:25 WIB

Sinergi UNAIR dan ILO Siapkan Generasi Muda Hadapi Transisi Energi Berkeadilan

17/07/2026 - 17:18 WIB

Wali Kota Eri Cahyadi Minta Camat dan Lurah Bikin Hotline untuk Atasi Masalah Warga

16/07/2026 - 20:57 WIB

Wali Kota Eri Instruksikan Dishub Petakan Titik Rawan Macet dan Lakukan Rekayasa Lalu Lintas

16/07/2026 - 20:45 WIB

Manufacturing Surabaya 2026 Dibuka, Wagub Emil Perkuat Posisi Jatim sebagai Basis Manufaktur Asia Tenggara

16/07/2026 - 20:34 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.