Dalam pesatnya perkembangan lanskap musik kontemporer dunia, seniman Indonesia mendapat peran penting dalam BEAST FEaST 2025. Salah satu festival musik elektroakustik paling bergengsi di dunia.
Kali ini, bukan hanya suara musik elektronik konvensional yang mengisi panggung. Melainkan, tubuh manusia itu sendiri yang diolah menjadi musik elektroakustik melalui karya Panjago: ‘Body, Sound, dan Improvisation’.
Panjago adalah karya kolaborasi pasangan suami istri seniman lintas disiplin ilmu dari Indonesia. Mereka adalah, Hario Efenur dan Rani Jambak, bersama Prof. Scott Wilson, seniman dan profesor musik elektroakustik University of Birmingham, Inggris.
Karya ini berupa performance musik elektroakustik yang memadukan seni bela diri tradisional Minangkabau (silek), improvisasi musik digital. Sekaligus, teknologi suara imersif.
Pertunjukan komposisi musik eksperimen kolaborasi ini dipentaskan Jumat (02/05) di The Dome Bramall Music Building, University of Birmingham. Yakni, dalam event tahunan BEAST (Birmingham Electroacoustic Sound Theatre) FEaST 2025.
“Di Panjago, kami bukan hanya memainkan musik, kami menghidupkan tubuh sebagai sumber bunyi, sumber pengetahuan dan spiritualitas. Hentakan kaki, desah napas, dan gerak tubuh diamplifikasi serta diolah menjadi ritme dan nada,” kata Hario dalam keterangannya, dikutip Minggu (04/05).
Seniman asal Lasi, Sumatera Barat ini mengaku, sedang meriset silek sebagai basis musik tubuh dalam studi doktoralnya. Diketahui, Hario mengambil studi doktoralnya di ISI Surakarta.
Ia dikenal berkat pendekatan inovatifnya dalam menggunakan tubuh sebagai instrumen musik. Dan telah membawakan pertunjukan serupa ke berbagai panggung di Indonesia maupun dalam kolaborasi-kolaborasi internasional.
Istilah musik elektroakustik mungkin belum populer di Indonesia. Genre musik ini muncul sekitar tahun 1940-an di Prancis, menggunakan teknologi untuk memproses dan memanipulasi suara akustik.
Yakni, baik dari suara alam, instrumen tradisional, maupun tubuh manusia. Ini agak berbeda dari genre musik elektronik murni yang lahir di Jerman tahun 1950-an.
Sedangkan, Rani Jambak merupakan salah satu komposer dan musisi yang intens mengeksplorasi musik elektroakustik melalui karya-karya soundscape kreatifnya. Ia banyak merekam bunyi-bunyian di alam dan suara aktivitas manusia, kemudian diolahnya dengan teknologi digital menjadi komposisi musik kreatif.
Rani adalah pemenang The Oram Award 2022, di Inggris. Ia dikenal karena karyanya yang banyak mengangkat lanskap bunyi Indonesia, kritik terhadap perubahan ekologis, dan penciptaan instrumen musik.
“Dalam karya Panjago, instrumen utama berasal dari suara yang dihasilkan oleh setiap gerakan silek yang dilakukan Hario. Yang ditangkap oleh sensor kamera, dan diolah menjadi nada dan ritme,” kata Rani, yang sering dijuluki sebagai seniman perempuan pemburu bunyi, karena berbagai aktivitasnya dalam merekam suara-suara. (rri)

