Dokter Spesialis Anak (DSA), Rinawati Rohsiswatmo menyebut virus Respiratory Syncytial Virus (RSV/) sebagai ancaman baru bagi anak. Virus dengan nama lain Virus Sinisitisal Pernapasan ini menyerang bayi dengan daya tahan tubuh yang belum sempurna.
Menurutnya, kasus demam tinggi pada anak kini tidak bisa langsung diobati dengan antibiotik. Sebab, penyebab demam tidak selalu berasal dari infeksi bakteri.
Ia menyebut infeksi virus seperti RSV kini makin sering ditemui di ruang gawat darurat “Sekarang setelah zaman Covid mata kita terbuka lebar, penyebab demam bukan hanya bakteri,” katanya dalam sesi diskusi publik di Jakarta, Rabu (06/08)
Rina menceritakan pasien anak sering datang dengan suhu tubuh mencapai 40 derajat. Namun, setelah diperiksa, infeksi tersebut ternyata bukan karena bakteri.
Ia menegaskan diagnosis perlu dibedakan agar pengobatan tidak keliru. RSV, kata dia, kerap dianggap penyakit baru padahal sudah lama ada.
“RSV itu musuhnya anak-anak, terutama bayi di bawah enam bulan. Jangan dikasih antibiotik, kasih obat turun panas dan periksa lebih lanjut,” ucapnya.
Kelompok paling rentan adalah bayi dengan daya tahan rendah dan penyakit bawaan. Pada mereka, kata Rina, RSV bisa memicu gejala berat hingga membutuhkan perawatan intensif.
Ia juga menyoroti terbatasnya pemeriksaan laboratorium virus di banyak fasilitas kesehatan. “Panel virus nggak ada makna, hanya influenza yang masih ada obatnya,” ujarnya.
Ia berharap tenaga medis lebih waspada terhadap demam tinggi pada anak. Sebab, infeksi RSV tidak bisa disembuhkan dengan antibiotik biasa.
Diskusi publik bertajuk ‘Dua Generasi, Satu Ancaman: Pentingnya Cegah RSV’ digelar di Jakarta, Rabu (6/8)/2025). Diskusi ini diselenggarakan oleh Pfizer Indonesia bekerjasama dengan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (POGI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). (rri)

