Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Bank Jatim Gandeng Bank NTT Hadirkan Layanan Remitansi Internasional
  • Normalisasi Sungai Kalianak Tahap III Berlanjut, Pemkot Surabaya Tandai 70 Bangunan di Asemrowo
  • Dugaan Pungli CFD Taman Bungkul Teridentifikasi, Wali Kota Eri Minta Uang Dikembalikan
  • Parkir Makam Keputih Dibenahi, Pemkot Surabaya Pasang Portal dan CCTV
  • Pelaporan Pajak Digital Diperkuat, Wali Kota Eri Ajak Restoran dan Kafe Transparan
  • Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah
  • Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Living Lab Energi Terbarukan untuk Edukasi Green Energy
  • Pakar UNAIR: Pola Asuh Generasi Alpha Tak Cukup Hanya Membatasi Gawai
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»KOMUNITAS»ITS Hidupkan Budaya Maritim Nusantara

ITS Hidupkan Budaya Maritim Nusantara

KOMUNITAS redaksi31/07/2018 - 13:00 WIB

Bermaksud merekonstruksi ulang kebudayaan maritim nusantara, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berencana dirikan Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUI) yang terkait dengan budaya kemaritiman Indonesia. Hal ini selaras dengan keinginan bangsa Indonesia untuk membangun kembali nilai kemaritiman.

Pembahasan ini sempat tercuat dalam Diskusi Peradaban Maritim Tepian Kali Brantas yang digelar oleh Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITS di Ruang Sidang Rektorat ITS, pekan lalu.

Sejak dahulu, Indonesia memang dikenal sebagai negara maritim yang hebat. Bahkan, transportasi air memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia pada masa tersebut.

Terkait hal tersebut, PSKBPI LPPM ITS sempat melakukan penelitian peninggalan kerajaan majapahit tentang budaya kemaritiman yang ditemukan di Sidoarjo. Penemuan ini berupa candi di tepian Kali Brantas.

Menurut Dr Ir Amien Widodo M Si, Ketua Kelompok Kajian Bencana PSKBPI, penelitian ini diharapkan dapat merekonstruksi ulang budaya maritim yang pernah ada di Indonesia, utamanya di tanah Jawa. “Untuk membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia, Indonesia harus membangun budaya maritim ini,” tuturnya.

Tidak hanya di tepian kali Brantas, penelitian ini juga dilaksanakan di sepanjang tepian Kali Porong. Ia menuturkan, penelitian ini akan memberi gambaran besar budaya maritim yang ada di Indonesia pada jaman dahulu. Letak garis pantai, pelabuhan, dan bentuk kapal menjadi pokok bahasan yang nantinya akan dikembangkan.

“Penelitian yang ada tidak hanya sebatas Surabaya-Sidoarjo saja, persebarannya bahkan dapat mencapai Blitar, ujungnya di Wonorejo,” papar pria paruh baya ini. Harapannya, dengan mengetahui persebaran budaya maritim tersebut, ITS mampu membuat gambaran (virtualisasi) kebudayaan maritim yang pernah ada di Indonesia.

“Tidak hanya dari kerajaan Majapahit saja, kerajaan lain seperti Medang, Kediri, Singosari juga akan ditelisik sejarahnya,” sambungnya. Amien menuturkan, ITS akan secara serius menggarap penelitian melalui terbentuknya PUI. Dengan adanya PUI tersebut, ITS berharap bisa membuat sebuah museum sebagai bahan edukasi bagi generasi saat ini.

Diskusi Peradaban Maritim Tepian Kali Brantas ini menghadirkan Staf Ahli Kemaritiman Sosio-Antropologi Dr Ir Tukul Rameyo MT, arkeolog dari Universitas Indonesia Dr Ir Cecep Eka Permana, arkeolog Universitas Negeri Malang Drs Dwi Cahyono M Si, wakil dari komunitas Laskar Nusantara 6 Tri Kiswono Hadi, dan dosen Teknik Geofisika ITS Firman Syaifuddin ST MT.

Amien menuturkan, narasumber dalam diskusi ini adalah komponen pendukung dalam penelitian yang berlangsung sejak tahun 2017. “Kami hanya mampu mempelajari bentuk fisiknya, untuk sejarahnya, butuh ahli arkeologi,” pungkasnya. Ia menganggap, penelitian perihal budaya memang butuh banyak sumber. (ita)

Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Bank Jatim Gandeng Bank NTT Hadirkan Layanan Remitansi Internasional

24/07/2026 - 23:51 WIB

Normalisasi Sungai Kalianak Tahap III Berlanjut, Pemkot Surabaya Tandai 70 Bangunan di Asemrowo

24/07/2026 - 07:54 WIB

Dugaan Pungli CFD Taman Bungkul Teridentifikasi, Wali Kota Eri Minta Uang Dikembalikan

24/07/2026 - 07:48 WIB

Parkir Makam Keputih Dibenahi, Pemkot Surabaya Pasang Portal dan CCTV

24/07/2026 - 07:41 WIB

Pelaporan Pajak Digital Diperkuat, Wali Kota Eri Ajak Restoran dan Kafe Transparan

24/07/2026 - 07:34 WIB

Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen

22/07/2026 - 18:48 WIB

Comments are closed.

Bank Jatim Gandeng Bank NTT Hadirkan Layanan Remitansi Internasional

24/07/2026 - 23:51 WIB

Normalisasi Sungai Kalianak Tahap III Berlanjut, Pemkot Surabaya Tandai 70 Bangunan di Asemrowo

24/07/2026 - 07:54 WIB

Dugaan Pungli CFD Taman Bungkul Teridentifikasi, Wali Kota Eri Minta Uang Dikembalikan

24/07/2026 - 07:48 WIB

Parkir Makam Keputih Dibenahi, Pemkot Surabaya Pasang Portal dan CCTV

24/07/2026 - 07:41 WIB

Pelaporan Pajak Digital Diperkuat, Wali Kota Eri Ajak Restoran dan Kafe Transparan

24/07/2026 - 07:34 WIB

Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah

22/07/2026 - 19:17 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.