Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kebakaran hutan yang kerap terjadi saat musim kemarau panjang seperti sekarang ini, salah satunya dengan membuat alat sederhana bernama Gepyok.
Gepyok merupakan alat tradisional pemadam kebakaran yang terbuat dari bambu atau kayu berbentuk seperti sapu lidi. Cara penggunaannya pun sangat mudah yakni dengan dipukulkan pada api yang menyalah area ilalang, pdang rumput atau kawasan hutan.
“Meskipun merupakan alat tradisional dan sederhana, gepyok sangat efektif memadamkan api yang membakar serasah atau ranting kering di hutan,” kata Administratur Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Mojokerto, Budi Widodo di laman Resmi Perhutani, Senin (30/7).
Untuk dikatahui wilayah hutan di Jatim cukup luas, yakni 1.132.260,37 ha, terdiri dari hutan produksi 812.328,24 ha dan hutan lindung 319.932,13 ha. Kondisi cuaca ekstrim yang terjadi akhir-akhir ini ditanggapi serius oleh Perhutani.
KPH Mojokerto, membuat kebijakan agar tiap-tiap Resort Pemangkuan Hutan (RPH) di wilayahnya membuat alat sederhana untuk mengatasi kebakaran hutan skala kecil sehingga api dapat dipadamkan sebelum membesar. ”Alat yang kami dimaksud adalah alat tradisional Gepyok,” jelasnya.
Widodo mengatakan semakin cepat api dipadamkan petugas lapangan, maka kebakaran hutan tidak akan meluas.
Saat ini pembuatan gepyok dilakukan Koordinator Keamanan (Korkam). Minimal setiap RPH punya 4 sampai 5 gepyok untuk antisipasi kebakaran hutan yang tak terduga.
“Selain itu peran serta masyarakat juga kami harapkan untuk segera menginformasikan pada petugas Perhutani jika melihat adanya kobaran api di hutan,” ujarnya.
Selain pembuatan Gepyok, upaya lain yang dilakukan oleh KPH Mojokerto dalam menghadapi cuaca ekstrim ini adalah dengan memantau aplikasi Lapan Fire Hotspot sehari 2 kali.
Apabila ditemukan titik api, maka petugas akan segera bergerak mendatangi lokasi tersebut tentunya dengan membawa gepyok dan alat pemadam kebakaran hutan lainnya. (jnr)

