Kebudayaan nusantara memang tak ada habisnya menginspirasi kita. Inspirasi itu tak disia-siakan oleh sekelompok mahasiswa dari Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dengan nama tim Red Jaeger, mereka membuat Jembatan Canai Dingin yang diberi nama Tudang Sipulang.
“Tudang Sipulang artinya duduk bersama atau musyawarah,” ujar Andre Oktavian Wijaya mahasiswa jurusan Teknik Sipil semester 5 angkatan 2016 selaku salah satu anggota tim Red Jaeger, Kamis (3/1).
Desain dari Jembatan Tudang Sipulang mengadopsi kebudayaan Nusantara yang ada di Sulawesi, yaitu dengan menggabungkan 4 suku. Empat suku dan kebudayaan tersebut antara lain Makassar (senjata badik, kapal phinisi), Bugis (tari kipas), Toraja (warna corak), dan Mandar (ukiran).
Menurut Andre, Tudang Sipulang hanya menghasilkan lendutan sebesar 2.175 mm dari angka maksimal untuk lendutan 15 mm. Hasil itu menjadikan Tudang Sipulang sebagai juara Jembatan Terkokoh.
Tudang Sipulang menyabet Juara 1 kategori Jembatan Canai Dingin pada Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) XIV yang diadakan di Politeknik Negeri Ujung Pandang Makassar (PNUP) belum lama ini.
“Karena setelah pengujian beban hidup di tengah bentang jembatan sebesar 400 kg, lendutan yang dihasilkan Jembatan Tudang Sipulung sangat jauh dari angka maksimal ledutan,” papar Andre.
Tak berhenti di situ, tim Red Jaeger juga meraih juara pada kategori K3 Terbaik. Hal tersebut, diakui Andre, karena kelengkapan papan-papan peringatan konstruksi beserta pakaian keamanan yang dikenakan oleh seluruh anggota.
Kendati demikian, Andre mengaku lawan terberatnya adalah Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Brawijaya (UB).Untuk diketahui, jembatan ini menurut Andre nantinya akan disumbangkan.
“Ada omongan dari beberapa dosen akan disumbangkan. Untuk disumbangkan ke mananya belum tahu karena belum ada pembicaraan lebih lanjut,” pungkasnya.(jnr)

