Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • D-8 Youth Dialogue UNAIR Soroti Ketahanan Energi, Peran Anak Muda Dinilai Penting dalam Mendorong Inovasi
  • Dishub Surabaya Tempuh Proses Hukum Usai Dugaan Pencurian Rambu Parkir di Satpas Colombo Viral
  • RICH Pakal Jadi Ruang Belajar Bahasa Inggris Gratis, Ratusan Anak Antusias Ikut Kelas
  • Chelsea Rilis Jersey Kandang 2026-2027 dengan Strategi Peluncuran Unik
  • Cross Musea Pertiwi 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan AI dan Wayang
  • ITS Perluas Kerja Sama Global dengan HSE Rusia, Fokus Sains dan Teknologi
  • Khofifah Tinjau SPMB 2026 di Surabaya, Antrean Lebih Tertib dan Layanan Meningkat
  • Khofifah Sambut Jemaah Haji Kloter I, Apresiasi Layanan Imigrasi Digital
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»TEKNOLOGI»Limbah B3 jadi Beton, Dosen ITS Juara

Limbah B3 jadi Beton, Dosen ITS Juara

TEKNOLOGI redaksi03/12/2019 - 15:00 WIB

Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Eng Januarti Jaya Ekaputri ST MT, berhasil mengolah limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari industri menjadi beton yang ramah lingkungan.

Penelitian itu pun akhirnya berhasil mengantarkannya meraih juara pertama dalam ajang Mining and Minerals Industry Institute (MMII) Research Award Competition 2019 di Four Seasons Hotel, Jakarta, Rabu (27/11) lalu.

Perempuan yang akrab disapa Yani ini mengakui, inovasi yang dikembangkannya tersebut tidak mudah untuk dilakukan. Pasalnya, regulasi dari pemerintah menyatakan kalau sebagian limbah dari industri merupakan B3. Sehingga tantangan untuk meningkatkan inovasi ini dari skala laboratorium menjadi skala industri juga semakin besar.

Limbah yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah abu batubara baik itu fly ash maupun bottom ash. Yani menyebutkan, sebenarnya limbah tersebut tidak beracun. “Akan tetapi pemerintah menetapkan sebagai limbah B3,” tuturnya.

Selain akan bermanfaat untuk industri, menurut Yani, inovasi tersebut juga memiliki efek positif bagi pemerintah. “Kita bisa habiskan seluruh limbah industri dengan memasukkannya ke dalam semen untuk membuat beton ramah lingkungan,” ungkap dosen Departemen Teknik Sipil ITS tersebut.

Kemudian untuk meningkatkan kekuatan daya tekan beton dan produksinya yang prima, Yani juga memasukkan bakteri ke dalamnya. Dikatakan Yani, bakteri tersebut juga dapat hidup dan berkembang di dalam beton yang ramah lingkungan ini.

Dijelaskan Yani lebih lanjut, bakteri berperan dalam beton dengan cara bereaksi dengan kapur terlarut dalam beton menjadi CaCO3 (calcite) yang mengisi pori-pori dalam beton, sehingga beton menjadi padat.

Beton yang mengandung limbah biasanya rapuh, tapi dengan ditambahi bakteri bisa menjadi kuat dan bersifat positif. “Bahkan bisa menyembuhkan retak pada beton,” ungkapnya.

Proposal penelitian yang berjudul SIBELHIJAU: Inovasi Produk Beton Ramah Lingkungan dengan Kandungan Mikroba Terkapsulasi dalam Limbah B3 tersebut juga sebagai bukti kepada pemerintah bahwa Indonesia memiliki infrastruktur yang lebih baik dan bermanfaat. “Sehingga kita menjadi bangga menjadi masyarakat Indonesia,” tandasnya.

MMII Research Award Competition 2019 sendiri merupakan program penghargaan untuk proposal penelitian terbaik di Indonesia dalam bidang eksplorasi, pertambangan, dan hilirisasi mineral dan batubara (minerba).

Hasil penelitian Yani sendiri untuk mendukung pengembangan bidang eksplorasi, pertambangan dan hilirisasi minerba tersebut. Total pendanaannya pun sebesar Rp 3 miliar untuk 2-3 proposal terpilih.

Selain dari ITS, terdapat pula peneliti juara kedua dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia (UI) yang meraih juara ketiga. Sebelumnya, kompetisi ini diikuti 124 proposal, hingga diseleksi menjadi 25 proposal unggulan. Selanjutnya menjadi 10 finalis dan akhirnya ditetapkan lima grand finalis. (ita)

Dosen ITS Januarti Jaya Ekaputri Limbah B3 Mining and Minerals Industry Institute (MMII) Research Award Competition 2019
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

ITS Kembangkan Bensin Sawit Ramah Lingkungan, Efisien dan Berpotensi Kurangi Ketergantungan BBM Impor

07/04/2026 - 21:11 WIB

Mahasiswa ITS Ciptakan Rompi Pintar SAFE, Tingkatkan Keselamatan Lansia Berbasis IoT dan Deep Learning

13/12/2025 - 00:24 WIB

Balapan Gokart Listrik di Sirkuit ITS

25/11/2025 - 13:00 WIB

ITS Sukses Mendominasi Gemastik 2025

05/11/2025 - 15:00 WIB

ITS Kembangkan Paving Anti-banjir

04/11/2025 - 12:00 WIB

Jam Tangan Daur Ulang Mahasiswa ITS

18/10/2025 - 13:00 WIB

Comments are closed.

D-8 Youth Dialogue UNAIR Soroti Ketahanan Energi, Peran Anak Muda Dinilai Penting dalam Mendorong Inovasi

03/06/2026 - 19:21 WIB

Dishub Surabaya Tempuh Proses Hukum Usai Dugaan Pencurian Rambu Parkir di Satpas Colombo Viral

03/06/2026 - 19:05 WIB

RICH Pakal Jadi Ruang Belajar Bahasa Inggris Gratis, Ratusan Anak Antusias Ikut Kelas

03/06/2026 - 18:57 WIB

Chelsea Rilis Jersey Kandang 2026-2027 dengan Strategi Peluncuran Unik

02/06/2026 - 22:55 WIB

Cross Musea Pertiwi 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan AI dan Wayang

02/06/2026 - 22:01 WIB

ITS Perluas Kerja Sama Global dengan HSE Rusia, Fokus Sains dan Teknologi

02/06/2026 - 21:50 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.