Perjalanan karier di dunia kesehatan kerap diwarnai tantangan panjang yang menuntut ketekunan, integritas, serta kemampuan terus mengembangkan kompetensi. Hal tersebut tercermin dari perjalanan Ns. Edy Purwanto, S.Kep., M.Kep., MH (Kes), alumni Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (UNAIR), yang kini dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Tim Kerja Pendidikan dan Pelatihan (Diklit) RSUD dr Soedono Madiun.
Jabatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan profesional Edy setelah bertahun-tahun mengabdi sebagai aparatur sipil negara di lingkungan rumah sakit. Pengalaman panjang di bidang pelayanan kesehatan, khususnya di kamar operasi, menjadi modal penting yang mengantarkannya memperoleh promosi jabatan pada 2024.
Edy menilai perjalanan kariernya tidak terlepas dari peran Universitas Airlangga sebagai almamater yang membuka akses terhadap jejaring profesional maupun pengembangan kompetensi. Menurutnya, dukungan dari sivitas akademika, termasuk pembimbing akademik Prof. Nursalam, turut memberikan kesempatan untuk terlibat dalam berbagai organisasi profesi dan jejaring alumni.
Selain berkarier di rumah sakit, Edy juga aktif dalam organisasi alumni. Ia menjabat sebagai Sekretaris Ikatan Alumni (IKA) UNAIR Cabang Madiun serta menjadi pengurus IKA UNAIR Jawa Timur di bidang kebencanaan. Keterlibatan tersebut dinilainya turut memperluas kolaborasi dan kesempatan berkontribusi di berbagai sektor pelayanan kesehatan.
Di balik pencapaiannya saat ini, Edy menyimpan kisah perjuangan yang tidak singkat. Selepas lulus SMA pada 1998, ia sempat bercita-cita menjadi dokter dengan mengikuti seleksi Fakultas Kedokteran UNAIR selama dua tahun berturut-turut. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Kegagalan tersebut tidak menghentikan langkahnya. Ia kemudian memilih menempuh pendidikan Diploma III Keperawatan di Universitas Muhammadiyah Ponorogo sebagai alternatif untuk tetap berkarya di bidang kesehatan.
Perjalanan kariernya mulai menemukan titik terang setelah diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil pada 2005. Status tersebut membuka peluang baginya memperoleh beasiswa dari Kementerian Kesehatan untuk melanjutkan pendidikan.
Melalui program beasiswa penuh, Edy akhirnya berhasil mewujudkan impiannya menjadi mahasiswa Universitas Airlangga dengan menempuh Program Sarjana Keperawatan. Kesempatan serupa kembali diperolehnya pada 2017 ketika melanjutkan pendidikan Magister Keperawatan di UNAIR. Pada tahun yang sama, ia juga mengambil program double degree Magister Hukum Kesehatan sebagai bentuk penguatan kompetensi di bidang layanan kesehatan.
Pengalaman akademik yang dipadukan dengan praktik lapangan selama hampir dua dekade menjadi fondasi penting dalam perjalanan kepemimpinannya. Selama sekitar 19 tahun, Edy bertugas di instalasi kamar operasi RSUD dr Soedono Madiun sebelum dipercaya memimpin Tim Kerja Diklat.
Selain mengemban tugas tersebut, ia juga dipercaya sebagai Ketua Koordinator Pendidikan Keperawatan (Kordik Keperawatan), Sekretaris Satuan Pengawas Internal (SPI), Ketua DPD Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Madiun, Sekretaris DPW PPNI Jawa Timur, pengurus pusat HIPKABI, anggota Kolegium Keperawatan Indonesia, serta aktif di sejumlah organisasi profesi lainnya.
Menurut Edy, keberhasilan dalam dunia kerja tidak ditentukan oleh pencapaian yang instan, melainkan melalui proses panjang yang dibangun dengan integritas, kejujuran, disiplin, dan konsistensi dalam memberikan kinerja terbaik. Ia juga menekankan pentingnya menghormati guru dan para pendidik sebagai bagian dari nilai yang harus dijaga dalam perjalanan hidup maupun karier.
Baginya, kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri dan terus melangkah. Pesan tersebut menjadi refleksi dari perjalanan hidupnya sendiri, yang berawal dari kegagalan masuk fakultas impian hingga akhirnya mampu meraih berbagai amanah strategis di dunia pelayanan kesehatan dan organisasi profesi. (ita)

