Pendidikan menjadi titik balik bagi banyak anak muda yang berasal dari keluarga sederhana untuk mengubah masa depan. Kisah tersebut tergambar dari perjalanan karier Fermanto, alumnus Program Studi S1 Teknologi Hasil Perikanan Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 2015, yang berhasil menembus posisi strategis di industri nasional berkat kerja keras, ketekunan, dan semangat belajar.
Berangkat dari sebuah desa dengan keterbatasan ekonomi, Fermanto memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi melalui program Beasiswa Bidikmisi. Kesempatan tersebut menjadi awal perjalanan yang kemudian membawanya meraih posisi sebagai Wakil Manajemen sekaligus Manager Quality Control dan Quality Assurance (QC QA) pada perusahaan industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK).
Bagi Fermanto, beasiswa yang diterimanya bukan sekadar bantuan finansial untuk menempuh pendidikan, tetapi juga amanah yang harus dipertanggungjawabkan melalui prestasi, kedisiplinan, dan komitmen untuk terus berkembang. Kesadaran tersebut mendorongnya memanfaatkan masa kuliah tidak hanya untuk mengejar capaian akademik, tetapi juga memperkaya pengalaman organisasi dan pengembangan kompetensi.
Selama menempuh pendidikan di FPK UNAIR, Fermanto memperdalam berbagai bidang yang berkaitan dengan keamanan pangan, analisis laboratorium, serta pengembangan produk hasil perikanan. Selain aktif mengikuti kegiatan akademik, ia juga terlibat dalam organisasi kemahasiswaan yang membentuk kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan kerja sama tim.
Keterbatasan ekonomi tidak membuatnya bergantung sepenuhnya pada beasiswa. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus menambah pengalaman, Fermanto menjalani berbagai pekerjaan sambil kuliah. Ia pernah berjualan tahu bakso hingga menjadi administrator Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan (JIPK), jurnal ilmiah yang kini telah terindeks Scopus Quartile 2 (Q2).
Beragam aktivitas tersebut memberinya pelajaran berharga mengenai manajemen waktu, tanggung jawab, serta pentingnya menghargai setiap proses dalam perjalanan hidup. Pengalaman bekerja sejak mahasiswa turut membentuk karakter profesional yang kemudian menjadi bekal ketika memasuki dunia industri.
Setelah menyelesaikan studi pada 2019, Fermanto memulai karier melalui program magang sebelum diterima sebagai analis laboratorium di sebuah perusahaan pakan ternak di Mojokerto. Namun, perjalanan kariernya tidak selalu berjalan mulus. Pandemi Covid-19 yang melanda dunia membuatnya terdampak pemutusan hubungan kerja.
Alih-alih menyerah, kondisi tersebut justru menjadi titik balik untuk mencari peluang baru. Fermanto kemudian melanjutkan karier di Situbondo sebagai Supervisor Quality Assurance dan Quality Control pada perusahaan pengolahan tepung agar-agar. Di perusahaan tersebut, ia mulai dipercaya memimpin tim sekaligus mengembangkan sistem manajemen mutu serta memberikan edukasi mengenai keamanan pangan kepada para pekerja.
Pengalaman tersebut membuka jalan menuju jenjang karier berikutnya di industri perikanan sebagai Supervisor QC Proses. Dalam posisi itu, ia memperdalam kompetensi di bidang pengendalian mutu produksi, peningkatan efisiensi proses, serta pengembangan kemampuan sumber daya manusia di lingkungan perusahaan.
Setiap perpindahan pekerjaan menjadi bagian dari proses penguatan kompetensi profesional. Pengalaman lintas industri membuat Fermanto semakin memahami pentingnya penerapan sistem mutu, standar keamanan pangan, serta kepemimpinan dalam mendukung daya saing perusahaan.
Kini, kepercayaan besar diberikan kepadanya dengan mengemban dua jabatan sekaligus sebagai Wakil Manajemen dan Manager QC QA pada perusahaan Air Minum Dalam Kemasan. Tanggung jawab yang diemban tidak hanya mencakup pengawasan mutu produk, tetapi juga memastikan implementasi sistem manajemen mutu, keamanan pangan, pengembangan sumber daya manusia, serta membangun budaya kualitas di seluruh organisasi.
Menurut Fermanto, perjalanan karier yang ditempuh menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Ia menilai pendidikan, kemauan untuk terus belajar, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, serta keberanian menghadapi tantangan merupakan faktor penting dalam membangun masa depan yang lebih baik.
Perjalanan alumnus FPK UNAIR tersebut sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa, khususnya penerima beasiswa dan generasi muda dari daerah, bahwa kesempatan untuk berkembang selalu terbuka bagi mereka yang memiliki tekad kuat dan konsisten meningkatkan kapasitas diri. Dari seorang anak desa penerima Bidikmisi hingga dipercaya memimpin sistem mutu di industri nasional, kisah Fermanto menunjukkan bahwa kesuksesan dibangun melalui proses panjang, bukan diperoleh secara instan. (ita)

