Lulusan perguruan tinggi Indonesia terus menunjukkan kiprahnya di tingkat global, termasuk dalam bidang pembangunan ekonomi, evaluasi kebijakan publik, dan kerja sama internasional. Salah satu sosok yang menorehkan rekam jejak tersebut adalah Erlangga Agustino Landiyanto, SE., MA., MSc., MPA., PhD., alumnus Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR).
Selama perjalanan profesionalnya, Erlangga dipercaya menangani berbagai program pembangunan bersama lembaga internasional ternama. Pengalaman tersebut membawanya berkontribusi dalam penyusunan kebijakan, evaluasi program, hingga pendampingan pembangunan di sejumlah wilayah Indonesia, sekaligus memperkuat posisinya sebagai bagian dari jaringan profesional global.
Karier internasional Erlangga dimulai ketika bergabung dengan sebuah lembaga internasional di Surabaya. Kesempatan itu kemudian mengantarkannya terlibat dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana tsunami Aceh dan Nias sekitar tahun 2006. Saat itu, ia bergabung dengan United Nations Office of the Recovery Coordinator (UNORC), lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertugas mengoordinasikan berbagai organisasi internasional dalam proses pemulihan wilayah terdampak bencana.
Pengalaman di Aceh menjadi titik awal perjalanan kariernya di dunia pembangunan internasional. Setelah itu, Erlangga dipercaya mengisi berbagai posisi strategis di sejumlah organisasi dan lembaga pembangunan, di antaranya CARE International, Bank Dunia, UNICEF di Papua, Program MAHKOTA, Sekretariat ASEAN, hingga akhirnya berkarya di Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jakarta.
Beragam penugasan tersebut mempertemukannya dengan isu-isu pembangunan yang kompleks, mulai dari pengentasan kemiskinan, perlindungan sosial, pembangunan sumber daya manusia, hingga evaluasi kebijakan publik yang berdampak langsung terhadap masyarakat.
Erlangga menilai bekal akademik yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Program Studi Ekonomi Pembangunan FEB UNAIR menjadi fondasi penting dalam menjalankan berbagai tanggung jawab tersebut. Menurutnya, mata kuliah seperti ekonomi makro, ekonomi mikro, hingga ekonometrika memiliki keterkaitan erat dengan pekerjaan di bidang perencanaan, analisis, dan evaluasi pembangunan.
Selain pengalaman profesional, Erlangga juga menempuh pendidikan pascasarjana di berbagai negara. Ia melanjutkan studi di Thailand dan Belgia sebelum meraih gelar doktor di Inggris. Pengalaman belajar lintas negara tersebut memperluas perspektifnya terhadap pembangunan sekaligus membentuk cara berpikir yang lebih analitis.
Ia menjelaskan bahwa sistem pendidikan di sejumlah universitas luar negeri lebih menitikberatkan pada kemampuan berpikir kritis, analisis persoalan, serta penyelesaian masalah berbasis data dibandingkan sekadar menguasai teori. Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi bekal penting bagi siapa pun yang ingin berkarier di lingkungan internasional.
Berdasarkan pengalamannya, Erlangga juga membagikan sejumlah strategi bagi mahasiswa yang ingin meniti karier global. Ia menyarankan agar mahasiswa memanfaatkan masa kuliah secara seimbang, yakni aktif mengikuti organisasi pada awal perkuliahan untuk mengembangkan kepemimpinan dan jejaring, kemudian memperbanyak pengalaman magang menjelang kelulusan guna memperkuat kompetensi profesional.
Di samping pengalaman organisasi dan akademik, ia menekankan pentingnya penguasaan bahasa asing sebagai modal utama memasuki dunia kerja internasional. Menurut Erlangga, kemampuan berkomunikasi secara global harus dibarengi dengan keberanian menghadapi tantangan baru dan kesiapan keluar dari zona nyaman agar mampu bersaing di tingkat internasional.
Perjalanan Erlangga Agustino Landiyanto menjadi gambaran bahwa lulusan perguruan tinggi Indonesia memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam pembangunan dunia. Dengan fondasi akademik yang kuat, pengalaman lapangan, kemampuan berpikir kritis, serta kesiapan menghadapi tantangan global, generasi muda Indonesia dinilai mampu mengambil peran strategis di berbagai lembaga internasional maupun organisasi pembangunan lintas negara. (ita)

