Arena Kehidupan di Balik Borobudur Maraton
JALAN-JALAN OLAHRAGA

Arena Kehidupan di Balik Borobudur Maraton

Sebanyak 11 ribu pelari terjun ke arena Borobudur Maraton 2019. Pelari asingnya datang dari 34 negara. Wisata sport cukup menjanjikan. Presiden Jokowi mendesak agar arena MotoGP Mandalika Lombok dikebut.

Sebagai ikon wisata, pamor Candi Borobudur sudah mendunia. Jutaan manusia sudah mendatanginya, sekali atau dua kali, sebagai kunjungan wisata. Namun alasan apa yang mendorong orang mau datang lagi dan datang lagi?

Dinas Pariwisata Kabupaten Magelang mencatat, pengunjung Borobudur datang dengan sejumlah alasan, yakni wisata, wisata spiritual agama, sport, seni, budaya, ilmu-pengetahuan, bisnis, dan keperluan khusus lainnya.

Maka, hampir 11 ribu pelari pun berjejal mengikuti Borobudur Maraton 2019, pada Sabtu (16/11) pagi. Sebagian mereka atlet, namun sebagian besarnya adalah penggemar olah raga lari dari berbagai usia, yang datang dengan komunitas masing-masing.

Bersama mereka hadir pula 20 ribuan dari kalangan keluarga serta handai tolan. Jadilah, Borobudur Maraton 2019 itu tergelar sebagai event wisata sport yang diwarnai suasana riang gembira. Pesertanya datang dari 34 negara.

Borobudur Maraton kini telah menjadi event internasional, dan masuk dalam list Running Races Asia. Sebagai event sport, Borobudur Maraton juga mendatangkan pelari top yaitu Geoffry Kiprotich, Toniji Kiprop, Peninah Kigen, dan Edinah Mutahi.

Mereka sudah biasa malang-melintang di arena maraton. Walhasil, pelari-pelari dari Kenya itulah merajai baik di nomor 42,195 km maupun half marathon 21 km.

Borobudur Maraton itu sudah dirintis sejak lama. Pada mulanya 1990, di situ digelar Borobudur 10-K. Namun baru tiga tahun berjalan, sesudah itu mati suri. Pada 2002 – 2005 event Running Races 10-K itu sempat muncul lagi, kemudian tenggelam lagi.

Sejak 2013 penyelenggaraan running race Borobudur semakin bersungguh-sungguh. Tidak hanya pamer hadiah, tapi soal track lari dan partisipasi warga pun diperhitungkan.

Borobudur 10-K tahun 2014 digelar dan pesertanya semakin membeludak. Pada 2015, 10-K diperluas dengan half marathon 21 km, dan pesertanya terus bertambah.

Maka, per 2016 Borobudur Maraton itu 42,195 km, selain ada kelas 10-K, half marathon 21 km, bahkan kelas lari ultra 120 km. Pesertanya 20 ribu dari 17 negara. Tapi, sejak 2017 jumlah pesertanya dibatasi pada angka 10.000 ribu pelari, disesuaikan dengan lebar track-nya.

Track yang dilewati running races Borobudur itu sejak 2018 telah mengantongi sertifikat kelayakan dari Association of International Marathon and Distance Races (AIMS). Borobudur Maraton digelar pada pertengahan November. Bank Daerah Jawa Tengah menjadi sponsor utamanya.

Untuk event 2019, peminatnya jauh lebih besar ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Namun, karena kuotanya dibatasi, terkait lebar track-nya, peserta harus diundi. Beberapa peserta menyatakan senang bisa terjun dalam lomba lari di sekitar Borobudur.

Ada suasana budaya yang kental, sambutan warga yang ramah, menampilkan aneka tari dan sajian kuliner gratis, ditambah panorama Borobudur yang memberi suasana berbeda. Mereka tak lagi mengeluhkan tentang track dan akomodasinya. Home stay yang bersih dan ber-AC di sekitar Borobudur sudah menjamur.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendukung event ini sejak awal. Ia merasa cukup puas dengan Borobudur Maraton 2019 itu. Ganjar, yang juga turun sebagai pelari di nomor 10-K, menyebutnya tak sebatas wisata dan sport.

Di lapangan, ia melihat peserta yang benar-benar berkompetisi, tapi ada juga yang hanya ingin memperbaiki rekor pribadinya, ada peserta yang mendorong kereta untuk membawa anaknya yang lumpuh, ada penyandang kanker, penyintas kanker, serta warga yang bergotong-royong turut menyukseskan acara. ‘’Ini arena kehidupan dan kemanusiaan,’’ katanya.

Borobudur kini menjadi salah satu event running races tourism yang diperhitungkan di Asia. Pamornya tak kalah dengan Maybank Bali Maraton atau Mandiri Jakarta Maraton.
Masih ada pula running races Indonesia yang mulai dikenal secara internasional, seperti Yogya Maraton, Bromo Maraton, Lombok Maraton, dan Toraja Maraton.

Event serupa juga digelar oleh negara tetangga. Singapura menggelar lomba maraton dua kali setahun, yakni Singapore Marathon (pagi) pada Desember dan Sun Down Singapore Marathon (malam) di bulan Maret.

Malaysia punya dua event utama, yakni KL Marathon dan Penang Bridge Marathon, yang sangat mendunia. Thailand punya Laguna Pukhet Marathon. Yoma Yangoon Marathon rutin digelar di Myanmar, Angkor Empire di Kamboja, lalu Ha Loong Bay Heritage dan Mountain Marathon di Vietnam.

Bersama sejumlah running races lain di Jepang, Korea, Tiongkok, Hong Kong, Macau, dan Taiwan, event-event itu termasuk yang direkomendasikan oleh berbagai komunitas pelari seperti disampaikan justrun.com. Di Indonesia, sejauh ini, baru Bali Maraton yang mendapatkan rekomendasi.

Memang, masih perlu kerja teknis lebih banyak untuk membawa Borobudur Maraton, Bromo, Yogya, Lombok, Toraja, bahkan Mandiri Jakarta Maraton, untuk masuk dalam kalender maraton Asia atau bahkan dunia.

Namun, seperti terlihat di Borobudur, potensi besar ada di Indonesia. Peserta dan para pendukungnya menyukai aspek lokal yang ada, yaitu budaya, seni, kuliner, dan sejarah situsnya.

Wisata olah raga memang sedang tumbuh mendukung industri pariwisata secara umum. Bisnis wisata dunia sendiri secara umum selalu tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi dunia.

Ketika ekonomi global tumbuh 3,2 persen pada tahun 2019 ini, global travel & tourism industries tumbuh 3,9 persen. Sekitar 1,3 miliar turis berwisata menyeberang perbatasan dari satu negara ke negara lain.

Industri pariwisata nasional pun memiliki potensi pertumbuhan yang lebih tinggi. Bukan hanya dari 18 juta turis mancanegara, yang diharapkan datang ke Indonesia pada 2019. Wisatawan domestik pun tak kalah potensinya.

Presiden Joko Widodo sendiri di berbagai kesempatan menekankan agar infrastruktur jalan, bandara, pelabuhan laut, jalan tol, agar terkoneksi ke sentra-sentra ekonomi termasuk destinasi wisata.

Dalam seremoni penyerahan daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) dan daftar transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) di Istana Negara, Kamis (14/11), Presiden Jokowi pun sempat menyentil agar anggaran yang turun bergegas digunakan untuk menambah fasilitas di destinasi Labuan Bajo (Flores) dan Mandalika (Lombok) yang notabene sedang menyiapkan arena untuk Moto GP.

Fasilitas dan infrastruktur pendukung untuk memang diperlukan untuk menambah daya saing pariwisata Indonesia.

Daya saing industri pariwisata sendiri terus menguat. Menurut World Economic Forum (WEF), di 2019 indeks daya saing pariwisata telah merambat naik ke peringkat 40 dari 140 negara.

Skornya 4,3, makin tipis jaraknya dari Malaysia dan Thailand yang skornya sama-sama 4,5 dan berada di peringkat 29 dan 31 dunia. Dan dibanding kedua negara tetangga itu, Indonesia memiliki keragaman budaya yang lebih kaya. (ist)