Beralih ke Aspal Buton
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Beralih ke Aspal Buton

Indah kabar dari rupa. Begitulah gambaran tentang aspal Pulau Buton (Asbuton). Hal ihwal bahwa Pulau Buton memiliki deposit aspal yang sangat besar, yang sangat berguna untuk pembangunan negeri, sudah diajarkan kepada anak-anak SD–SMP dan yang sederajat, dalam pelajaran geografi.

Namun belakangan, industri penambangan dan pengolahan aspal di Buton sepi dan Indonesia kebanjiran oleh aspal impor. Situasi ironis itu ditangkap Presien Joko Widodo, yang melakukan kunjungan ke Buton, pulau seluas 4.727 km2, yang dipisahkan laut selebar 10 km dari semenanjung Sulawesi Tenggara (Sultra).

Rincian atas situasi aspal Buton itu didengar Presiden Jokowi ketika mengunjungi Pabrik Aspal Wijaya Karya (Wika) Bitumen di Lawele, Buton, Selasa (27/09). Presiden menyayangkan industri aspal tak bisa berjalan sebagaimana mestinya.

‘’Tadi sudah kita putuskan, dua tahun lagi tidak ada impor aspal. Semuanya harus dikerjakan oleh Buton. Silakan. Mau BUMN silakan, swasta silakan, join dengan asing juga silakan, tetapi kita ingin ada nilai tambah dari aspal yang ada di Buton,” tegas Presiden Jokowi, dalam keterangan persnya di area pabrik aspal PT Wika Bitumen, Lawele, Kabupaten Buton.

Pulau Buton diketahui masih menyimpan deposit aspal alam 662 juta ton, terbesar di dunia, yang bahkan merupakan 80 persen cadangan aspal alam dunia. Meski pun demikian, pemanfaatannya masih rendah. Selama seabad, sejak deposit aspal itu ditemukan di awal 1920-an, penggunaannya sebagai aspal olahan belum sampai 5 juta ton. Produksi terbesar terjadi pada 1987-an, yakni 350 ribu ton per tahun, dan 1993-1994 sebesar 200 ribu ton. Setelah itu drop.

Padahal di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur, kebutuhan aspal nasional bisa mencapai 4 sampai 5 juta ton per tahun. Ada kebutuhan menambah jalan raya baru, selain merawat 398 ribu km jalan negara yang ada. Cadangan aspal Buton yang 662 juta ton itu setara dengan 340 juta ton aspal olahan.

Presiden Jokowi pun berharap bisa dilakukan percepatan dalam pemanfaatan produk aspal Buton. “Nilai tambahnya ada di sini, pajak ada di sini, royalti ada di sini, dividen ada di sini, pajak karyawan semuanya ada di sini. Sehingga kita harapkan, Buton hidup kembali sebagai industri penghasil aspal, bukan tambang, bukan tambang,” kata Presiden Jokowi. Artinya, Presiden Jokowi meminta agar saat meninggalkan Pulau Buton, aspal sudah berupa produk jadi yang bisa langsung dituangkan di jalan raya.

Di Pulau Buton, yang luasnya hampir sama dengan Pulau Lombok, deposit aspal itu terkonsentrasi di Kabupaten Buton, wilayah yang berada di bagian selatan pulau. Utamanya di lembah-lembah yang membentang dari Teluk Sampolawa ke Teluk Lawele, sepanjang 75 km. Lumpur aspal ini berada di lembah-lembah di bawah lereng perbukitan.

Deposit lumpur aspal rata-rata berada 4 meter, dengan variasi 1–17 meter, di bawah permukaan tanah. Kandungan aspalnya pun bervariasi. Ada yang hanya 10 persen dan yang tertinggi 50 persen. Aspal itu sendiri adalah dari keluarga minyak bumi, dengan rantai karbon yang panjang. Warnanya hitam gelap, dan di dalamnya tercampur berbagai macam butiran mineral yang disebut bitumen.

Dalam proses industrinya, lumpur aspal itu disaring, dipisahkan bahan padat lain dan air yang turut terlarut di dalamnya. Bitumen yang baik ialah ukuran mineral di dalamnya tak lebih dari 1,18 mm. Saat dilakukan destilasi, akan diperoleh hasil ikutan berupa minyak kental. Setiap 5 kg bitumen bisa memberi hasil sampingan minyak 1 kg.

Lentur di Badan Jalan
Aspal menjadi pilihan untuk pelapis jalan karena sifatnya yang dapat menjadi perekat. Pengaspalan jalan dilakukan dengan mencampurkan aspal panas bersuhu 120–170 derajat Celsius dengan pasir dan batu pecah dan dituang ke badan jalan dengan alat berat. Jalan aspal lebih disukai ketimbang beton, karena lebih elastis, lentur, saat menerima beban.

Pada 1980-an aspal Buton (Asbuton) digunakan secara apa adanya dengan butiran bitumen yang kadang kala terlalu tinggi porsinya. Hasilnya tak cukup memuaskan. Kekentalannya yang tinggi membuatnya sulit menjadi adonan yang homogen dengan pasir dan kerikil di dalamnya. Saat sudah mengering, ia terlalu kaku, kurang elastis, dengan banyak rongga di dalamnya.

Air dalam rongga itu melarutkan aspal. Benang-benang karbonnya mengembang, sebagian putus. Ketika panas, aspal teroksidasi dan membuatnya lebih getas, mudah retak ketika menerima beban lalu lintas yang padat. Walhasil, aspal Buton dianggap menjadi kurang awet. Maka, di tahun 1988 penggunaan aspal Buton itu menurun drastis.

Dengan sejumlah pengembangan, penggunaan aspal Buton pun digencarkan lagi pada 1993-1994. Toh, hasilnya belum memuaskan. Maka, penggunaannya pun terbatas pada jalan-jalan kecil dengan lalu lintas yang ringan. Situasi itu terjadi berlarut-larut hingga kini. Dengan 10 pabrik aspal yang beroperasi di Buton, produksinya hanya 58 ribu ton pada 2021. Jumlah itu hanya tiga persen dari kapasitas produksi pabrik yang ada.

Padahal, pengembangan aspal Buton terus dilakukan PT Wika Bitumen, anak perusahaan Wijaya Karya (BUMN), misalnya, telah meluncurkan produk Lawele Grabular Asphalt (LGA) yang seimbang aspek keras dan lenturnya.

Ada pula Asbuton Granular Filler (AGF) bagi arus lalu lintas tinggi, AAF (Asbuton Active Filler) untuk hotmix, dan Asbuton Instant Concrete (AIC) yang bisa dihamparkan di jalan tanpa harus dipanaskan. AIC cocok untuk penambal jalan tol, atau di tempat-tempat yang tak tersedia alat berat. Masih ada sejumlah produk lainnya.

Namun, para kontraktor lebih memilih aspal minyak, yakni aspal yang dihasilkan dari kilang-kilang refinery BBM. Dalam industri refinery, aspal ialah produk sampingan, yang berupa fraksi minyak dengan rantai karbon terpanjang.

Aspal minyak memberi kesan mulus dan lentur, namun cukup mudah terderformasi oleh beban lalu lintas di tengah terik matahari. Hamparan aspal berkerut tak rata dan mobil yang melaju di atasnya pun kerap berguncang.

Produksi aspal minyak dari Pertamina tak lebih dari 600 ribu ton setahun. Dengan demikian, sebagian besar adalah aspal impor. Pilihan ke produk impor itu tentu ada sederet alasan, kesesuaian spesifikasi teknis, harga, biaya logistik, dan masih banyak lainnya.

Kebijakan afirmasi pun segera dilakukan. Melalui Peraturan Menteri (Permen) PUPR nomor 5 tahun 2021, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono telah mendorong peningkatan, bahkan kewajiban, penggunaan aspal Buton untuk pembangunan dan preservasi jalan provinsi/kabupaten/kota, yang dibiayai oleh Dana Alokasi Khusus (DAK). Permendagri 27/2021 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2022 untuk provinsi, kabupaten, dan kota mengamanatkan pula peningkatan penggunaan aspal Buton. (indonesia.go.id)