Cerita Pengamat Gunungapi Agung
KOMUNITAS PERISTIWA

Cerita Pengamat Gunungapi Agung

Idul Fitri tahun ini menjadi sangat berbeda bagi Nurul Husaini dan Wahyu Ardi Setiawan, dua Pengamat Gunung Api Agung di Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Agung, Rendang, Klungkung, Bali.

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini Nurul dan Ardi tidak berkumpul bersama keluarga untuk merayakan hari kemenangan umat Islam demi melaksanakan tugas negara, menjaga Gunung Agung, salah satu gunungapi yang masih aktif.

Nurul mengaku, tahun ini urung pulang kampung ke Ciamis, Jawa Barat, karena selain bertugas untuk mengamati aktivitas Gunung Agung, juga karena pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Meski tidak mudik, Nurul tetap bertugas di Pos PGA Rendang yang sudah menjadi tempat kerjanya sejak Agustus 2017.

“Biasanya setiap tahun kegiatan acara mudik tidak terlewat, sebelum ada pandemi dan erupsi Gunung Agung tahun 2017. (Tahun ini) Tidak bisa pulang, ya cukup sedih. Tapi karena sekarang sedang pandemi kita bisa memaklumi, kita juga harus ikut mencegah penyebaran virus Covid-19. Dengan hati yang gembira melaksanakan tugas ini, menjelang hari raya Lebaran,” ujar pengamat yang memulai tugasnya mengamati Gunungapi Ibu di Halmahera tahun 2015 ini.

Tidak berbeda dengan Nurul, Ardi yang bergabung di Pos Rendang sejak Oktober 2017 juga merasakan hal yang sama, sedih, namun sudah kewajibannya melakukan tugas dengan baik. Tahun ini, dirinya tidak berkumpul dengan keluarganya yang berada di Banjarnegara, Jawa Tengah.

“Pastinya sedih, karena itu waktu yang ada cuma satu tahun sekali bisa bertemu keluarga. Tetapi karena ini tugas kita lakukan dengan baik. Setelah Salat Id kita langsung kerja seperti biasa. Sudah 2 tahun ini kami tidak mudik,” ungkap Ardi.

Ardi juga merasa ada sesuatu yang hilang, karena di Pos PGA Rendang tidak terdengar lantunan takbir menjelang Hari Raya Idul Fitri, tradisi yang menandakan datangnya hari kemenangan. Tempat untuk melaksanakan Salat Id pun cukup jauh dari Pos PGA Rendang. Dia dan Nurul harus berkendara sekitar 30 menit untuk menuju lokasi Salat Idul Fitri.

“Sedih juga di sini tidak terdengar takbir. Saat Lebaran, suasana takbir yang bikin meriah, yang bikin kangen itu suara takbir, kemudian bisa bersilaturahmi sama keluarga dan teman. Untuk Salat Id, sekitar 15 kilometer dari Rendang, ke Kota Klungkung,” tuturnya.

Walau harus merayakan Idul Fitri jauh dari keluarga, Nurul dan Ardi tetap bahagia, yang terpenting bagi mereka adalah bisa melakukan tugas dengan baik, sesuai sumpah mereka di awal pengangkatan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), tahun 2015 silam.

“Tidak ada rasa menyesal, karena dari awal kita berkomitmen kita ingin gabung dan bekerja sebagai Pengamat Gunungapi. Kalaupun ada risiko hal-hal yang di luar dugaan, itulah risiko suatu pekerjaan,” ujar Nurul.

“Untuk perasaan itu (menyesal) kita kesampingkan dulu, yang penting kita bertugas dengan benar. Masyarakat bisa tahu informasi dari kita, itu adalah tugas yang harus kita laksanakan dengan baik,” tutur Ardi menimpali rekannya.

Kepala Pos PGA Agung Dewa Made Mertayasa pun memastikan bahwa seluruh pengamat di Pos PGA Agung tetap bertugas memantau Gunung Agung dan memberikan informasi kepada pemangku kepentingan di hari Lebaran tahun ini.

“Kami semua tetap bertugas, termasuk Ardi dan Nurul. Sebentar lagi Lebaran, karena ada imbauan dari pemerintah untuk tidak mudik, maka kedua rekan saya tetap berjaga di pos, memantau situasi dan kondisi gunung agung untuk disampaikan ke masyarakat,” tandas Dewa.

Kondisi Gunung Agung sendiri sekarang relatif stabil. Saat ini, Gunung Agung berada di level 2 atau Waspada. Daerah aman adalah di luar radius 2 kilometer dari puncak kawah.

“Kalau kondisi Gunung Agung setelah erupsi tahun 2017 sampai sekarang dalam kondisi status waspada atau level 2. Radius 2 kilometer dari puncak kawah merupakan titik aman untuk masyarakat kalau ingin mendaki,” pungkas Dewa. (ist)