Ekspor Langsung Perdana dari Palu
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Ekspor Langsung Perdana dari Palu

PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) melakukan launching direct export perdana sebanyak 12 kontainer berisi kelapa biji dan kayu olahan untuk dikirim ke beberapa negara di Asia dari Pelabuhan Pantoloan, Palu pada Sabtu (12/09).

General Manager (GM) PT Pelindo IV Cabang Pantoloan, Nengah Suryana Jendra mengatakan, direct export yang dilakukan pihaknya merupakan sinergi antara Pelindo IV dengan Pemprov Sulteng, eksportir dan perusahaan pelayaran asal Korea Selatan, Sinokor Merchant Marine Co., Ltd.

“Kami berterima kasih kepada pemerintah daerah yang sangat mensupport kegiatan ini,” kata Nengah.

Sebab menurut dia, sebenarnya sudah lama komoditas asal Sulawesi Tengah masuk ke pasar global seperti cokelat, rotan, jagung, arang, kayu olahan dan kelapa bij.

Hanya saja selama ini diketahui bahwa komoditas tersebut berasal dari Surabaya dan Jakarta karena dikirim ke luar negeri melalui Pelabuhan Tanjung Perak dan Tanjung Priok, Jakarta.

Sehingga tidak ada data ekspor yang tercatat oleh Pemprov Sulteng karena semuanya terdata di Surabaya dan Jakarta. “Padahal komoditasnya dari Sulteng,” ucapnya.

Sebelumnya lanjut Nengah, komoditas tersebut dikirim ke Surabaya dan Jakarta dari Pantoloan menggunakan kontainer lokal. Begitu tiba di Surabaya atau Jakarta, barang yang ada di dalam kontainer kemudian dipindahkan ke kontainer khusus ekspor, sehingga terjadi double handling yang mengakibatkan pembengkakan biaya yang harus dikeluarkan oleh para eksportir.

Dengan direct export yang dilakukan Pelindo IV dari Pantoloan mulai hari ini (Sabtu) kata dia, komoditas yang akan dikirim ke luar negeri langsung dimasukkan ke dalam kontainer ekspor. Sehingga tidak akan terjadi double handling dan barang yang dikirim akan diterima oleh buyer dalam kondisi masih bagus.

Dan juga terjadi efisiensi waktu jika langsung menggunakan peti kemas ekspor dari Pantoloan. “Penurunan biayanya lumayan besar, antara 25% hingga 30% sebab tidak ada lagi double handling dan biaya relokasi peti kemas,” sebut Nengah.

Selain kelapa biji, kayu olahan, cokelat dan rotan menurutnya, selama ini cukup banyak komoditas asal Sulteng yang telah merambah pasar internasional. Di antaranya, getah pinus, jagung, arang, olahan dari getah pinus (rosin dan turpentine), ikan bandeng dan juga bawang goreng yang telah dikirim pengusaha dari Palu ke negara-negara di Asia.

“Hanya saja selama ini mereka masih melakukan pengiriman secara sendiri-sendiri. Oleh sebab itu, mulai sekarang kami berinisiatif untuk melakukan konsolidasi,” tandanya.

Komoditas yang berasal dari Parigi, Poso, Mamuju, Pantai Barat, Kasimbar, Kota Raya dan lain-lain bahkan dari Tolitoli akan dikumpulkan untuk disatukan.

Dan kemudian di direct export ke negara-negara tujuan yakni Vietnam, Malaysia, China, Korea dan Jepang. “Dengan begitu pengusaha tidak perlu lagi mengeluarkan biaya mahal untuk membayar sewa kontainer,” kata Nengah.

Selain itu, para pengusaha juga tidak perlu harus menunggu barangnya terkumpul banyak baru diekspor. Hal itu tentunya akan membuat perputaran ekonomi masyarakat menjadi lebih cepat dan lancar.

Nengah juga menuturkan bahwa meski pandemi Covid-19 juga mewabah di wilayah Sulawesi Tengah, namun kondisi tersebut tidak terlalu mengganggu aktivitas ekspor dari wilayah ini.

“Dampaknya tidak terlalu signifikan karena barang yang diekspor adalah komoditas agro, jadi kebutuhannya masih tetap banyak walau sedang pandemi,” tukasnya.

Apalagi, rerata eksportir sudah memiliki perjanjian kontrak perdagangan dengan buyer di luar negeri. Ditambah lagi produksi terutama untuk getah pinus masih aman sebab Sulteng masih zona hijau, sehingga karyawan pabrik masih bisa bekerja dengan aman.

Meski begitu, Nengah mengakui jika impor yang melalui Pelabuhan Pantoloan mengalami penurunan karena pengaruh pandemi.

“Sebab banyak pembangunan yang telah diprogramkan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu jadi tertunda karena adanya wabah Covid-19 ini. Itu yang menyebabkan impor melalui Pantoloan turun karena belum ada pengiriman barang dari luar negeri yang akan digunakan untuk mewujudkan program KEK Palu. Tetapi semoga tahun depan mulai menggeliat lagi seiring berjalannya pembangunan di KEK Palu,” ujarnya.(sak)