Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Bank Jatim Gandeng Bank NTT Hadirkan Layanan Remitansi Internasional
  • Normalisasi Sungai Kalianak Tahap III Berlanjut, Pemkot Surabaya Tandai 70 Bangunan di Asemrowo
  • Dugaan Pungli CFD Taman Bungkul Teridentifikasi, Wali Kota Eri Minta Uang Dikembalikan
  • Parkir Makam Keputih Dibenahi, Pemkot Surabaya Pasang Portal dan CCTV
  • Pelaporan Pajak Digital Diperkuat, Wali Kota Eri Ajak Restoran dan Kafe Transparan
  • Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah
  • Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Living Lab Energi Terbarukan untuk Edukasi Green Energy
  • Pakar UNAIR: Pola Asuh Generasi Alpha Tak Cukup Hanya Membatasi Gawai
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»KOMUNITAS»Gubernur Tak Perlu Dilipih Langsung

Gubernur Tak Perlu Dilipih Langsung

KOMUNITAS redaksi19/11/2018 - 16:00 WIB

Gubernur tidak perlu dipilih secara langsung oleh masyarakat. Sebab, wilayah kerja gubernur ada di daerah-daerah dimana yang bertanggungjawab adalah bupati atau walikota.

Otonomi yang dimiliki gubernur terbatas. Selain itu, gubernur merupakan wakil pemerintah pusat, yang juga memiliki jarak cukup jauh dengan pemilih.

Pernyataan itu disampaikan Prof Kacung Marijan dalam acara gelar inovasi guru besar yang berlangsung pada Kamis (15/11), di Aula AMERTA Kantor Manajemen Kampus C UNAIR.

Ada tiga stakeholder yang ia usulkan untuk dapat memilih gubernur secara langsung. Ialah DPRD Provinsi, Bupati/Walikota, dan wakil dari pemerintah pusat. Dengan prosentase 50 persen dari DPRD, 30 persen dari Bupati/Walikota, dan 20 persen dari pemerintah pusat.

Melalui mekanisme itu, ada beberapa keuntungan yang didapat. Pertama, akan mengurangi pos. Kedua, mengurangi tensi hubungan antara pemerintah provinsi dengan kabupaten/kota, otomatis juga dengan pusat.

Di sisi lain, pemilihan presiden dan legislatif yang dilaksanakan di waktu bersamaan menurut Prof Kacung menjadi tidak efektif. Pelaksanaan yang berbarengan menyebabkan pemilihan DPRD, DPR dan DPD, tertutup dengan isu pemilihan presiden.

Sementara itu, untuk mengatasi money politik yang masih terlalu besar terjadi, selain pengetatan soal aturan, perlu pula komitmen besaran biaya kampanye yang dikeluarkan oleh masing-masing calon.

“Misalnya, ada kajian besaran biaya pemilih itu berapa, maksimum berapa. Dengan demikian, ada batas maksimum yang rasional yang memungkinkan untuk dicapai,” terang Kacung.

“Jangan sampai masing-masing calon besar pasak dari pada tiang. Mengeluarkan biaya besar. Sedangkan take home pay ketika jadi pejabat itu kecil. Kasus korupsi dimana-mana di antaranya sumbernya dari situ,” tambahnya.

Kalau hal demikian tidak tidak diselesaikan, lanjut Prof Kacung, maka masalah korupsi akan terus terulang. Sebab akar masalah tidak diselesaikan.

Hal ini masih menjadi gagasan awal Prof Kacung soal pemilihan umum. Gagasan ini menurutnya sudah saatnya ditulis agar bisa didengar. Erlebih oleh para pembuat kebijakan dan keputusan.

Sementara itu, belum seleai dengan urusan desain kelembagaan, pemerintah juga dihadapkan pada realitas tentang revolusi industri 4.0.

Mau tidak mau, revolusi industri 4.0 memiliki implikasi yang sangat luas di dalam relasi social. Termasuk, relasi pemimpin dengan yang dipimpin. Kacung mengatakan, proses-proses politik juga tidak lepas dari perkembangan ini.

Di satu sisi, menurut Kacung, relasi lebih sepadan antar warga, antar pemimpin dengan yang dipimpin semakin mengemuka. Informasi mengenai isu-isu politik juga mudah di akses.

Namun di sisi lain, juga akan menghasilkan realitas oliagrkhi baru: Siapa yang menguasai data, lebih mudah untuk memainkan perilaku masyarakat. “Disain kelembagaan baru yang disesuaikan masyarakat di era industri 4.0 penting dilakukan,” papar Prof Kacung (ita)

Kacung Marijan Pemilihan Gubernur
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Bank Jatim Gandeng Bank NTT Hadirkan Layanan Remitansi Internasional

24/07/2026 - 23:51 WIB

Normalisasi Sungai Kalianak Tahap III Berlanjut, Pemkot Surabaya Tandai 70 Bangunan di Asemrowo

24/07/2026 - 07:54 WIB

Dugaan Pungli CFD Taman Bungkul Teridentifikasi, Wali Kota Eri Minta Uang Dikembalikan

24/07/2026 - 07:48 WIB

Parkir Makam Keputih Dibenahi, Pemkot Surabaya Pasang Portal dan CCTV

24/07/2026 - 07:41 WIB

Pelaporan Pajak Digital Diperkuat, Wali Kota Eri Ajak Restoran dan Kafe Transparan

24/07/2026 - 07:34 WIB

Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen

22/07/2026 - 18:48 WIB

Comments are closed.

Bank Jatim Gandeng Bank NTT Hadirkan Layanan Remitansi Internasional

24/07/2026 - 23:51 WIB

Normalisasi Sungai Kalianak Tahap III Berlanjut, Pemkot Surabaya Tandai 70 Bangunan di Asemrowo

24/07/2026 - 07:54 WIB

Dugaan Pungli CFD Taman Bungkul Teridentifikasi, Wali Kota Eri Minta Uang Dikembalikan

24/07/2026 - 07:48 WIB

Parkir Makam Keputih Dibenahi, Pemkot Surabaya Pasang Portal dan CCTV

24/07/2026 - 07:41 WIB

Pelaporan Pajak Digital Diperkuat, Wali Kota Eri Ajak Restoran dan Kafe Transparan

24/07/2026 - 07:34 WIB

Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah

22/07/2026 - 19:17 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.