Nilai Pengabdian Bergodo di Prangko
KOMUNITAS PERISTIWA

Nilai Pengabdian Bergodo di Prangko

Suasana riuh di sekitar Jl Supit Urang mendadak hilang. Jumadil, pedagang jual-beli emas keliling yang mangkal di balik tembok tinggi Keraton Surakarta Hadiningrat pun heran.

Namun, begitu terdengar suara tetabuhan dari arah Kori Kamandungan, yaitu pintu gerbang sebelah utara dari salah satu keraton tertua di Nusantara tersebut, ia mulai paham.

“Sebentar lagi bakal ada pawai sepertinya,” kata pria 51 tahun, yang sudah sewindu lebih mangkal di dekat keraton.

Betul saja, karena tak sampai 10 menit, dari ujung jalan menuju Kori Kamandungan, suara tetabuhan itu makin nyaring terdengar. Tampak barisan pelajar berseragam pramuka memegang papan dan bendera Merah Putih, diikuti 10 pria berseragam hitam-hitam.

Kesepuluh pria berpakaian serbahitam itu memegang alat musik mirip yang kita lihat dalam barisan drum band. Mereka melintasi Jumadil yang tampak terhibur. Puluhan orang juga mulai berjajar di tepi jalan, sebagian mengabadikan peristiwa menarik ini.

Empat orang bagian depan barisan musik itu memegang alat musik drum tenor yang jika dipukul akan mengeluarkan suara nyaring, diikuti dua orang peniup suling, dan di belakangnya seorang pemain terompet.

Seorang lagi memainkan simbal, yaitu dua bilah lempeng logam berbentuk bulat yang cara memainkannya diadukan keduanya hingga menghasilkan bunyi khas. Terakhir, dua orang memanggul bass drum, sebuah alat drum ukuran besar yang memainkannya dengan cara ditabuh.

Disusul barisan pria berjumlah 20 orang berpakaian serbamerah, bertopi unik ala prajurit kerajaan, dan memakai pedang bersarung logam mengkilat dari bahan aluminium. Diikuti di belakangnya pria-pria bertopi hitam khas keraton berpakaian biru dipadu celana hitam.

Berturut-turut di belakangnya ada barisan pria-pria berpakaian hitam-merah, dan hijau muda. Seluruh prajurit yang berbaris dilengkapi pedang logam dan kain batik aneka motif menutupi celana panjang yang mereka kenakan.

Rupanya mereka ini adalah prajurit Keraton Surakarta yang Jumat (05/08) sore itu sedang melakukan kirab budaya dengan rute dari pintu gerbang keraton menuju Balai Kota Surakarta sejauh satu kilometer.

Rutenya melintasi Jl Supit Urang, kemudian melewati bangunan Pasar Klewer Baru dan Masjid Agung Keraton Surakarta, berbelok ke kanan menuju Jl Alun-alun Utara, dan terus menyeberang ke Jalan Jenderal Sudirman, melintasi Monumen Patung Slamet Riyadi.

Hari itu menjadi istimewa karena iring-iringan ini menyertakan tiga kereta kencana milik keraton yang berhias rangkaian bunga. Setiap kereta ditarik sepasang kuda berwarna cokelat.

Dua kereta kencana di urutan terdepan terdapat mahkota raksasa di atapnya. Kereta berikutnya berukuran lebih kecil tampak lebih sederhana bentuknya dari kereta kencana. Masyarakat menyemut di tepi jalan yang dilalui kirab ini. Sebagian mereka adalah pengguna jalan yang kebetulan berhenti untuk menyaksikan peristiwa langka ini.

“Keraton Surakarta hanya sekali-sekali saja memamerkan aset uniknya seperti prajurit dan kereta di atraksi kirab kepada masyarakat, salah satunya kalau ada peristiwa penting di Kota Solo,” ucap Suryanti, karyawan di sebuah instansi pemeritahan kota.

Ia kebetulan menghentikan laju sepeda motornya dan mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya untuk memotret barisan prajurit dan kereta kencana.

Para prajurit keraton yang ikut dalam barisan kirab itu punya namanya masing-masing. Misalnya, yang berpakaian serbahitam itu adalah Joyo Suro yang bertugas menjaga lingkungan dalam keraton. Selain itu mereka juga punya tugas khusus berbasis intelijen, termasuk diwajibkan berbaur dengan masyarakat sekitar.

Kemudian ada Soro Geni, pasukan elite milik keraton yang bertugas menjaga keselamatan raja dan keluarganya. Masih ada lagi Ndoro Pati dengan ciri khas pakaian hijau muda celana hitam. Ada topi bulat dengan tepian melingkar. “Kami tugasnya di bagian logistik,” kata Arji, salah seorang prajurit Ndoro Pati.

Ada lagi Jaya Ngastro, Tamtomo, dan Kali Ranom. Mereka adalah sebagian dari divisi dalam susunan pengawalan keraton. Divisi pasukan keraton ini sudah terbentuk sejak ratusan tahun silam.

Arji sendiri mengaku baru tujuh tahun karena alasan ingin mengabdi kepada keluarga kerajaan. Pria 42 tahun itu menjelaskan, sebagian prajurit yang dikenal juga sebagai bergodo itu sudah berusia sepuh, di atas 60 tahun.

Kesetiaan para bergodo kepada keraton tak perlu diragukan. Meski sebagian mereka punya profesi lain di luar sebagai prajurit, ketika pihak keraton mengeluarkan suatu perintah, maka mereka segera bergegas. “Buat kami, menjadi prajurit keraton itu sudah seperti panggilan jiwa untuk menjaga raja dan keluarga,” lanjut Arji.

Arji sendiri menyayangkan hal itu semakin jarang ditemui di kalangan anak muda. Sehingga saat ini, prajurit keraton lebih banyak diisi wajah-wajah lama yang sudah lebih dari 25 tahun mengabdi.

Pengakuan Arji dibenarkan Sutiman, seorang pegawai keraton bebadan tinggi tegap. ia mengaku biasanya bertugas sebagai prajurit pengawas mirip seperti provost di kemiliteran. “Sekarang ini, hanya tinggal orang-orang seperti kami yang mengabdi untuk keraton,” ujarnya.

Prangko Prajurit Keraton
Karena kesetiaan yang tinggi kepada keraton dan melengkapi unsur kekayaan budaya daerah itu yang membuat Kementerian Komunikasi dan Informatika menjadikan para bergodo sebagai salah satu model prangko dalam rangka ASEAN Paragames 2022 di Solo, pada 30 Juli sampai 6 Agustus 2022.

Ada dua prangko yang diluncurkan Kominfo, satu seri bertema aneka cabang olahraga dan seri lainnya bergambar tujuh bergodo dengan latar bagian depan dari bangunan Keraton Surakarta.

Menurut Pelaksana tugas Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kominfo Ismail, terbitnya prangko seri prajurit keraton ini sebagai bentuk perhatian dan kepedulian pemerintah terhadap pelestarian budaya di Kota Solo yang telah mendunia.

“Para prajurit ini merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan Keraton Surakarta. Mereka mewakili sebuah budaya yang telah berlangsung di Solo dan keraton sejak ratusan tahun lalu,” kata Ismail usai acara peluncuran prangko di Balai Kota Surakarta, Jumat (05/08) sore.

Ismail menjelaskan, prangko adalah sebuah seni bernilai tinggi karena di dalamnya ada cerita mengenai sebuah warisan budaya dari suatu bangsa. Oleh karena itu, mengangkat kisah kesetiaan bergodo kepada keraton menjadi pilihan yang tepat.

Prangko bernilai Rp5.000 itu diharapkan Ismail akan menjadi koleksi berharga dari para filatelis atau kolektor prangko.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Hendry, perwakilan Perkumpulan Filatelis Indonesia Kota Solo yang hadir pada acara tersebut. Kolektor sekitar 9.000 prangko ini menyebutkan baru kali ini terbit prangko seri prajurit Keraton Surakarta. “Seingat saya, baru kali ini terbit prangko bergambar prajurit Keraton Surakarta,” ujarnya.

Direktur Utama PT Pos Indonesia, Faizal Rochmad Djoemadi mengatakan, prangko seri prajurit Keraton Surakarta merupakan salah satu cara pihaknya untuk ikut melestarikan kebudayaan daerah yang ada di Indonesia.

“Kita tahu bahwa Indonesia itu kaya dengan keragaman budaya dan hal itu perlu kita lestarikan supaya tetap bisa dinikmati sekian generasi berikutnya. Ini adalah salah satu upaya kami dari Pos Indonesia untuk mewujudkan pelestarian itu,” jelas Faizal.

Sementara itu, Executive General Manager Pos Indonesia Kota Solo, Lilik Suryono mengatakan, seri prangko Prajurit Keraton Surakarta baru tercetak 450 ribu lembar dan sekitar 30 ribu lembar lainnya untuk seri ASEAN Paragames 2022 yang terdiri dari enam gambar cabang olahraga.

Jumlah tersebut dapat ditambah di masa mendatang menyesuaikan kebutuhan. Saat ini prangko seri Prajurit Keraton Surakarta dan ASEAN Paragames 2022 sudah bisa didapat di kantor-kantor pos terdekat. (indoensia.go.id)