Panen Salak Madu menjadi momentum bagi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa untuk menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memperkuat sektor hortikultura sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah sekaligus penopang kesejahteraan masyarakat.
Komitmen tersebut ditunjukkan saat Gubernur Khofifah mengunjungi perkebunan sekaligus melakukan Panen Salak Madu di Desa Wonoagung, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, Senin (13/7/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Khofifah didampingi Bupati Malang H. Sanusi meninjau langsung kebun salak madu milik Sukatmiani yang telah dibudidayakan selama sekitar sembilan tahun. Ia berdialog dengan pemilik kebun mengenai proses budidaya, produktivitas, hingga peluang pengembangan komoditas hortikultura yang dinilai memiliki prospek ekonomi menjanjikan.
Selain meninjau kebun, Khofifah juga memetik langsung buah salak dari pohonnya dan mencicipi hasil panen yang dikenal memiliki cita rasa manis dengan tekstur renyah.
Gubernur Khofifah mengapresiasi produktivitas kebun tersebut. Dalam kondisi normal, sekitar 450 pohon salak mampu menghasilkan 40 hingga 60 kilogram buah setiap pekan, bahkan panen dapat dilakukan dua kali dalam seminggu. Memasuki musim panen raya pada Agustus hingga September, produksi meningkat hingga sekitar satu kuintal dengan permintaan pasar yang terus bertambah, termasuk dari wilayah Kecamatan Ngantang dan sekitarnya.
Menurut Khofifah, keberhasilan petani mengembangkan salak madu membuktikan bahwa komoditas hortikultura lokal memiliki prospek ekonomi yang besar apabila dikelola secara profesional, didukung inovasi, serta diperkuat melalui akses pemasaran yang lebih luas.
Ia menjelaskan, area tanam salak madu di Desa Wonoagung masih terbatas. Meski demikian, kualitas buah yang tergolong premium membuat permintaan pasar terus meningkat. Bahkan, sebagian hasil panen telah dipesan sebelum masa panen tiba.
“Bersama Bupati Malang, Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur, Camat Kasembon, dan Kepala Desa Wonoagung, kami mendiskusikan upaya perluasan area tanam salak madu mengingat pasar yang cukup potensial dengan harga yang kompetitif,” ujar Khofifah.
Menurutnya, salak madu asal Desa Wonoagung memiliki karakteristik khas berupa rasa manis, tekstur renyah, dan kualitas buah yang baik sehingga berpotensi menjadi komoditas unggulan yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Khofifah berharap keberhasilan petani salak madu di Desa Wonoagung dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengembangkan pertanian berbasis potensi lokal yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Komoditas lokal seperti salak madu memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, petani, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan agar kualitas produksi, nilai tambah, serta akses pemasaran semakin meningkat,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Khofifah menegaskan Pemprov Jawa Timur akan terus memperkuat pembangunan sektor pertanian melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan hilirisasi hasil pertanian, pengembangan agribisnis, serta perluasan jaringan pemasaran guna meningkatkan kesejahteraan petani.
Sementara itu, pemilik kebun salak madu, Sukatmiani, mengaku bersyukur atas perhatian yang diberikan Gubernur Jawa Timur kepada petani hortikultura di Kabupaten Malang. Ia berharap produksi salak madu terus meningkat seiring semakin luasnya pasar sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan para petani.
“Terima kasih sekaligus menjadi suatu kehormatan bagi kami karena Ibu Gubernur berkenan berkunjung ke perkebunan salak kami,” ujarnya.
Sukatmiani mengungkapkan bahwa pengetahuan mengenai budidaya salak diperoleh setelah mempelajari teknik penanaman dan perawatan salak di kawasan lereng Merapi. Selanjutnya, ia membawa bibit salak dari Desa Turi, Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk dikembangkan di Desa Wonoagung.
“Saya belajar cara menanam dan merawat salak di kawasan Merapi, kemudian membawa bibit dari Desa Turi, Yogyakarta, untuk ditanam dan dikembangkan di sini,” katanya.
Sebagai informasi, Desa Wonoagung memiliki karakteristik tanah hitam yang subur sehingga sangat mendukung pengembangan berbagai komoditas hortikultura. Selain salak madu, kawasan tersebut juga dikenal sebagai sentra produksi durian, manggis, dan jeruk yang menjadi komoditas unggulan di Kabupaten Malang. (tas)

