Penyebab munculnya konflik pemanfaatan lahan diantaranya belum adanya peta yang memiliki standar dan format yang sama di antara instansi yang memiliki kewenangan dalam memberikan izin pemanfaatan lahan.
Hal itu terungkap dalam acara konferensi Southeast Asian Geography Association (SEAGA) pertama di Universitas Indonesia yang diselenggarakan akhir November lalu di area Balairung UI Depok.
Tema tahun ini mengangkat tema “Geography for Global Understanding: Suistanable Changes in Enviroment, Society, and People”.
Hadir sebagai salah satu pembicara kunci adalah Deputi Bidang Informasi Geospasial Tematik, Dr Ir Nurwadjedi MSc yang membicarakan tentang kebijakan nasional ‘Satu Peta’.
“Harus disadari, bahwa salah satu permasalahan terbesar di Indonesia adalah permasalahan lahan,” ujarnya.
Salah satu penyebab munculnya konflik pemanfaatan lahan tersebut adalah belum adanya peta yang memiliki standar dan format yang sama di antara instansi yang memiliki kewenangan dalam memberikan izin pemanfaatan lahan.
“Harus diingat, bahwa data peta banyak menjadi landasan perizinan lokasi dari setiap kegiatan bagi lembaga/institusi di pusat maupun daerah,” tambahnya.
Untuk itu, diperlukan penyatuan seluruh informasi peta yang diproduksi berbagai instansi ke dalam satu peta secara integratif sehingga tidak terdapat perbedaan atau tumpang tindih informasi.
Dari sinilah muncul konsep ‘Satu Peta’ yang berslogan ‘One Reference, One Standard, One Database, & One Geoportal’. Dengan kata lain, tujuan besarnya adalah data sharing dari satu sumber yang sama.
Ketika kebijakan satu peta ini terwujud, akan sangat banyak sekali manfaatnya, diantaranya adalah penyelesaian konflik pemanfaatan lahan dan penyelesaian konflik batas daerah.
Namun, menurut Nurwadjedi, ada beberapa hambatan yang dihadapi pemerintah untuk mewujudkan konsep satu peta ini, diantaranya adalah permasalahan sumber daya manusia (SDM).
Menurutnya, saat ini Indonesia sangat kekurangan SDM yang mumpuni dan ahli dalam bidang geospasial. Disinilah menurutnya, peranan institusi pendidikan seperti UI dibutuhkan.
Ia mengharapkan perguruan-perguruan tinggi di Indonesia dapat membuat sekolah vokasi di bidang geospasial yang dapat menghasilkan tenaga-tenaga siap pakai yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. (ui)

