Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Normalisasi Sungai Kalianak Tahap III Berlanjut, Pemkot Surabaya Tandai 70 Bangunan di Asemrowo
  • Dugaan Pungli CFD Taman Bungkul Teridentifikasi, Wali Kota Eri Minta Uang Dikembalikan
  • Parkir Makam Keputih Dibenahi, Pemkot Surabaya Pasang Portal dan CCTV
  • Pelaporan Pajak Digital Diperkuat, Wali Kota Eri Ajak Restoran dan Kafe Transparan
  • Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah
  • Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Living Lab Energi Terbarukan untuk Edukasi Green Energy
  • Pakar UNAIR: Pola Asuh Generasi Alpha Tak Cukup Hanya Membatasi Gawai
  • Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»KOMUNITAS»Saat Mahasiswa ‘Bule’ Masak Makanan Lokal

Saat Mahasiswa ‘Bule’ Masak Makanan Lokal

KOMUNITAS redaksi11/01/2018 - 16:00 WIB

Mengikuti program inbound exchange yang digelar Universitas Airlangga (Unair) melalui Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) tak disia-siakan 17 mahasiswa ‘bule’ dan seorang dekan Lincoln University New Zealand. Pengalaman dan keterampilan baru wajib mereka kuasai serta dapatkan.

Itulah yang tampak dalam agenda lanjutan program inbound exchange mereka di Unair Senin (8/1). Bertempat di Sages Institute, ke-17 mahasiswa mengikuti program cooking class. Yakni, belajar memasak makanan khas Indonesia.

“Hari ini kita bakal memasak tiga masakan tradisional Indonesia. Yang khas. Ada sambal bawang, nasi goreng, dan pepes,” ujar Kepala Kemahasiswaan dan Humas Victor M Manaf saat membuka cooking class.

Dalam agenda tersebut, para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok berisi dua orang. Seorang dari mahasiswa Lincoln University dan seorang dari Unair.

Meski bahan-bahan dan panduan memasaknya lengkap di meja setiap kelompok, keraguan dan canggung peserta masih saja terlihat. Sebab, bagi mereka, selain bahan-bahannya yang baru dikenali, cara memasak dengan memanfaatkan daun pisang menjadi hal luar biasa yang mereka temui.

”Ini sangat menakjubkan dan menyenangkan,” ujar Rachiel, salah seorang peserta sekaligus mahasiswa jurusan Faculty of Agribusiness and Commerce Lincoln University.

Meski sudah mencicipinya, Rachiel tetap mendapatkan kesan yang berbeda saat menikmati masakan Indonesia yang lain. Sebab, menurut dia, masakan Indonesia sangat variatif. Selain itu, bumbunya sangat terasa jika dibandingkan dengan masakan di New Zealand.

”Bumbunya bermacam-macam. Juga bercampur dari banyak jenis bumbu. Sangat terasa. Berbeda dengan di negara saya (New Zealand, Red),” ungkap perempuan pirang tersebut sambil membolak-balikan nasi goreng masakannya.

Beberapa peserta laki-laki juga tampak bersemangat. Bahkan, Dekan Faculty of Agribusiness and Commerce Lincoln University Prof Dr Hugh Bigsby sangat serius mengikuti kelas memasak itu. Tangannya cukup terampil mencacah bawang merah dan putih serta cabai. Termasuk saat menuang minyak dan menaburkan bumbu-bumbu perasa.

Sementara itu, Ketua Panitia Program inbound exchange Tika Widiastuti SE MSi mengungkapkan bahwa agenda cooking class adalah salah satu rangkaian kegiatan yang digelar selama 2 minggu hingga Minggu (14/1).

Sesuai dengan jadwal, lanjut dia, peserta bakal menggelar pertemuan dengan Konsulat Jenderal New Zealand di Surabaya setelah kegiatan tersebut.

”Jadi, ada kegiatan non-akademik. Karena itu, hari ini ada agenda memasak makanan khas Indonesia, terutama Surabaya. Sebelumnya, mereka juga mengikuti latihan menari tradisional, mencoba permainan-permainan tradisional, dan mempelajari konstruksi atau arsitek budaya Indonesia,” tuturnya. ”Sebelum cooking class, tadi pagi mereka mengikuti kuliah,” imbuhnya. (ita)

Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Normalisasi Sungai Kalianak Tahap III Berlanjut, Pemkot Surabaya Tandai 70 Bangunan di Asemrowo

24/07/2026 - 07:54 WIB

Dugaan Pungli CFD Taman Bungkul Teridentifikasi, Wali Kota Eri Minta Uang Dikembalikan

24/07/2026 - 07:48 WIB

Parkir Makam Keputih Dibenahi, Pemkot Surabaya Pasang Portal dan CCTV

24/07/2026 - 07:41 WIB

Pelaporan Pajak Digital Diperkuat, Wali Kota Eri Ajak Restoran dan Kafe Transparan

24/07/2026 - 07:34 WIB

Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen

22/07/2026 - 18:48 WIB

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Comments are closed.

Normalisasi Sungai Kalianak Tahap III Berlanjut, Pemkot Surabaya Tandai 70 Bangunan di Asemrowo

24/07/2026 - 07:54 WIB

Dugaan Pungli CFD Taman Bungkul Teridentifikasi, Wali Kota Eri Minta Uang Dikembalikan

24/07/2026 - 07:48 WIB

Parkir Makam Keputih Dibenahi, Pemkot Surabaya Pasang Portal dan CCTV

24/07/2026 - 07:41 WIB

Pelaporan Pajak Digital Diperkuat, Wali Kota Eri Ajak Restoran dan Kafe Transparan

24/07/2026 - 07:34 WIB

Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah

22/07/2026 - 19:17 WIB

Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Living Lab Energi Terbarukan untuk Edukasi Green Energy

22/07/2026 - 19:07 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.