Sugentan Si Kedelai Super
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Sugentan Si Kedelai Super

Kedelai merupakan salah satu bahan pangan yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Apalagi kedelai terkait erat dengan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, yaitu tempe, tahu, dan kecap.

Mengutip Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementerian Pertanian, rata-rata setiap tahunnya kebutuhan kedelai di Indonesia mencapai 2,8 juta ton. Ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat konsumsi kedelai terbesar di dunia. Namun, kebutuhan kedelai nasional masih dipasok dari impor.

Menurut Badan Pusat Statistik, impor kedelai Indonesia sepanjang semester pertama tahun 2020 mencapai 1,27 juta ton senilai USD510,2 juta atau sekitar Rp7,24 triliun pada kurs Rp14.200 per dolar. Amerika Serikat menjadi pemasok utama kedelai impor dengan jumlah 1,14 juta ton. Pasokannya lainnya datang dari Brasil, Uruguay, dan Kanada.

Masih tingginya angka impor dapat terjadi lantaran produksi kedelai nasional masih berkutat di bawah 1 juta ton per tahun. Pada periode 2015-2019, produksi kedelai nasional tumbuh rata-rata 2,3 persen. Produksi tertinggi pada 2018 sebesar 982,5 ribu ton disusul 2015 dengan 963,1 ribu ton.

Sedangkan produksi terendah terjadi di 2019 ketika hanya mampu menghasilkan tak lebih dari 490 ribu ton. Menurut Forum Tempe Indonesia, produktivitas kedelai lokal pernah mencapai kejayaannya pada 1992. Saat itu, Indonesia berswasembada kedelai dengan produksi nasional menyentuh angka 1,8 juta ton setahunnya.

Menurut Guru Besar Bidang Pangan, Gizi, dan Kesehatan IPB University Made Astawan, saat ini tingkat produktivitas kedelai lokal masih berkisar 1,5 ton hingga 2 ton setiap hektarenya. Sedangkan pada lahan dengan luas sama, produksi kedelai di AS bisa sebesar 4 ton. Faktor utama lebih tingginya produksi di AS karena tanaman kedelai mendapat penyinaran matahari hingga 16 jam per hari.

Secara fisiologis, jam penyinaran matahari yang panjang itu membuat ukuran biji kedelai menjadi lebih besar. Maka, kedelai impor itu umumnya ditandai oleh ukuran bijinya yang jauh lebih besar ketimbang kedelai lokal.

Langkah impor merupakan upaya tercepat yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi permintaan masyarakat akan kedelai sebagai sumber protein nabati yang murah. Namun, kemandirian dan kedaulatan pangan merupakan hal yang tetap perlu dilakukan agar tidak ada lagi ketergantungan terhadap kedelai impor.

Varietas Unggul Sugentan
Agar kedelai lokal bisa kembali menjadi tuan di rumahnya sendiri, diperlukan upaya-upaya khusus termasuk mengembangkan varietas-varietas unggulan lokal. Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) adalah salah satu lembaga yang ikut berupaya membantu peningkatan produktivitas kedelai nasional melalui pengembangan varietas kedelai unggulan.

Dalam Peraturan Menteri Pertanian nomor 61 tahun 2011 disebutkan bahwa varietas unggul adalah benih yang telah melewati fase pengembangan dan memiliki keunggulan dibandingkan varietas yang ada sebelumnya.

Menurut Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan, melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR), sebanyak 14 varietas unggul benih kedelai sudah dihasilkan dengan memanfaatkan teknologi nuklir radiasi gamma. Batan pun mendapat dukungan penuh dari lembaga atom internasional, IAEA, melalui program kerja sama teknik untuk membantu peningkatan produksi pertanian berbasis teknologi nuklir. Hal ini dikatakannya seperti dilansir dari siaran pers Batan belum lama ini.

Sebanyak lima ton benih kedelai super telah diproduksi Batan sejak 2018 dan disalurkan kepada petani-petani di tanah air. Benih-benih unggul tersebut berasal dari varietas Anjasmoro, Grobogan, dan Mutiara 1. Terdapat pula varietas Kemuning 1 dan Kemuning 2 serta Sugentan 1 bersama Sugentan 2. Varietas unggul Sugentan 1 dan Sugentan 2 merupakan hasil perbaikan varietas yang telah ada sebelumnya, yakni Argomulyo.

Dengan penyinaran radiasi gamma pada dosis 250 gray, didapatkan varietas baru yang mempunyai karakter lebih baik dibandingkan varietas induknya. Termasuk ukuran biji yang lebih besar dan jumlah biji dalam polong lebih banyak.

Kedele Sugentan merupakan singkatan dari Super Genjah Batan. Kedelai super ini mempunyai beberapa keunggulan seperti masa tanam terhitung pendek atau masa genjah tak sampai 80 hari. Menurut peneliti PAIR Batan, Arwin, Sugentan jauh lebih cepat panen dibandingkan induknya, Argomulyo.

Jika Argomulyo rata-rata baru dapat dipanen saat umur 86-87 hari, maka Sugentan sungguh super genjah karena hanya perlu waktu 67-68 hari agar bisa dipanen.

Usia masak kedelai yang lebih cepat dan produktivitas tinggi dalam tiap hektare lahan menjadi salah satu komponen penting yang dipertimbangkan petani dalam menanam kedelai, karena terkait dengan biaya produksi. “Produktivitas Sugentan juga lebih tinggi yakni 3,01 ton per hektare dengan rata-rata 2,5 ton per hektare. Sedangkan induknya pada kisaran 2,2 ton sampai 2,4 ton tiap hektare,” kata Arwin.

Ia juga mengatakan bahwa duet kedele super Sugentan 1 dan Sugentan 2 sebagai varietas yang tahan terhadap penyakit karat daun, hama pengisap polong, dan hama ulat kerayak. Kedelai super genjah ini juga cocok ditanam di lahan sawah atau tegalan.

Proses penelitian dan pengembangan kedele super ini telah dilakukan pada 2012. Uji tanam juga telah dilakukan pihak Batan pada enam lokasi, yakni Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Maluku, Bogor, Yogyakarta, dan di Citayam sebanyak dua lokasi. Dari ketujuh lokasi tersebut, sebagian besar menunjukkan hasil yang baik, kecuali di Maluku yang hasilnya termasuk dalam kategori sedang.

Hadirnya varietas-varietas unggulan kedelai lokal yang dikembangkan oleh berbagai pihak termasuk Batan dan kalangan perguruan tinggi dengan berbagai kelebihan dapat menjadi angin segar. Terutama agar harapan Presiden Joko Widodo seperti dilontarkannya saat memberikan kuliah umum di Universitas Gadjah Mada pada 9 Desember 2014 bahwa Indonesia bisa kembali berswasembada pangan, termasuk kedelai, bisa segera terwujud. (indonesia.go.id)