Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah
  • Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Living Lab Energi Terbarukan untuk Edukasi Green Energy
  • Pakar UNAIR: Pola Asuh Generasi Alpha Tak Cukup Hanya Membatasi Gawai
  • Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen
  • Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal
  • Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan
  • Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»GAYA HIDUP»Pakar UNAIR: Pola Asuh Generasi Alpha Tak Cukup Hanya Membatasi Gawai

Pakar UNAIR: Pola Asuh Generasi Alpha Tak Cukup Hanya Membatasi Gawai

GAYA HIDUP Ita Nasyi’ah22/07/2026 - 18:57 WIB
Dosen Psikologi UNAIR Dr. Primatia Yogi Wulandari menjelaskan pentingnya Pola Asuh Generasi Alpha yang responsif, hangat, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Pola Asuh Generasi Alpha menjadi perhatian penting pada momentum Hari Anak Nasional (HAN). Dosen Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Primatia Yogi Wulandari, S.Psi., M.Si., Psikolog, menegaskan bahwa tantangan pengasuhan saat ini tidak cukup dijawab hanya dengan membatasi penggunaan gawai. Orang tua juga perlu membangun hubungan yang hangat, responsif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Menurut Primatia, kualitas hubungan antara orang tua dan anak menjadi faktor utama yang memengaruhi kemampuan anak mengenali emosi, berempati, serta membangun hubungan sosial yang sehat. Karena itu, Pola Asuh Generasi Alpha perlu mengedepankan komunikasi dua arah dan kehadiran orang tua dalam kehidupan anak.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan dominasi Generasi Alpha telah mengubah tantangan pengasuhan. Di Indonesia, persoalan utama bukan lagi sekadar mendisiplinkan anak, melainkan membangun hubungan yang hangat dan responsif.

Pengasuhan Responsif Lebih Efektif

Primatia mengungkapkan bahwa praktik pengasuhan yang masih mengandalkan bentakan atau hukuman fisik bukanlah pendekatan yang ideal. Fokus utama pengasuhan seharusnya bukan membuat anak patuh secara membabi buta, melainkan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan sehat secara psikologis.

“Bukti ilmiah menunjukkan bahwa pengasuhan yang responsif, penuh kehangatan, sekaligus memiliki batasan yang jelas lebih efektif dalam membentuk pengelolaan emosi, rasa percaya diri, dan kemampuan anak menyelesaikan masalah,” ujarnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, orang tua perlu membangun komunikasi dua arah secara konsisten. Anak akan lebih mudah terbuka apabila merasa didengar, dihargai, dan tidak dihakimi.

Primatia menyarankan orang tua menerapkan metode active listening, yaitu mendengarkan cerita anak hingga selesai sebelum memberikan tanggapan atau nasihat. Selain itu, orang tua juga perlu memvalidasi emosi anak agar mereka merasa diterima.

“Budaya komunikasi yang cenderung hierarkis antara anak dan orang tua membuat sebagian anak enggan berpendapat karena takut dianggap melawan. Padahal, memberi ruang berpendapat tidak menghilangkan kewibawaan orang tua. Justru memperkuat kelekatan (attachment) agar anak selalu mencari orang tuanya saat tertimpa masalah,” tegasnya.

Orang Tua Perlu Menjadi Digital Mentor

Dalam menghadapi perkembangan teknologi, Pola Asuh Generasi Alpha juga dituntut lebih adaptif. Orang tua tidak cukup hanya membatasi penggunaan gawai, tetapi juga harus mampu memitigasi berbagai risiko digital, seperti kecanduan gawai maupun perundungan siber (cyberbullying).

Primatia menilai pendekatan yang paling tepat adalah ketika orang tua berperan sebagai digital mentor, bukan sekadar digital police.

“Pendekatan yang paling sesuai adalah ketika orang tua mampu berperan sebagai digital mentor, bukan sekadar digital police, guna mengajarkan penggunaan teknologi secara sehat dan aman,” jelasnya.

Menurutnya, pendampingan digital akan membantu anak memahami manfaat sekaligus risiko penggunaan teknologi sejak dini.

Literasi Digital Orang Tua Perlu Ditingkatkan

Selain tantangan penggunaan gawai, Primatia juga menyoroti fenomena parental burnout yang semakin sering terjadi akibat standar pengasuhan yang tidak realistis di media sosial.

Ia menilai kondisi tersebut menuntut peningkatan literasi digital bagi orang tua, termasuk dalam menyikapi fenomena sharenting, yaitu kebiasaan membagikan konten tentang anak di media sosial.

“Sebelum mengunggah konten tentang anak, orang tua sebaiknya mempertimbangkan kepentingan terbaik anak, hak privasi, dan jejak digital yang akan tetap ada hingga mereka dewasa,” paparnya.

Momentum Hari Anak Nasional

Memperingati Hari Anak Nasional, Primatia menegaskan bahwa investasi terbesar bangsa bukan terletak pada fasilitas yang mahal, melainkan kualitas hubungan dalam keluarga. Menurutnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, tetapi orang tua yang benar-benar hadir dalam kehidupannya.

Ia mengajak para orang tua meluangkan waktu berkualitas tanpa gangguan gawai agar dapat mendengarkan, mendampingi, dan membangun kedekatan emosional dengan anak.

“Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, melainkan orang tua yang hadir. Luangkan waktu tanpa gangguan gawai untuk mendengarkan dan mendampingi mereka, sebab keluarga yang aman adalah kunci membesarkan generasi cerdas dan sehat secara mental,” pungkasnya. (ita)

Cyberbullying Digital Mentor Generasi Alpha Hari Anak Nasional kesehatan mental anak Parenting pengasuhan anak Pola Asuh Generasi Alpha Psikologi Anak Unair
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen

22/07/2026 - 18:48 WIB

Sinergi UNAIR dan ILO Siapkan Generasi Muda Hadapi Transisi Energi Berkeadilan

17/07/2026 - 17:18 WIB

Rakerda MUI Jatim Hasilkan Rekomendasi MBG, Kesehatan Mental Anak, dan Penggunaan Gadget

13/07/2026 - 19:09 WIB

Kisah Haru Ibu Anis, Dampingi Anak Sakit Demi Wujudkan Mimpi Masuk Psikologi UNAIR

27/06/2026 - 18:56 WIB

Kuatkan Tekad, Siswi Ini Rela Tempuh Perjalanan Udara Demi Masuk FK UNAIR

27/06/2026 - 18:36 WIB

Demi Mimpi Masuk FK UNAIR, Siswa SMA Ini Rela Tinggalkan Kursi Kuliah yang Sudah Diraih

26/06/2026 - 17:33 WIB

Comments are closed.

Penyakit Zoonosis Jadi Fokus Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Wabah

22/07/2026 - 19:17 WIB

Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Living Lab Energi Terbarukan untuk Edukasi Green Energy

22/07/2026 - 19:07 WIB

Pakar UNAIR: Pola Asuh Generasi Alpha Tak Cukup Hanya Membatasi Gawai

22/07/2026 - 18:57 WIB

Pakar UNAIR: Representasi Perempuan di Parlemen Masih Belum Capai Target 30 Persen

22/07/2026 - 18:48 WIB

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.