Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • ETF Emas Segera Hadir di Pasar Modal Indonesia, Ini Keunggulan dan Cara Investasinya
  • Menolak Waras di Tengah Kekayaan yang Salah Eja: Saat Ilmu Tak Lagi Jadi Panglima
  • Khofifah Dukung Haul ke-57 KH M Ali Manshur Shiddiq di Tuban, Kenang Jasa Sang Pencipta Sholawat Badar
  • Penutupan Rakernas APEKSI 2026 di Medan, Eri Cahyadi Tegaskan Seluruh Wali Kota Siap Kawal Program Strategis Presiden Prabowo
  • Gubernur Khofifah Sambut Kloter Terakhir Haji Surabaya, Bandara Dhoho Kediri Siap Jadi Embarkasi Baru Musim 2027
  • UNAIR Gandeng Taiwan Buka Program Dual Degree Berbasis Industri, Mahasiswa Bisa Magang Gaji Besar
  • ITS Terjunkan 207 Mahasiswa KKN Literasi 2026, Fokus Siapkan Masyarakat Hadapi Tantangan Era AI
  • Hari Bhayangkara Ke-80, Polda Jatim Tegaskan Komitmen Tingkatkan Profesionalisme dan Pelayanan Humanis untuk Masyarakat
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»PERISTIWA»Menolak Waras di Tengah Kekayaan yang Salah Eja: Saat Ilmu Tak Lagi Jadi Panglima

Menolak Waras di Tengah Kekayaan yang Salah Eja: Saat Ilmu Tak Lagi Jadi Panglima

PERISTIWA Ita Nasyi’ah03/07/2026 - 13:08 WIB
Gus Bahar menyampaikan refleksi tentang "Kekayaan yang Salah Eja", yakni kritik terhadap budaya materialisme yang mengabaikan ilmu, adab, dan kekayaan batin sebagai fondasi kehidupan.

Kekayaan yang Salah Eja menjadi cerminan kritik terhadap cara pandang masyarakat modern yang kian menyederhanakan makna kesuksesan. Di ruang publik, terutama media sosial dan berbagai forum diskusi, seseorang kerap dianggap telah “selesai dengan dirinya” ketika berhasil mengumpulkan kekayaan materi, memiliki aset melimpah, menikmati status sosial tinggi, atau mampu memenuhi seluruh kebutuhan finansial tanpa hambatan.

Pandangan tersebut menunjukkan adanya penyempitan makna keberhasilan hidup. Ukuran kesuksesan bergeser menjadi sekadar persoalan angka dalam rekening, kepemilikan properti, maupun simbol-simbol kemapanan lainnya. Akibatnya, dimensi ilmu, moral, dan kedewasaan batin perlahan tersisihkan dari tolok ukur kehidupan.

Sebagai bagian dari lingkungan pesantren yang sejak awal berdiri untuk membangun tradisi keilmuan, penulis memandang fenomena tersebut sebagai kegelisahan bersama. Generasi masa kini dinilai semakin mudah terpesona oleh kemewahan materi, tetapi kurang memberi perhatian terhadap ilmu yang semestinya menjadi penuntun dalam mengelola kekayaan.

Akar persoalan ini berawal dari berubahnya cara memandang fungsi harta. Dalam pandangan Islam, harta merupakan wasilah atau sarana. Namun dalam praktik kehidupan modern, harta kerap berubah menjadi tujuan akhir. Banyak orang beranggapan bahwa ketika kekayaan berhasil dikumpulkan, maka kebahagiaan, kehormatan, dan ketenangan akan datang dengan sendirinya.

Padahal, anggapan tersebut tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Penulis mengibaratkannya seperti sebuah kapal pesiar mewah yang memiliki mesin terbaik, bahan bakar melimpah, serta fasilitas lengkap, tetapi tidak dilengkapi kompas, peta, maupun kemampuan navigasi. Ketika kapal itu memasuki lautan luas, kemewahan tidak akan mampu menyelamatkannya dari bahaya apabila sang nakhoda kehilangan arah.

Analogi tersebut menggambarkan bahwa harta tanpa ilmu ibarat energi yang tidak memiliki kendali. Kekayaan memang dapat menjadi sumber keberkahan apabila dikelola dengan bijaksana. Namun sebaliknya, harta juga dapat berubah menjadi sumber kesombongan, kecemasan, bahkan kerusakan apabila tidak diarahkan oleh ilmu.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang justru terbebani oleh kekayaannya sendiri. Mereka terus dihantui rasa takut kehilangan aset, sibuk menjaga citra di hadapan publik, hingga berlomba mempertontonkan kemewahan demi memperoleh pengakuan sosial. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kelimpahan materi belum tentu menghadirkan ketenangan jiwa.

Tradisi keilmuan pesantren sejak lama memandang bahwa ukuran seseorang telah “selesai dengan dirinya” bukan ditentukan oleh besarnya kekayaan, melainkan oleh kemampuan mengendalikan hawa nafsu melalui ilmu. Ketenangan batin atau tuma’ninah menjadi indikator utama ketika seseorang mampu menempatkan dunia secara proporsional.

Nilai tersebut sejalan dengan ajaran yang selama ini diwariskan para ulama bahwa kekayaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, melainkan pada jiwa yang merasa cukup. Orang yang memiliki kekayaan batin tidak mudah diperbudak keinginan duniawi, sedangkan mereka yang miskin secara batin akan terus merasa kurang meskipun memiliki kekayaan berlimpah.

Dalam konteks tersebut, ilmu berfungsi sebagai pengendali keinginan. Ilmu mengajarkan kapan seseorang harus mengejar cita-cita dan kapan harus menahan diri agar tidak terjerumus pada keserakahan.

Penulis juga membandingkan karakter dasar antara harta dan ilmu. Harta merupakan sesuatu yang harus dijaga melalui berbagai cara, mulai dari sistem keamanan hingga perlindungan hukum. Sebaliknya, ilmu justru menjaga pemiliknya. Ilmu membantu seseorang mengambil keputusan secara bijaksana, menghindarkan dari kesalahan, sekaligus menjadi penerang ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Perbedaan lainnya terlihat ketika keduanya dibagikan kepada orang lain. Harta akan berkurang apabila diberikan, sedangkan ilmu justru berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas ketika diajarkan kepada sesama.

Karena itu, penulis menegaskan bahwa solusi menghadapi budaya materialisme bukanlah membenci kekayaan ataupun memilih hidup dalam kemiskinan. Islam tidak mengajarkan sikap antipati terhadap dunia. Kekayaan tetap memiliki nilai positif apabila diperoleh dan dimanfaatkan secara benar.

Persoalan muncul ketika harta menguasai hati, sementara ilmu tidak lagi menjadi pedoman. Dalam kondisi seperti itu, manusia berpotensi kehilangan arah dan menjadikan materi sebagai ukuran utama dalam menentukan nilai seseorang.

Penulis mengajak masyarakat untuk mengembalikan ilmu sebagai panglima kehidupan. Generasi muda diharapkan tidak hanya berfokus mengejar simbol-simbol kemapanan, tetapi juga memperkuat fondasi ilmu agar mampu menggunakan kekayaan secara bertanggung jawab.

Melalui analogi lain, penulis menggambarkan harta sebagai sepasang kaki yang memungkinkan manusia bergerak cepat. Namun tanpa mata yang mampu melihat arah, langkah yang cepat justru berisiko membawa seseorang menuju jurang kehancuran. Dalam perumpamaan tersebut, ilmu berperan sebagai mata yang memberikan petunjuk dan arah.

Selain ilmu, adab juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Menurut penulis, ilmu tidak akan memberikan manfaat apabila hati masih dipenuhi kesombongan, riya, dan kerakusan terhadap dunia. Adab berfungsi membersihkan hati agar siap menerima cahaya ilmu sekaligus menjaga ilmu agar tidak berubah menjadi alat pemuas ego maupun sarana memperoleh kekuasaan semata.

Pada akhirnya, penulis mengajak masyarakat untuk membangun kembali standar sosial yang tidak semata-mata mengagungkan kekayaan materi. Seseorang dinilai benar-benar selesai dengan dirinya ketika mampu menata hati melalui adab, memperkaya diri dengan ilmu, lalu menjadikan harta sebagai pelayan iman, bukan sebagai penguasa kehidupan.

Warisan nilai yang hidup di lingkungan pesantren tersebut diharapkan tetap menjadi kompas moral di tengah derasnya arus materialisme modern, sehingga manusia mampu menggenggam dunia di tangannya tanpa membiarkan dunia menguasai hatinya. (ita)

Adab Gus Bahar Ilmu Kehidupan Kekayaan yang Salah Eja Materialisme Moral Nilai Keislaman Opini pendidikan Pesantren Pesantren Salafiyah Seblak
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

ETF Emas Segera Hadir di Pasar Modal Indonesia, Ini Keunggulan dan Cara Investasinya

03/07/2026 - 13:16 WIB

Khofifah Dukung Haul ke-57 KH M Ali Manshur Shiddiq di Tuban, Kenang Jasa Sang Pencipta Sholawat Badar

02/07/2026 - 22:36 WIB

Penutupan Rakernas APEKSI 2026 di Medan, Eri Cahyadi Tegaskan Seluruh Wali Kota Siap Kawal Program Strategis Presiden Prabowo

02/07/2026 - 22:31 WIB

Gubernur Khofifah Sambut Kloter Terakhir Haji Surabaya, Bandara Dhoho Kediri Siap Jadi Embarkasi Baru Musim 2027

02/07/2026 - 22:29 WIB

UNAIR Gandeng Taiwan Buka Program Dual Degree Berbasis Industri, Mahasiswa Bisa Magang Gaji Besar

02/07/2026 - 22:25 WIB

ITS Terjunkan 207 Mahasiswa KKN Literasi 2026, Fokus Siapkan Masyarakat Hadapi Tantangan Era AI

02/07/2026 - 22:22 WIB

Comments are closed.

ETF Emas Segera Hadir di Pasar Modal Indonesia, Ini Keunggulan dan Cara Investasinya

03/07/2026 - 13:16 WIB

Menolak Waras di Tengah Kekayaan yang Salah Eja: Saat Ilmu Tak Lagi Jadi Panglima

03/07/2026 - 13:08 WIB

Khofifah Dukung Haul ke-57 KH M Ali Manshur Shiddiq di Tuban, Kenang Jasa Sang Pencipta Sholawat Badar

02/07/2026 - 22:36 WIB

Penutupan Rakernas APEKSI 2026 di Medan, Eri Cahyadi Tegaskan Seluruh Wali Kota Siap Kawal Program Strategis Presiden Prabowo

02/07/2026 - 22:31 WIB

Gubernur Khofifah Sambut Kloter Terakhir Haji Surabaya, Bandara Dhoho Kediri Siap Jadi Embarkasi Baru Musim 2027

02/07/2026 - 22:29 WIB

UNAIR Gandeng Taiwan Buka Program Dual Degree Berbasis Industri, Mahasiswa Bisa Magang Gaji Besar

02/07/2026 - 22:25 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.