Universitas Airlangga (UNAIR) secara masif terus memperluas jangkauan jaringan akademik internasional demi membuka peluang karier global yang menjanjikan bagi para mahasiswanya. Langkah strategis teranyar diwujudkan melalui penguatan kolaborasi program dual degree dan mobilitas mahasiswa yang terintegrasi langsung dengan ekosistem industri di Taiwan. Kerja sama komprehensif ini dirancang khusus untuk memadukan keunggulan akademik universitas dengan pengalaman profesional nyata di berbagai korporasi multinasional.
Hubungan kerja sama antara institusi pendidikan tinggi ini sejatinya telah mengakar kuat dalam menghasilkan lulusan magister hingga doktor. Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni UNAIR, Prof. Ir. Mochammad Amin Alamsjah, M.Si., Ph.D., mengungkapkan bahwa penguatan skema dual degree berbasis industri ini akan menjadi akselerator penting bagi mahasiswa untuk membangun portofolio karier internasional sejak dini. Kesepakatan ini dapat diaplikasikan baik dalam payung kemitraan tingkat universitas maupun antar-fakultas secara spesifik.
Untuk mengakomodasi kebutuhan mahasiswa, skema mobilitas yang ditawarkan terbagi menjadi tiga kategori utama. Prof. Amin merinci skema tersebut meliputi pola 3+1 untuk jenjang sarjana, format 2+2 bagi mahasiswa diploma, serta program inovatif 3+1+i yang secara khusus menitikberatkan pada program internship atau magang terpadu. Agar status mobilitas ini sah bertransformasi menjadi program dual degree, proses penyetaraan ijazah secara legal formal akan didukung penuh melalui nota kesepahaman (MoU) atau perjanjian kerja sama (MoA) yang disepakati oleh kedua belah pihak.
Kombinasi antara sektor akademis dan korporasi ini sengaja dibentuk demi menjawab dinamika serta kebutuhan riil pasar kerja global yang terus bergerak dinamis. Kasubdirektorat Global Reputation and International Mobility Direktorat Airlangga Global Engagement (AGE), Tahta Amrillah, S.Si., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa sektor-sektor yang menjadi fokus utama dalam kolaborasi ini mencakup industri strategis masa depan, seperti teknologi informasi, manufaktur semikonduktor, ekonomi, hingga ilmu bisnis. Melalui kluster bidang tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas melainkan langsung bersentuhan dengan teknologi mutakhir di Taiwan.
Guna menjaga kualitas lulusan, UNAIR menetapkan standarisasi dan persyaratan yang ketat bagi para calon pendaftar. Mahasiswa yang berminat diwajibkan memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,00, menguasai dasar bahasa Mandarin yang dibuktikan lewat sertifikat resmi, serta memiliki kecakapan bahasa Inggris dengan standar minimal TOEFL iBT 42, TOEFL ITP 460, atau TOEIC 550. Seleksi ketat ini dilakukan untuk memastikan mahasiswa mampu beradaptasi dengan baik di lingkungan kerja internasional.
Di sisi lain, para mahasiswa yang berhasil lolos seleksi akan diganjar dengan berbagai fasilitas premium yang menjamin kenyamanan studi mereka selama berada di Taiwan. Komponen pembiayaan yang ditanggung meliputi beasiswa biaya kuliah, asrama gratis, hingga tunjangan biaya hidup bulanan. Dukungan finansial yang solid ini sengaja diberikan agar para peserta program dapat memfokuskan seluruh energinya untuk menyerap ilmu dan meningkatkan daya saing tanpa perlu mengkhawatirkan beban finansial.
Keunggulan utama dari program ini terletak pada fase pasca-pembelajaran di universitas mitra. Selepas menyelesaikan masa studi teori, mahasiswa akan difasilitasi untuk langsung terjun ke dunia kerja melalui program magang di perusahaan mitra selama satu tahun penuh. Tahta Amrillah menegaskan bahwa posisi magang yang ditempati bukanlah pekerjaan kasar, melainkan posisi pekerja kerah putih (white-collar worker) atau profesional dengan kompensasi gaji yang sangat kompetitif. Bagi mahasiswa aktif yang tertarik mengambil kesempatan emas ini, seluruh informasi mengenai detail skema, persyaratan lengkap, dan tata cara pendaftaran sudah dapat diakses secara terbuka melalui situs resmi INTACT Base di laman https://intactbase.csu.edu.tw/. (ita)

